Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
209 Bisa Macam-macam


Dhea membuka matanya perlahan, merasakan mual dan langsung muntah kembali tanpa sempat ke kamar mandi.


"Tidak apa, nanti akan ada yang membersihkan."


"Aku sakit apa?"


"Kamu tidak sakit, tapi akan menjadi seorang mommy."


"Aku hamil?"


"Iya."


"Oh, berarti yang tadi pagi itu, flek, ya?"


Beruntunglah Dhea dulu pernah membaca banyak buku kedokteran, jadi lebih mudah memahami situasi.


"Sayang, aku ...." Vean bingung bagaimana cara mengatakannya.


"Aku mau kamu berhenti kerja dulu, untuk sementara waktu saja ...."


"Iya."


"Hah?"


"Iya. Aku berhenti kerja dulu, harus bed rest, ya?"


Vean memandang yang lainnya. Dia pikir akan sulit menjelaskan dan meminta pada istrinya agar mau menurut, ternyata dugaannya salah. Kedua orang tua Vean merasa lega, memiliki menantu yang seperti Dhea.


"Tapi aku tidak perlu di rumah sakit terus, kan? Bosan."


"Tidak. Setelah konsultasi dengan dokter kandungan, kamu bisa kembali ke rumah. Ingat, harus bed rest."


"Iya, Pa." Dhea dan Arya kini sudah membiasakan diri memanggil dokter Bram dengan sebutan papa, dan Bianca dengan sebutan mama.


"Kamu makan dulu, ya."


"Enggak, aku mual."


"Kalau begitu, kamu mau makan apa? Jangan sampai tidak makan."


"Makan salad saja, ya. Mau Kak Juna yang petikan sayurnya di kosan."


"Dhea, aku dokter, bukan tukang kebun."


"Juna!"


"Ya ya ya, demi adek ketemu gede. Apa pun akan Abang lakukan."


...💦💦💦...


Keesokan paginya, Dhea sudah boleh pulang setelah satu malam menginap di rumah sakit. Vean juga memutuskan untuk tidak kerja ke perusahaan, biar bekerja di rumah saja.


Erza lah yang akhirnya lebih sibuk lagi.


"Bagas, kamu bantu Erza, ya."


"Siap, Bang."


Mendengar itu, Erza bernafas lega. Sekarang dia paham dan mengerti, ada untungnya juga tinggal dekat mereka, bisa saling membantu dengan cepat.


"Kak Dhea jangan kelelahan. Biar kami yang masak."


"Enggak apa. Kan ada bi Tuti yang membantu."


Vean membuka jendela kamar besar-besar, agar udara bisa masuk.


"Sindrom couvade," ucap dokter Bram.


Juna tertawa kencang.


"Apa itu Om? Aku sakit parah?" Mata Vean sudah berkaca-kaca. Dhea bukannya merasa kasihan, malah ikut tertawa.


"Itu kehamilan simpatik, Kak. Bukan penyakit parah."


"Kehamilan simpatik?"


"Iya, aku yang hamil, Kak Vean yang merasakan ngidam. Mual muntah atau menginginkan sesuatu, begitu. Bisa juga Kak Vean yang pusing-pusing. Ya pokoknya kaya orang hamil, lah. Kecuali perutnya gak membesar, ya."


Mereka tertawa mendengar penjelasan Dhea.


"Kalian berdua istirahat saja. Juna, kamu di sini saja, jaga mereka."


"Aku dok ...."


"Ya ya ya, kamu dokter, dan tugas kamu menjaga kesehatan mereka di sini. Kamu juga bekerja di sini saja, Arya."


"Iya, Pa."


Ternyata tepat sekali keputusan dokter Bram. Begitu dokter Bram pergi ke rumah sakit, Vean muntah-muntah sampai pingsan.


"Bi, tolong masakin sop, ya."


"Baik, Tuan."


Bianca dan Friska akhirnya datang membawakan banyak makanan.


"Vean, Vean. Bukannya jagain istri, malah pingsan," ucap Friska pada Vean ketika pria itu sadar.


"Mendingan Vean yang pingsan, daripada Dhea."


"Iya juga, sih."


Vean rela merasakan semua itu, asal bukan Dhea. Dia tidak mau Dhea yang merasakan sakit atau apalah itu.


"Maafkan aku ya, Kak."


"Kenapa malah kamu yang minta maaf. Aku yang seharusnya minta maaf, karena malah bikin kamu khawatir."


"Kak Vean mau makan apa?"


"Kedondong enak kali, ya. Minta Juna yang nyari."


Juna langsung menghela nafas. Dia lalu ke tukang rujak, memborong semua kedondong yang ada di situ.


"Minta nomor ponselnya, Pak. Kalau saya tiba-tiba butuh buah, bapak yang nyari, nanti saya kasih uangnya."


"Siap, Mas."


"Ingat, Pak. Buahnya harus ada. Adik saya lagi hamil muda. Biasanya orang hamil, mintanya buah apa saja?"


"Ya bisa macam-macam."


"Nah, Bapak cari deh tuh, pohonnya, atau di mana ada yang jual buah yang macam-macam itu."


Di tukang buah manggut-manggut, sambil berpikir, buah apa yang kira-kira akan diinginkan.


"Kalau buah mengkudu, saya ada pohonnya, tuh."


Juna melirik si tukang buah, pria itu memakan pepaya dengan kesal.