Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
247 Iringan Mobil


Dhea meringis, ingin tertawa tapi juga kesal.


"Kamu ini bicara apa, Vean! Ada-ada saja," ucap Candra.


"Yuki ini masih kecil. Masih memerlukan waktu belasan sampai dia puluh tahunan lagi!"


"Itu sebentar, Pa. Papa sendiri sering bilang ke mama, kan, kalau tidak terasa Vean sudah menikah dan kita memiliki cucu, padahal rasanya baru kemarin kita melihat dia lahir ke dunia ini! Begitu, kan!"


Candra dan Bram jadi diam. Memang benar juga sih, apa yang dikatakan oleh Vean.


Dokter Petter dan dokter Stevie jadi ikut membayangkan, kan!


"Sudah, sudah. Kenapa malah memikirkan itu. Penuh baik kain semua berikan saya cucu-cucu yang banyak," ucap dokter Bram.


Semua kembali bekerja, merapihkan apa yang berantakan.


"Petugas kebersihan sirih datang, ambil sampah-sampah ini. Jangan terlalu lama dibiarkan di sini, banyak anak-anak, nanti mereka bisa sakit."


Bagas segera menghubungi petugas kebersihan yang biasa mengambil sampah para warga dengan mobil truk.


Selesai beres-beres, mereka mandi dan makan siang bersama. Duduk lesehan di bawah pohon dengan angin yang bertiup pelan.


"Sejak kami tinggal di sini, berat badan kami jadi bertambah banyak," ucap dokter Stevie.


Mereka tertawa saja.


"Faustin juga sangat betah tinggal di sini, banyak temannya."


💦💦💦


Senin pagi, saat yang paling berat karena harus memulai aktivitas di awal minggu. Suara-suara mulai terdengar di sekitar. Ada yang memanaskan mesin mobil, ada yang memanggil pedagang makanan, ada juga yang berteriak bertanya di mana kunci mobilnya.


"Nanya kunci mobil kok, ke tetangga!" ucap Felix menyahuti Steve.


Sudah tidak aneh lagi. Justru yang sepi itu akan terasa aneh, seperti kuburan.


Dhea menyiapkan bekal untuk Vean, juga untuk Yuki karena anaknya akan dibawa kerja oleh Vean.


"Memangnya gak apa kalau bawa Yuki?"


"Sudah aku siapkan semuanya, Kak. Kalau kerepotan, hubungi aku langsung, nanti aku datang."


"Aku senang kalau ada Yuki, jadi semangat kerjanya. Kan ada Bagas, Arya sama Erza juga di sana."


"Ya sudah, lah."


Dhea mencium pipi Yuki dengan gemas.


"Yuki ikut daddy kerja, ya."


"Yuki mau ke mana?" tanya Faustin.


"Yuki mau ikut Daddy-nya kerja."


"Ikut."


"Eh, Faustin, gak boleh. Nanti Uncle Vean repot."


"Faustin mau ikut?" tanya Vean.


Bocah laki-laki itu mengangguk cepat.


"Ya sudah, ayo ikut. Nanti main sama Yuki, ya."


"Jangan, nanti merepotkan."


"Enggak, kok. Nanti kan bisa main sama Yuki. Yuki juga pasti senang. Kamu siapkan saja kebutuhan Faustin yang harus dibawa."


Vean tahu Faustin tidak akan merepotkan. Bahkan dia akan ikut menjaga Yuki. Anak laki-laki berwajah bule itu meloncat kegirangan, karena bisa ikut bersama Yuki.


Mereka semua akhirnya beriringan keluar dari gang itu, yang mendapatkan hormat dari sekuriti yang berjaga di depan gang. Di pos jaga, sudah ada sarapan gorengan dan kopi yang dibuat oleh salah satu anak panti.


Para sekuriti itu benar-benar menjaga keamanan komplek. Karena sejak para bos besar itu tinggal di sini, pekerjaan mereka jadi lebih terjamin, tidak lagi merasa cemas akan pemecatan.


Iring-iringan mereka berpisah di perempatan jalan. Saling membunyikan klakson dan akan berkumpul lagi saat pulang kerja nanti.