Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
155 Kamu Harus Mengalah (Tidak Mau Mendahului Takdir)


"Dhea, aku mau kenalin kamu ke seseorang."


"Siapa?"


"Calon suami aku."


"Hah? Calon suami?"


"Iya. Nanti datang ya, ke kafe. Kalau perlu, kamu ajak tuh, cowok yang kamu suka. Ganteng mana antara mereka berdua."


Sejak kapan Fio punya calon suami? Tapi kalau begitu baguslah, aku tidak terlalu khawatir lagi dia akan menyukai Kak Vean.


"Awas, nanti malah kamu yang suka pada dia!" ucap Fio.


"Aku ini cewek setia, Fio."


"Ya namanya hati siapa yang tahu, kan?"


"Ya, pokoknya apa pun yang terjadi, kita tidak boleh bertengkar karena seorang pria. Kita sudah bersahabat sejak kecil, jadi tidak boleh rusak begitu saja."


"Kalau ternyata kita menyukai cowok yang sama, kamu yang mengalah, ya!" ucap Fio.


Dhea diam saja. Tidak ingin mengiyakan, tapi juga tidak menolak.


Aku tidak mau mendahului takdir, batin Dhea.


Hingga tibalah hari itu, hari di mana Dhea akan diperkenalkan oleh calon suami yang Fio katakan.


Fio merasa ada yang aneh. Melihat Dhea yang lebih pendiam.


Mungkin karena baru kenal.


Fio terus mengajak Dhea mengobrol, sedangkan Vean diam saja. Hingga akhirnya Dhea pergi dengan alasan yang dibuat-buat.


Keesokan harinya


"Siapa sih, nama cowok yang Dhea suka?"


"Memangnya kamu tidak tahu?"


"Enggak."


"Padahal kan kamu sahabatnya, masa enggak tahu."


"Jangan-jangan kamu enggak dianggap sahabat!" celetuk yang lainnya.


Mendengar itu, Fio jadi mikir dan sangat tersinggung.


"Jadi, siapa namanya?"


"Kak Vean."


"Vean?"


Vean? Apa ini Vean yang sama?


Fio menjadi gelisah. Kalau mereka adalah Vean yang sama, apa yang harus dia lakukan?


Kalau Vean yang dimaksud adalah Vean yang sama, apa yang harus aku lakukan? Tapi sepertinya tidak mungkin. Tapi bisa juga sama. Aaaa ... aku jadi bingung!


"Fio, kebiasaan deh, aku cari-cari, juga."


Mereka kembali ke kelas, dengan Fio yang terlihat gelisah.


"Dhea, kamu dan ... cowok kamu itu, bagaimana? Apa ada kemajuan?" Fio hampir saja keceplosan menyebut nama Vean.


"Enggak. Hm, kamu sendiri, bagaimana dengan ... dia?" Dhea hampir saja keceplosan menyebut nama kak Vean. Nama yang dia panggil dengan ceria selama bertahun-tahun.


"Ya ... begitu."


"Apa dia sesuai dengan tipe kamu?"


Pertanyaan bodoh, tentu saja sudah sesuai dengan kriterianya. Tapi yang aku tahu, Fio menyukai cowok yang romantis, dan perhatian. Kak Vean tidak seperti itu. Tapi dia bisa saja seperti itu pada Fio.


Hufft, kak Vean benar-benar tidak menyukai aku.


Pulang sekolah, Fio main ke kosan Dhea. Saat Dhea di kamar mandi, Fio memperhatikan kamar Dhea.


Di meja kecilnya, ada tulisan: Kak Vean, i love you.


Jadi benar, namanya Vean?


Fio membuka buku harian Dhea, yang ternyata di dalamnya banyak menceritakan tentang Vean dan ....


Deg


Ini Vean!


Ada beberapa foto Vean yang ditempel di dalam buku harian itu.


Jadi, ini benar Vean yang sama?


Fio buru-buru menutup buku itu dan meletakkannya di tempat semula. Jangan sampai Dhea tahu kalau dia sudah membuka buku itu, apalagi tahu kalau dirinya sudah tahu semuanya.


"Fio, kenapa bengong?"


"Enggak."


"Dhea, ayo jalan."


Fio pura-pura tidak tahu apa-apa. Dia mengajak Dhea bertemu dengan Vean. Gadis itu diam-diam mengamati keduanya. Hati Fio gelisah. Sampai malam mereka bertiga bersama, dan Dhea pura-pura santai, begitu juga dengan Fio yang pura-pura cuek.


Apa aku tetap pura-pura tidak tahu saja? Sampai dia sendiri yang mengaku? Toh dia sendiri juga tidak pernah mau jujur padaku.