
Setelah lima belas menit,Jani kembali ke kelasnya dengan wajah di tekuk.
"Muka jelek amat di tekuk gitu. Kenapa lo?" tanya Fani yang melihat kedatangan Jani.
"Lo ya,yang udah masukin gw ke Anggota Osis?" tanya Jani dengan wajah marah.
"Diih,bukan gw." elak Fani.
Jani melihat ke arah Mia dan Vina.
"Gw nggak tau." elak Mia.
"Gw apa lagi," elak Vina.
Jani melihat ke arah Revin. Di sana Revin sedang tersenyum licik. Jani beranjak dari tempat duduknya.
"Ikut gw!" ajak Jani sambil menarik lengan Revin. Revin hanya pasrah tangannya di tarik ke luar kelas oleh Jani.
"Woyy,,mau kemana lo berdua!!" seru Aldi dan Fero bersamaan.
"Bentar," seru Revin sambil melambaikan tangannya.
Untungnya jam terakhir tidak ada Guru,jadi di kelas mereka tidak belajar.
Jani terus menggandeng tangan Revin sampai ke tempat yang menurutnya aman untuk bicara.
"Maksud lo apa?" tanya Jani dingin sambil menatap Revin.
"Gw cuma ingin mengabulkan permintaan dari yang lain aja," jawab Revin santai.
"Tapi kenapa harus gw? Kan di Sekolahan ini masih banyak murid-muridnya Rev. Kenapa lo nggak pilih yang lain aja?" tanya Jani menahan amarahnya.
"Anggota Osis pilihnya lo." jawab Revin santai.
"Ya,kan lo Ketua Osisnya Rev. Lo pasti bisa menolak ke inginan mereka." ucap Jani dengan wajah kesal.
Revin melangkah maju ke Jani,dengan reflek Jani melangkah mundur. Sampai tubuhnya menyentuh tembok yang berada di belakangnya.
Jani menahan tubuh Revin dengan ke dua tangannya. Agar tubuh Revin tak lagi mendekat dan itu berhasil. Jani menatap wajah Revin,begitu juga Revin menatap dirinya.
"Lo masih ingetkan omongan gw waktu itu? Gw nggak bisa terus-terusan lo abaikan. Tapi tiga hari ini lo justru selalu menghindari gw. Inilah hukumannya jika lo mengabaikan gw. Gw tau lo udah terikat janji dengan seseorang tapi setidaknya lo jangan menutup hati lo untuk orang lain. Setidaknya lo izinkan mereka untuk membuktikan,kalo mereka juga pantas untuk mendapatkan hati lo. Jangan menjadi orang yang egois Jan. Mungkin lo merasa biasa aja dengan perasaan mereka ke lo. Tapi bagaimana dengan mereka? Secara nggak langsung lo sudah sering menyakiti banyak orang karena lo nggak pernah memberikan kesempatan untuk mereka." kata Revin dengan wajah serius.
Setelah itu Revin pergi,meninggalkan Jani yang masih diam mencerna semua ucapan Revin. Tanpa sadar,Jani meneteskan air matanya di ke dua pipinya. Tak ingin ada yang melihat dirinya seperti ini. Jani berlari menuju area parkiran sekolah. Setelah sampai,ia memasuki mobilnya dan memakai sabuk pengaman. Jani memutuskan untuk balik ke rumah karena beberapa menit lagi juga bel pulang sekolah akan berbunyi. Jani melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Di dalam mobil,Jani terus menangis. Entah mengapa ucapan Revin kali ini,benar-benar membuat dia tak berdaya.
"Apa gw salah? Apa gw salah menutup hati gw untuk mereka? Gw seperti ini hanya ingin menepatkan janji gw. Tapi kenapa mereka nggak bisa ngertiin gw. Mereka nggak pernah tau gimana tersiksanya gw melewati semua ini. Gw juga nggak mau seperti ini. Gw benar-benar nggak bermaksud ingin menyakiti mereka." ucap Jani lirih di tengah isakkannya.
Tiga puluh lima menit di jalan,Jani sampai di gerbang rumahnya. Ia langsung memarkirkan mobilnya di garasi. Jani membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Langkahnya dia buat sesantai mungkin,agar tak ada yang curiga.
Ia memasuki rumahnya. "Non Jani sudah pulang?" tanya Bi Inah (ART) melihat kedatangan Jani.
"Iya Bi," jawab Jani seraya tersenyum,agar pembantunya itu tidak melihat kesedihan di wajahnya.
"Mau si Bibi buatkan minuman,Non?" tanya Bi Inah (ART) pada Jani.
"Nggak usah Bi. Aku mau langsung istirahat aja di kamar. Permisi Bi." ucap Jani sopan dan berpamitan pada pembantunya. Jani berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Di area sekolah.
Jam pulang sekolah sudah berbunyi dari dua puluh lima menit yang lalu. Tidak banyak yang masih berkeliaran di area sekolahan. Seperti beberapa anak remaja ini,yang masih berkumpul di area parkiran sekolah.
"Eh,Rev. Si Jani kemana sih?" tanya Mia pada Revin.
"Mana gw tau. Emang lo pikir gw bokapnya." jawab Revin cuek.
"Hayy,,Kakak yang cantik-cantik dan Abang yang ganteng-ganteng." sapa Juna pada teman-teman Kakaknya.
"Hay juga Jun. Lo masih di sekolah?" tanya Vina pada Juna.
"Iya nih. Tadi gw di suruh sama Kak Jani untuk ngambilin tasnya yang masih ada di dalam kelas. Tapi pas gw ke sana tasnya nggak ada." jelas Juna pada mereka.
"Nih tasnya," ucap Vina sambil memberikan tas Jani pada Juna.
"Emang si Jani-nya kemana Jun?" tanya Vino pada Juna.
"Tadi sih dia WA gw,kalo dia balik duluan ke rumah dan minta tolong gw untuk ngambilin tasnya di kelasnya." jawab Juna.
"Set dah,tuh anak bener-bener dah. Pulang nggak ngomong-ngomong. Kita di sini lagi nungguin dia,eh taunya dia malah udah balik ke rumah." sungut Fani dengan wajah kesal.
"Teman lo tuh Fan," ucap Mia.
"Teman lo juga Sukinem." celetuk Fani.
"Ya udah yuk balik. Gw udah laper nih." ucap Aldi.
"Sama. Cacing-cacing gw yang ada di dalam perut,udah pada demo semua nih." timpal Fero sambil memegangi perutnya.
"Dasar raja makan." cibir Vino sambil melirik ke arah Aldi dan Fero.
Akhirnya mereka semua memasuki mobilnya masing-masing dan melajukan mobilnya. Satu persatu mobil mereka keluar dari area sekolahan.
Di sepanjang perjalanan pulang. Revin terus memikirkan keadaan Jani.
"Apa ucapan gw tadi,udah keterlaluan banget ya? Apa karena ucapan gw,dia langsung balik ke rumahnya?" ucap Revin di dalam mobilnya. Segala pertanyaan-pertanyaan muncul di pikirannya.
Menghabiskan waktu hampir satu jam berada di perjalanan. Jam-jam segini memang jamnya macet,karena banyak yang pada balik pulang. Akhirnya Revin sampai di area halaman depan rumahnya.
Revin langsung memarkirkan mobilnya di garasi. Setelah selesai,ia membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobilnya. Revin berjalan ke dalam rumahnya. Sebelum masuk,ia memencet bel rumahnya dan pintu rumah di bukakan oleh Bi Asih dari dalam rumah. Lalu Revin berjalan masuk,di dalam rumah sudah ada Mamahnya yang lagi menonton TV.
"Kenapa baru pulang sayang?" tanya Mamahnya lembut pada Revin.
"Jalanan macet Mam," jawab Revin sambil mencium punggung tangan Mamahnya.
"Kamu nggak ngajak Jani maen ke sini Rev?" tanya Mamahnya.
"Mamah ini,anaknya baru pulang bukannya di tawarin minum. Ini mah langsung nanyain anak orang." ucap Revin memasang wajah kesal.
"Hehehe. Soalnya Mamah udah kangen banget sama dia Rev. Udah lama dia nggak maen ke rumah,nengokin Mamah." ucap Mamah Revin memasang wajah sedih.
"Kenapa Mamah nggak hubungi dia aja?" tanya Revin pada Mamahnya.
"Mamah sudah hubungi dia,tapi dia bilang lagi sibuk. Makanya dia nggak bisa maen ke sini." jawab Mamah Revin.
"Kamu dong Rev. Ajak dia maen ke rumah kita." ucap Mamahnya menyuruh Revin.
"Lah,kan dia udah bilang lagi sibuk Mam." ucap Revin.
"Yaa,,siapa tau aja dia mau. Kalo kamu yang ngajak dia pake mobil kamu Rev." ucap Mamahnya.
"Ya udah,nanti Revin coba ajak dia ke rumah." ucap Revin menghibur Mamahnya.
"Bener ya sayang," ucap Mamahnya senang.
"Iya Mam. Ya udah Revin masuk ke kamar dulu ya." ucap Revin lembut berpamitan pada Mamahnya.
Revin berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung membersihkan dirinya dan setelah selesai,ia memainkan games yang ada di handphonenya.