
"Dhea ... Dhea ...."
"Vean ...."
"Dhea ...."
"Vean!"
"Dhea!"
Vean membuka matanya dengan keadaan terkejut, dan langsung menatap ke sekeliling. Dilihatnya orang-orang yang sedang mengerumuni dirinya dengan wajah panik.
"Ma, Dhea di mana, Ma?"
"Dia ada di ruang ICU."
Deg
Jantung Vean berdetak kencang, kenapa lagi-lagi dia harus merasakan hal ini? Kenapa Dhea-nya harus ada di ruangan terkutuk itu? Vean langsung berdiri, berlari memasuki rumah ICU dengan terburu-buru.
Deg
Jantungnya seolah berhenti.
Dilihatnya Dhea yang sedang tidur dengan peralatan penunjang kehidupan.
Tapi ....
Kenapa?
Yang dilihatnya memang Dhea, tapi bukan Dhea yang seorang anak perempuan kecil dan lucu, tapi Dhea dewasa. Dhea yang selalu mengatakan cinta dan telah berkorban banyak untuknya.
"Ma ... Mama!" teriak Vean memanggil mamanya.
"Kenapa, ada apa?"
Mereka bergegas masuk ke dalam ruangan ICU, takut terjadi sesuatu yang buruk karena mendengar suara teriakan Vean.
"Dhea mana, Ma?"
"Dhea?"
"Ini, Dhea."
"Iya, ini Dhea. Tapi Dhea anakku, Ma. Mana?"
"Anak?"
"Vean, bagaimana bisa kamu punya anak dalam waktu satu malam saja? Kamu bahkan belum menikah."
"Dhea ...."
Vean lalu mendekati brankar Dhea. Menyentuh tangan gadis itu, dan terasa nyata baginya. Vean masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia semakin menggenggam erat tangan Dhea, merasakan kulit tangan Dhea di kulit tangannya sendiri.
Vean menunduk, tubuhnya bergetar kuat. Nafasnya tersengal, antara rasa panik, bingung, lega dan semua hal bercampur menjadi satu. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.
Vean mengusap tangan Dhea, lalu keningnya. Merasakan suhu tubuh Dhea di tangannya yang dingin dan gemetaran.
Bahkan Vean—secara perlahan—mengusap pipi gadis dewasa itu, menyentuh hidung dan bibirnya, menyentuh mata dan alisnya. Mengusap rambutnya. Tidak ada yang terlewat sedikit pun.
Vean lalu keluar dari kamar ICU, melihat cermin yang ada di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda kalau dia baru saja mengalami kecelakaan. Tidak ada luka fisik sedikit pun, bahkan hanya sekedar goresan kecil saja.
Prang
"Aaa!"
"Vean, apa yang kamu lakukan!"
Mereka terlonjak kaget saat Vean memecahkan cermin dengan kepalan tangannya.
Ini sakit, dan berdarah. Jadi semua ini nyata? Bukan mimpi? Doa tidak mau lagi ditipu, meski semau ini terasa membingungkan baginya.
"Vean ...."
Vean tidak mendengar teguran Fio, pria itu langsung pergi ke taman. Berjalan dengan terburu-buru meski darah segar keluar dari kelana tangannya. Doa tidak peduli, bahkan dia sangat menikmati rasa sakit itu.
Rasa sakit ini—baginya—menandakan kalau semua ini memang nyata. Benar, lebih baik dia merasakan kesakitan yang seperti ini saja. Lebih baik dia mengeluarkan banyak darah. Lebih baik dia seperti ini, asal semua yang dia lihat di dalam ruang ICU itu memang nyata. Bukan tipu-tipu.
Tapi, benarkan ini bukan tipu-tipu?
Vean kembali duduk sendirian di sana. Dia menangis, sambil mengucap syukur berkali-kali.
Syukurlah
Syukurlah
Air matanya bercampur dengan air hujan, dia menepuk-nepuk dadanya, merasakan debaran jantung yang berdetak kencang, dan tetap duduk di sana sampai hujan kembali berhenti. Tidak peduli dengan apa pun.
Juna dan Arya hanya melihat dia dari belakang, merasa iba, merasa apa yang dialami pria itu begitu menyakitkan, sebelum akhirnya keduanya menghampiri pria itu.
"Kamu baik-baik saja?" Tentu saja itu hanya pertanyaan basa-basi saja.
Vean tidak baik-baik saja. Sejak dia mengetahui kenyataan itu, dia tidak pernah baik-baik saja.
...💕💕💕...