
"Ini, cobain."
Mereka melihat makanan yang dibuat oleh Vean. Dhea lalu mencoba masakan itu.
"Enak."
Arya, Juna dan Fio ingin mencicipinya, tapi tangan mereka langsung ditepis oleh Vean.
"Pelit!"
"Bikin sendiri."
"Aku loh, yang bayarin belanjaan ini."
"Ayo makan, Dhe. Habis ini kita jalan-jalan."
"Jalan kaki lagi, Kak?"
Vean tersedak, sedangkan yang lain menahan tawa.
"Enggak. Kita bisa ke mall—nonton, shoping—atau ke pantai."
"Kalian gak boleh ikut!" lanjutnya.
"Heleh. Giliran butuh, baru deh nyuruh datang."
Dhea memaki celana hitam sebetis, dengan kaos lengan panjang berwarna putih. Vean juga ternyata sama, memakai celana hitam dengan kaos lengan panjang. Padahal mereka tidak janjian.
Di mall
"Kamu Vean, kan?"
"Iya."
"Kamu bukannya tunangan Fio? Hm, ini sahabat Fio, kan?"
"Iya, Tan."
Perempuan paruh baya itu melihat Vean dan Dhea, melihat kelingking mereka yang saling bertaut. Dari ekspresi wajah perempuan itu, menunjukkan rasa tidak suka.
"Saya dan Fio berteman, dan ini tunangan saya, Tan. Permisi!"
Dhea terlihat murung. Orang-orang yang tahu tentang pertunangan Fio dan Vean, pasti akan berpikiran yang tidak-tidak. Apalagi kalau tahu dia dan Fio bersahabat.
"Jangan dipikirkan. Yang panting orang-orang yang mengenal kita, tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pikiran mereka, tidak menentukan kita akan bahagia atau tidak."
"Iya, Kak."
Iya saja, di mulut. Tapi di hati merasa tidak nyaman.
"Kita nonton dulu," ajak Vean.
Mereka nonton film, dan Vean menyesal memilih film ini.
Banyak adegan kiss-nya.
Mereka yang ciuman, dia yang salting.
Dhea nonton dengan fokus. Vean melirik Dhea yang terlihat biasa saja.
Ya, gimana tidak biasa saja? Selama tinggal di luar negeri, Dhea sudah terlalu sering melihat orang yang berpacaran. Pagi siang sore malam. Bukan hanya adegan dalam film saja.
"Kak Vean pengen, ya?"
Untung saja gelap, jadi wajah merah pria itu tidak terlihat.
"Filmnya gak seru. Ayo ah, keluar."
Vean akhirnya mengajak Dhea belanja.
"Mau beli apa?"
"Enggak ada. Udah kebanyakan barang, aku. Oya, beli kebutuhan panti saja, boleh?"
"Boleh."
Mereka lalu ke bagian kebutuhan harian. Dhea membeli banyak susu bayi, popok, sabun, dan lainnya.
"Makin hari, makin banyak saja bayi di sana."
"Emang sudah nambah lagi?"
"Sudah ada enam, sekarang."
"Loh, kalian di sini? Ngintilin kami, ya?" tanya Vean.
"Dih, pede!"
"Kami lagi beli barang buat panti."
"Ck, mereka yang buang anak itu, gak mikir apa! Aku saja yang kehilangan saudara, orang tuaku masih sedih sampai sekarang!"
"Ayo kita ke bagian mainan," ajak Dhea, mengalihkan pembicaraan.
Mereka belanja banyak barang untuk kebutuhan panti.
"Kata ibu, Inge dan Siska berebutan mainan, kemarin."
"Suka begitu?" tanya Juna.
"Ya namanya juga anak kecil, Kak. Suka berebutan. Kalau gak berebutan makanan, ya berebutan mainan. Malah berebutan untuk diadopsi."
"Hmm, dulu ... maaf ya kalau aku kepo. Dulu memangnya gak ada yang mau adopsi kalian?"
"Ada."
"Terus?"
Arya dan Dhea saling pandang, lalu tertawa.
"Ngumpet, Kak, biar gak dipilih.
"Atau pura-pura sakit. Ya ada sajalah akal-akalan kami."
"Loh, memangnya kenapa? Bukannya bagus, kalau diadopsi."
"Ya, kami mikirnya, nanti apa mereka akan tetap sayang pada kami, kalau punya anak kandung sendiri. Yang ada malah lebih menderita."
"Kami juga nunggu keluarga kandung kami datang."
"Ternyata yang ditunggu, gak pernah datang."