
πΉ
πΉ
πΉ
Hari terus berlalu dan hari perpisahan pun tiba. Mereka sudah berkumpul di lapangan sekolah. Sudah ada panggung untuk pertunjukan dan tenda+kursi untuk para penonton.
"Ka Revin,,!" panggil Baim ketos baru.
"Kenapa." sahut Revin datar.
"Salah satu dari grup dance ada yang nggak hadir. Gimana dong.??" tanya Baim.
"Kenapa lu baru laporan sekarang. Sedangkan acaranya aja udah mau di mulai." kata Revin dingin.
"Sorry. Bocahnya baru kabarin ke gue klo dia nggak bisa hadir karena sakit." jelas Sisil salah satu dari grup dance.
"Di antara kalian ada yang bisa dance nggak?" tanya Revin pada mereka yang berada di situ.
"Jani,,!!" seru Mia sambil menunjuk ke arah Jani.
Uhuuk...uhuukk...uhuukk...
Jani yang sedang menikmati minumannya pun langsung tersedak mendengar seruan Mia.
"Lu tuh ya,,klo ngomong nggak di fliter dulu. Nggak,nggak,,gue nggak bisa." kata Jani menolak.
"Betul juga tuh kata Mia. Lu kan pintar dance." kata Vani.
"Iya,lu juga pernah jadi juara dance." sahut Fani.
"Apaan sih kalian. Gue nggak bisa... Lagi pula itu kan udah lama.. Gerakan gue juga pasti udah kaku." kata Jani yang masih kekeh untuk menolak.
"Bohong banget. Sebelum lu pindah sekolah ke sini. Lu sering banget juara dance di sekolah lu di Paris." kata Vino.
Jani membulatkan matanya. Ia terlonjak kaget mendengar perkataan Vino. Karena selama ia sekolah di luar negeri. Dirinya jarang banget bercerita tentang kehidupannya di sana. Jadi dari mana temannya itu bisa tahu. Bahwa dirinya sering banget menjadi juara dance di sekolahnya dulu.
"Ma-mana ada. Lu nggak usah ngarang deh." kata Jani gugup.
"Yaudah sekarang gini aja deh. Yang setuju Jani gantiin grup dance yang nggak hadir acungkan telunjuk kalian ke atas." kata Fero.
Hampir semua yang berada di situ mengacungkan telunjuk. Hanya Jani dan Revin yang tidak mengacungkan telunjuknya.
"Udah cukup jelaskan. Mereka semua pada setuju." kata Aldi.
"Nggak usah aneh deh. Mereka semua udah pada latihan jauh-jauh hari. Lah sedangkan gue?? Pokoknya gue nggak mau." kekeh Jani yang masih menolak.
"Gue yakin lu pasti bisa. Waktunya masih cukuplah buat lu latihan." kata Vino.
"Ayolah ka. Mau ya.!!" mohon waketos baru.
"Tolonglah ka. Ini kan juga demi acara kita supaya berjalan lancar dan memberikan hiburan untuk mereka semua yang berada di sini." kata Sisil.
"Tapi--" ucapan Jani di sela oleh perkataan Revin.
"Oke. Sudah di putuskan bahwa Jani yang akan menggantikan yang tidak hadir. Gue ingetin sekali lagi. Di sini kalian semua mempunyai tanggung jawab masing-masing.. Gue berharap apa pun yang akan terjadi di acara nanti. Kalian bisa mengatasinya sendiri. Kalian mengerti.!!" kata Revin tegas.
"Mengerti." seru mereka bersamaan.
Jani sangat kesal mendengar keputusan Revin. Saat dirinya ingin protes,terdengar suara dari panggung bahwa lima belas menit lagi acaranya akan segera di mulai. Jani mengurungkan niatnya karena ada hal penting yang harus ia lakukan.
"Dasar Revin nyebelin. Mana mungkin gue bisa hafal gerakan dance yang hanya di kasih waktu lima belas menit."
"Di kata gampang kali ngedance."
"Hhuuu,,awas aja kalau sampai gue nggak hafal sama gerakannya dan buat gue malu di atas panggung. Orang pertama yang gue salahkan adalah lu."
Sepanjang latihan dance,Jani terus saja mengumpat dalam hati. Tidak terasa acaranya sudah di mulai dan Jani masih fokus latihan.
Beruntungnya acara dance tidak di awal atau pun di pertengahan acara tapi di akhir acara. Setidaknya Jani masih memiliki waktu yang cukup. Semoga saja saat acara dancenya di mulai. Ia sudah hafal dengan semua gerakannya.
*Ting*
Saat Jani sedang istirahat. Ada notif chat masuk di HP nya. Ia langsung melihat dan membacanya.
REVIN :
semangaattt....
My Little Angel
"Dasar cowok aneh." gumam Jani seraya mengkerucutkan bibirnya.
*Ting*
REVIN :
Tolong dong bibirnya di kondisikan. Atau kamu mau aku cium π
^^^JANI :^^^
REVIN :
Jangan pasang wajah seperti itu. Kasihan yang lain. Nanti pada kaku kedinginan πβ
^^^JANI :^^^
^^^Dih key sendirinya nggak aja^^^
REVIN :
Nggak dong. Kan sudah ada kamu yang menghangatkan hatiku π€
^^^JANI :^^^
^^^Bodo amat. Lu ngomong sono sama tembok π^^^
REVIN :
Mulai deh π sepertinya memang harus di kasih pelajaran
^^^JANI :^^^
^^^Apa π^^^
REVIN :
Nggak usah pura-pura lupa. Apa sengaja mau aku hukum
^^^JANI :^^^
^^^Nggak jelas lu ah^^^
REVIN :
ANJANI SYAVIRA
^^^JANI :^^^
^^^Ya apaan?? Lu nya juga nggak jelas^^^
REVIN :
Di ingat dan jangan di lupakan lagi ucapan gue. Cukup di depan mereka kita bicara lu-gue. Tapi kalau hanya kita berdua tolong biasakan bicara aku-kamu. Dan aku juga berharap bukan hanya saat kita berdua aja. Tapi saat di depan mereka semua,tolong biasakan kita bicara aku-kamu.
^^^JANI :^^^
^^^Kalau gue nggak mau gimana?? ^^^
Revin tidak membalas chat itu. Tapi ia berjalan menuju ke arah Jani dan langsung merangkul pundak Jani dari samping. Tangan satunya ia masukan ke dalam kantung celananya. Sedangkan Jani yang tidak tahu siapa orang yang sedang merangkulnya. Ia pun langsung melihat arah sampingnya.
*Deg*
Jani terlonjak kaget melihat Revin yang merangkulnya. Jantung Jani pun berdetak kencang. Apa lagi posisi wajah Revin yang sedang menatap dirinya dengan jarak yang sangat dekat hanya beberapa centi saja.
Revin semakin mendekati wajahnya. "Bahkan gue bisa lebih dari ini jika lu mengabaikan perkataan gue. Karena gue nggak pernah main-main dengan omongan gue." bisik Revin dengan seringaian.
Jani masih terpaku menatap Revin tanpa berkedip.
"Fyuuhhh." Revin meniup wajah Jani. Jani terkesiap,ia langsung melepaskan rangkulan Revin.
"So sweet."
"Jani yang di rangkul,gue yang baper."
"Asli. Gue berasa lagi nonton Drakor tapi versi orang Indo."
"Kenapa mereka nggak jadi Artis aja sih. Gue yakin banget deh kalau mereka berdua pasti masuk ke Katagori Pasangan Terpopuler."
Jani yang mendengar perkataan mereka. Ia pun menatap Revin tajam.
"Apa.??" tanya Revin dengan menaikan sebelah alisnya.
"Bisa nggak sih sehari aja nggak buat masalah.??" tanya Jani dingin.
Dengan wajah santainya Revin melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap wajah Jani lekat. "Emangnya salah ya kalau aku nyamperin pacar sendiri.??" tanya Revin balik seraya tersenyum.
Seketika kedua mata Jani membola sempurna. "Dasar cowok nyebelin." ketus Jani seraya menginjak kaki Revin dan langsung meninggalkan Revin yang kesakitan.
"Isshh... Ternyata bidadari gue bisa bar-bar juga." lirih Revin yang masih kesakitan.
Merasa menjadi pusat perhatian. Revin menatap dingin ke mereka.
"Kembali latihan." kata Revin dengan tatapan tajam dan langsung meninggalkan ruangan itu.