
"Seharusnya Dhea tidak perlu mengorbankan apa-apa untuk orang-orang yang tidak bisa menghargainya. Seharusnya dia bisa lebih bahagia dari ini. Dia berhak mendapatkan yang terbaik bagi dirinya. Bukan orang-orang seperti kalian yang selalu merendahkannya." Arya menatap sinis pada Fio dan mamanya.
Fio semakin menundukkan wajahnya. Perasaan bersalah, berterima kasih, juga penyesalan memenuhi pikirannya.
"Seandainya pun Dhea tidak mendonorkan darah dan ginjalnya, Anda tidak berhak menghinanya seperti itu. Anda begitu takut Dhea merebut Vean dari anak Anda, padahal Dhea tidak pernah lagi menemui mereka. Bukankah itu berarti Anda mengakui kalau Dhea memang lebih segalanya dari anak Anda?"
Deg
Benar juga apa yang dikatakan Arya.
Fio menatap Arya, lalu menatap Juna dan Vean. Jika dibandingkan dengan Dhea, dia sadar kalau dirinya tidak sepintar dan semandiri Dhea. Dia selalu bisa mendapatkan apa yang dia mau dari kedua orang tuanya. Jalan-jalan ke luar negeri, membeli barang-barang branded, makan makanan enak, tidur di tempat yang nyaman. Tapi dia tidak bisa seperti Dhea, yang mampu bekerja keras secara fisik, yang mampu menghapal ini itu dengan cepat, yang bisa selalu mengandalkan beasiswa untuk bersekolah bahkan di sekolahan elit.
Dhea tidak pernah mengeluh kepanasan. Tidak pernah merengek saat kedinginan. Tidak pernah kesal saat harus menahan lapar sebentar saja.
Seperti yang selalu Arya katakan ....
Fio adalah gadis manja.
Yang membuat dia lebih unggul dari Dhea hanya karena dia memiliki kedua orang tua, dan kaya.
Bram menatap Vean yang masih duduk di lantai menutupi wajahnya. Dia tahu keponakannya itu sangat terpukul dengan fakta ini. Dia tadinya ingin menutupi semua rahasia ini seumur hidupnya, bahkan dari anak istrinya. Melihat Vean yang seperti ini, dia menjadi tidak tega. Vean berhak tahu siapa yang mendonorkan ginjal untuk dirinya.
Bram menghela nafas berkali-kali. Kalau saja saja Dhea tidak dilarikan ke rumah sakit, mungkin rahasia ini akan dibawa mati.
Dokter Bram menatap Vean dan Juna bergantian.
Vean mengangkat wajahnya, menatap Bram dan Juna, lalu Arya.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang juga, Mila!" usir dokter Bram.
Mila langsung menggelengkan kepalanya. Melihat mereka yang seolah memusuhi dirinya. Dia menjadi penjahat di mata mereka.
"Ron, bawa istri kamu pergi dari sini."
"Tidak, tidak, aku minta maaf, Bram. Tolong jangan suruh aku pergi."
Bram kembali menatap Vean, seolah banyak sekali yang ingin dia katakan. Dia bisa melihat kegelisahan dari Vean. Pikirannya pasti sedang berkecamuk saat ini.
"Kamu ... jangan pernah kamu berpikir untuk menerima dia karena balas budi, karena bukan itu keinginannya. Dan karena tidak mau dicintai karena balas budi, maka dia menutupi semuanya. Jangan lagi kamu sakiti dia karena merasa bersalah! Karena mulai sekarang, Dhea akan berada di bawah perlindungan Om." Dia lalu menatap Candra, Friska, Ronald lalu Mila. Berkata melalui tatapan mata kalau mereka berani menyakiti Dhea, maka akan berhadapan dengan dia, terutama Mila.
"Kamu beruntung Vean ...."
Vean sedikit menegakkan tubuhnya.
"Kamu beruntung dicintai seperti itu oleh seseorang. Dia benar-benar tulus mencintai kamu, tanpa mengharapkan imbalan apa pun ...." Pria itu menatap manik mata keponakannya.
"Sayangnya saja kamu bodoh menyia-nyiakan dia, atau pura-pura tidak tahu!"
"Kamu beruntung, tapi juga bodoh!" ucap dokter Bram sekali lagi, mengusik sudut hati Vean.