
Dokter Bram dan beberapa orang perawat berlari menuju kamar rawat Dhea saat tombol panggil berbunyi.
"Kalian semua keluar!"
Mereka melakukan tindakan untuk membantu pernafasan Dhea, ditambah detak jantung yang melemah begitu dengan denyut nadinya.
Flashback On
Dhea bangun dari tidurnya, melihat Arya, Juna dan Vean yang sedang tidur di sofa. Dia merasa jenuh selalu berada di dalam kamar perawatan ini. Dia sudah tidak bisa lagi menghitung waktu. Dalam keadaan lemah, gadis itu lalu bangun dari brankarnya. Mencoba berdiri dengan kaki bergetar, dan meski dengan tangan yang masih terinfus.
Dhea merasa ada seseorang, atau mungkin sesuatu yang memanggilnya. Dia melihat sesuatu yang berwarna putih.
Apa itu salju terakhir di tahun ini?
Dhea mengangkat tangannya, mencoba meraihnya. Tapi nihil, tentu saja dia tidak bisa menggapai apa-apa. Dia ingin mendekati ketiga pria itu, tapi langkahnya yang pelan itu kemabli terhenti, melihat ke arah ke jendela.
Seperti tergoda, dia mendekati jendela itu. Dhea menyentuh jendela dengan telapak tangannya. Menatap langit yang mendung, berwarna kelabu.
Gemuruh petir membuat jendela itu bergetar. Dhea tersenyum, saat mengingat duku dia dan anak-anak panti suka mandi hujan, termasuk Arya. Menciprat-cipratkan lumpur ke wajah yang lain. Saat itu, meski mereka masih kecil dan besar di panti asuhan, ada saatnya mereka berbagi kesenangan yang sama, juga berbagi kesedihan yang sama juga.
Saling bertanya kenapa, kenapa mereka ada di sana? Ke mana orang tua mereka?
Kadang keadaan itu mengait anak-anak itu, terutama Dhea dan Arya yang berkeinginan kuat menjadi orang sukses, dewasa sebelum waktunya.
Tapi Dhea yang sekarang sudah menyerah.
Menyerah untuk melanjutkan hidup.
Dhea merasa sesak di dadanya, tangan dan kakinya bergetar dan darah keluar dari hidungnya.
Bruk
Suara dengungan itu membuat mereka terbangun dari tidurnya.
"Dhea!"
"Aku mau pulang," ucap Dhea dengan lirih, sebelumnya akhirnya mata sayu iri terpejam.
Flashback Off
Teman-teman Dhea yang datang menatap heran pada Juna, Vean dan Arya yang menunggu di depan kamar rawat Dhea.
"Kenapa kalian di sini?"
Melihat wajah mereka yang murung, mereka langsung tahu kalau Dhea sedang tidak baik-baik saja.
Pintu kamar Dhea terbuka, Dokter Bram keluar dengan keadaan yang juga terlihat kacau.
Pria tua itu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa ... kenapa Om menggeleng seperti itu?"
Percuma untuk menipu diri. Percuma mengatakan kalau semua akan baik-baik saja, di saat apa yang ada di depan mata sudah menunjukkan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Keadaannya kritis, hanya mukjizat saja yang akan mengubah semuanya."
Dhea kembali dipindahkan ke ruangan ICU.
"Kalau memang kamu sudah lelah, pulanglah. Pergilah dengan tenang. Tidak perlu lagi ada di tempat yang hanya memberikan rasa sakit itu. Pergilah ke tempat di mana kamu bisa merasa damai. Bukankah kamu ingin ketenangan?" Clara mengecup kening Dhea.
Doa sayang Dhea, tapi tidak mau sahabatnya itu merasakan penderitaan seperti ini lagi.
"Jangan bicara sembarangan, Bangsat!" teriak Vean. Tidak peduli kalau yang dia bilang bangsat itu adalah seorang perempuan.
Tidak, tidak ada yang boleh menyuruh Deja pergi.
Memangnya Dhea harus seperti apa?
Bertahan dengan rasa sakit dan tak tahu kapan akan hilang, atau pergi dengan ketenangan meninggalkan mereka dengan penyesalan dan air mata seumur hidup?