Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
233 Sandaran Hidupmu


Malam ini diadakan pesta penyambutan untuk dokter Petter dan keluarga kecilnya. Mereka menyalakan api unggun di taman, membakar seafood dan umbi-umbian, juga jagung.


Dokter Petter tidak pernah menyangka, akan disambut sampai semeriah ini, dan sangat kekeluargaan oleh Dhea, sahabat-sahabatnya, juga keluarga besar mereka.


Bagi yang belum mengenal dekat dengan dokter Petter, mereka bisa lebih mengenal dokter itu. Kehadiran dokter Petter membuat Dhea senang. Apalagi ada anak dokter Petter yang menggemaskan.


"Faustin dan Yuki ditidurkan ke kamar saja, Kak."


"Tapi mata Faustin masih segar banget, ini."


Dokter Stevie menggendong Yuki, sedangkan Dhea menggendong Faustin. Mereka memang sangat akrab saat di Swiss dulu. Dokter Stevie yang tidak pernah marah saat orang-orang berpikir kalau dia dan dokter Petter berpacaran. Ya, saking dekatnya dulu Dhea dengan dokter Petter.


"Bahasa Indonesia kalian akan semakin lancar jika tinggal di sini. Akan ada banyak yang mengajari."


"Benar. Makanan di sini juga enak-enak, ya."


"Oya, Kak Juna juga punya klinik di sini."


"Benarkah?"


"Hm. Dulu, tempat ini tidak seperti ini."


"Memangnya dulu seperti apa?"


"Sepi. Tidak ada minimarket di sana, klinik juga tidak ada."


Fio yang hanya diam mendengarkan, mulai bersandar pada pundak Juna.


"Heh, aku bukan sandaran hidupmu."


"Ck. Romantis dikit, kek."


Fio melihat Vean yang mengupas kulit udang untuk Dhea, juga menyuapi Yuki yang belum tidur.


"Karena dia bertemu dengan perempuan yang tepat. Hancur hatimu ... mengenang dia ... menjadi keping-keping ... sejak dia tinggal pergi ...."


Fio mendelik kesal pada Juna. Lalu gadis itu menatap Arya, sedangkan Arya yang merasa diperhatikan, langsung membuang muka.


Anak-anak panti juga berkumpul bersama di satu sisi. Setiap ada acara, mereka tidak pernah dilupakan.


Andai saja para orang dewasa itu tahu, kalau biasanya anak-anak panti berharap akan ada orang tua asuh yang mengadopsi mereka, tapi anak-anak di sini, berharap mereka akan di sini saja. Mereka merasa sudah memiliki kedua orang tua, kakak, adik, om, dan tante.


Bagi mereka, untuk apa mengharapkan keluarga yang belum tentu benar-benar baik. Lebih enak yang pasti-pasti saja. Toh sekolah mereka sudah terjamin. Setelah lulus, mereka bisa bekerja di tempat Dhea, Vean dan sahabat-sahabat Dhea.


"Terima kasih, sudah menjaga Dhea dengan sangat baik," ucap dokter Bram.


Pria tua yang masih sangat tampan dan gagah itu, mengucapkannya dengan sangat tulus. Dia lah yang sebenarnya menarik dokter Petter dan istrinya ke rumah sakit miliknya. Dia tahu, Dhea memiliki ikatan yang khusus dengan dokter Petter dan dokter Stevie.


Anak-anak kecil mulai menguap. Begitu juga dengan Faustin dan Yuki.


"Faustin tidur sama Yuki saja, Kak. Biar gampang dijaga."


Dhea dan Stevie membawa kedua anak itu ke kamar Yuki. Dokter Stevie melihat kamar Yuki yang sangat nyaman, dan tentunya aman untuk anak-anak.


"Wah, aku juga mau bikin kamar untuk Faustin seperti ini."


"Oke, besok dibikinin."


"Eh?"


Dhea tertawa saja melihat ekspresi dokter Stevie. Kedua anak itu langsung tidur begitu menyentuh kasur empuk, yang pinggirannya langsung dipasang pagar pembatas oleh Dhea.


"Mereka tidak akan jatuh. Ayo, ada bibi yang akan menjaga mereka, jangan khawatir."


"Tunggu, aku mau memfoto mereka. Buat kenang-kenangan. Mereka lucu banget, sih."