
Dhea lebih memilih sahabat daripada orang yang dia cintai, meski hatinya sangat terluka. Memilih meninggalkan mereka dan mengorbankan banyak hal.
Fio lebih memilih orang yang dia cintai, tidak mau melepaskan Vean dan tidak peduli dengan perasaan Dhea.
Siapa yang salah?
Tergantung dari sudut pandang orang yang menilainya. Tidak ada yang salah, dan tidak ada yang benar, mereka melakukan apa yang menurut mereka benar dan terbaik bagi mereka.
Flashback off
"Vean, tolong mama."
Vean menatap manik mata Fio, sangat dalam. Tidak bisakah Fio mengerti posisi Vean saat ini?
Bisakah Fio tidak menempatkan doa di posisi serba salah ini?
Sekarang, sama seperti sebelumnya.
Fio menempatkan dia di posisi yang rumit, berada di tengah dua sahabat yang bisa saja bermusuhan karena dirinya. Meskipun ada kemungkinan juga kalau Dhea yang akan merusak hubungan dia dengan Fio, tapi nyatanya itu tidak pernah terjadi.
Dhea lebih memilih mengalah dan pergi. Oh ya, satu lagi ... berkorban darah dan ginjal.
"Vean, tolong mama."
Lagi, Fio merengek kepadanya. Vean lalu menatap Arya, yang tidak berusaha untuk mempengaruhi pikirannya.
"Vean, bagaimana nasib mamaku? Kasihan mama kalau harus dipenjara. Bagaimana nanti pernikahan kita?"
Kepala Vean berdenyut-denyut, rasanya mau pecah saja.
"Fio, sudah ya. Biarkan Vean tenang dulu," ucap Candra.
"Tapi Om, bagaimana dengan mama? Kalau Tante Friska yang ada di posisi mama, apa Om akan diam saja?"
"Ck, kenapa kalian selalu seperti itu?" tanya Vean mulai kesal.
"Maksudnya?"
"Tidak bisakah kalian tidak mengatakan itu? Bagaimana kalau ada di posisi Tante Mila? Sekarang aku tanya, bagaimana kalau kalian ada di posisi Arya? Bagaimana kalau kalian ada di posisi Dhea? Dan bagaimana ... bagaimana kalau kalian ada di posisiku? Tolong, untuk kali ini saja ... jangan libatkan aku dan Dhea, apalagi Dhea belum sadar juga. Selesaikan urusan kalian. Jangan libatkan aku dan Dhea. Terserah kalian mau berdamai atau tidak!" teriak Vean, kehilangan kendali akan emosinya.
"Om, bawa Fio pergi dari sini," ucap Juna.
"Kau tidak mau pergi. Aku juga belum melihat keadaan Dhea."
"Fi, tolong mengerti. Vean juga tidak boleh stres. Dia harus menjaga kondisinya. Selesaikan masalah kamu dan Arya di luar sana!"
"Apa hak kamu mengusir aku?"
"Aku? Aku dokter di rumah sakit ini, jadi aku berhak mengusir orang yang menyebabkan keributan dan ketidak nyamanan untuk pasien di rumah sakit ini. Dan aku diberi amanah oleh dokter Bram untuk menjaga dan ikut memantau kesehatan pasien yang bernama Dhea." Juna mulai bersikap profesional, memang ayahnya sekaligus pemilik rumah sakit ini yang memberikan tugas ini padanya, selain beberapa orang dokter lainnya yang bertugas memantau Dhea.
Bahkan Bram sudah menunjuk beberapa orang perawat yang khusus menjaga Dhea.
"Ayo Sayang, nanti kita bicarakan baik-baik dengan Arya. Keadaan sedang tidak memungkinkan untuk bicara dengan kepala dingin." Ronald mengajak putrinya keluar.
Dia juga sebenarnya merasa kesal. Entah kesal kepada Arya yang sudah melaporkan istirnya, atau kesal kepada Vean dan Juna yang tidak mau membantu, atau mungkin juga kesal kepada istrinya sendiri yang sudah berkali-kali diingatkan untuk membuat keributan, tapi tidak mau mendengar.
Sekarang, nasi sudah menjadi bubur.
Istrinya dilaporkan kepada polisi, dan orang-orang mulai berpikiran buruk tentang istrinya yang dicap arogan dan jahat.
Itulah, sebelum bertindak, pikirkan dulu apa yang akan terjadi kedepannya.