
Dhea memijit lembut tangan dan kaki Bu Wati. Mengoleskannya dengan baby oil agar lebih lembut di kulit yang kering itu. Vean hanya bisa melihatnya. Merasa bangga Dhea masih mau merawat bu Wati, meski mereka tidak saling bicara. Bu Wati memang lebih banyak tidur. Bangun pun tetap tidak bisa bicara dengan lancar.
"Kamu makan dulu, jangan sampai sakit," ucap Vean.
...💦💦💦...
"Tante, apa benar-benar tidak ada informasi tentang papaku?"
"Tidak."
"Tante punya foto mama saat masih muda?"
"Hm ... nanti bibi coba cari, ya."
Dhea kembali masuk ke dalam kamar Bu Wati. Hari ini adalah hari terakhir dia ada di sini.
"Bu, Dhea mau pulang." Dhea mengusap lengan bu Wati. Perempuan tua itu membuka matanya.
"Minggu depan Dhea usahakan ke sini lagi."
Dhea mencium punggung tangan bu Wati, lalu kening perempuan itu.
"Ibu harus semangat untuk sembuh, agar kita bisa membicarakan banyak hal."
Saat Dhea akan berdiri, Bu Wati memegang tangan Dhea. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi terasa begitu susah.
Maaf, maaf.
Air mata Bu Wati mengalir, seperti enggan untuk melepaskan kepergian Dhea. Perempuan itu masih memegang tangan Dhea.
"Dhea ... akan kembali lagi minggu depan. Ibu harus cepat sembuh, ya. Nanti ibu tinggal saja bersama Dhea di sana. Bu, ibu mau kan dibawa ke rumah sakit?"
Bu Wati langsung melepaskan tangannya. Dia tidak mau pergi ke rumah sakit.
"Baiklah, tidak apa kalau ibu tidak kau ke rumah sakit. Dokter dan perawat akan ke sini untuk memeriksa kesehatan ibu selama Dhea tidak ada."
Bu Wati menatap wajah Dhea.
Bibirnya bergerak membentuk kata maaf, meski tanpa suara.
"Ibu harus sembuh. Banyak yang ingin Dhea lakukan bersama ibu. Oya, ini Kak Vean—calon menantu ibu. Ini Kak Arya—Kakak Dhea di panti asuhan. Ini Kak Juna—Kakak Dhea juga. Dia seorang dokter. Ini Fio dan Clara, mereka sahabat Dhea. Ibu harus sehat agar bisa melihat pernikahan Dhea. Di sana Dhea punya banyak sahabat. Mereka semua baik. Ada juga ibu panti, ibu kos, kedua orang tua Kak Vean, Kak Juna dan Fio."
"Rumah Dhea di sana tidak besar, tapi banyak pohon dan bunga. Mereka juga tinggal dekat Dhea. Dhea punya banyak adik di sana."
Bu Wati mendengarkan perkataan Dhea, entah dia mengerti atau tidak.
"Pokoknya nanti Dhea akan menceritakan banyak hal. Setiap hari Dhea akan memasak untuk ibu. Ibu mau makan apa, tinggal katakan saja pada Dhea. Dhea juga akan membuatkan baju untuk ibu. Ibu mau jalan-jalan, nanti Dhea antar."
Air mata Dhea menetes. Bicara banyak hal, justru membuat dia begitu berat meninggalkan Bu Wati.
Dengan berat hati akhirnya Dhea pulang. Fio merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Ada saja masalah yang dia hadapi. Fio jadi merasa sangat bersyukur masih memiliki ibu yang sehat, walau kadang menyebalkan. Suka memaksakan kehendaknya.
Clara juga begitu. Dia memang memiliki keluarga yang tidak terlalu kaya, tapi kedua orang tuanya masih ada dan harmonis.
...💦💦💦...
Mereka istirahat di rest area karena hujan sangat deras.
"Kita istirahat saja di mobil."
Arya dan Juna memundurkan sandaran kursi mereka, sedangkan Dhea berbaring di atas paha Vean dengan bantal kecil. Fio dan Clara ada di bangku belakang, sudah tidur lebih dulu.
Rest area ini sangat penuh, karena banyak mobil yang lebih memilih menunggu daripada meneruskan perjalanan yang berbahaya ini.
Hingga pagi menjelang, hujan masih sangat deras. Mereka mendapatkan informasi kalau ada kecelakaan lalu lintas.
"Untung saja kita tidak melanjutkan perjalanan."
"Ayo kita cari minuman hangat dulu."
"Ambil payung di jok belakang."
Mereka memasuki salah satu tempat makan. Membeli minuman hangat sambil menunggu macet akibat kecelakaan.
"Tidak akan ada apa-apa kan, di sana?"
"Jangan khawatir. Mereka pasti akan menghubungi kita setiap hari."
Malam harinya mereka baru tiba lagi di rumah.