Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
211 Ke Rumah Sakit


Vean benar-benar tidak meninggalkan Dhea sebentar pun. Selain karena dia yang mengalami sindrom couvade, dia juga ingin menjaga istrinya itu. Khawatir kalau nanti Dhea membutuhkan sesuatu dan dirinya tidak ada.


Vean sedikit-sedikit sudah belajar memasak. Juga karena berjaga-jaga kalau nanti Dhea ingin memakan masakan buatan dirinya, Jagan sampai rasanya tak karuan lalu membuat istrinya sakit.


Pria itu memasak menggunakan masker, agar aroma bumbunya tidak membuat dia mual.


"Terus, gimana lagi, Ma?"


"Mama kan sekarang tinggal di sebelah, kalau butuh makanan apa, biar mama saja yang masak."


Rumah sebelah yang dimaksud adalah rumah Dhea yang sebelumnya. Orang tua Vean kini tinggal di sana, agar lebih tenang untuk Candra dan Friska saat menatap anak dan menantu mereka, dan nyaman untuk Vean dan Dhea.


"Enggak, Ma. Aku harus bisa juga. Masa tiap malam aku harus bangunin Mama."


Friska tersenyum, dia senang anaknya menjadi suami siaga. Friska bisa melihat dengan jelas, kalau Vean benar-benar mencintai Dhea dan akan menjadi ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya.


"Yang penting kamu harus tahu dulu nama bumbu-bumbu. Yang mana lada, yang mana ketumbar. Hampir sama, jadi jangan sampai ketukar."


"Iya, Ma." Vean benar-benar memperhatikan, agar nanti tidak salah.


Friska akhirnya memberikan nama di toples bumbu itu, agar Vean lebih mudah nantinya.


"Potongannya jangan terlalu besar, tapi juga jangan terlalu kecil."


Vean saat ini membuat sayur asam. Dia pikir mungkin akan menghilangkan sedikit rasa mual Dhea.


Makanan akhirnya jadi, dan di tata di atas meja.


"Wah, ada makanan." Juna langsung mengambil nasi dan lauk serta sayurnya.


"Heh, itu buat Dhea."


"Dikit doang, jangan pelit-pelit!"


"Dhea dulu yang makan."


Juna terpaksa menunggu Dhea.


"Kamu enggak ada praktek, Jun?" tanya Friska.


"Aku kan ditugaskan di sini sama Papa, Tan."


Juna menoleh kiri-kanan, lalu bicara pelan pada Friska.


"Papa khawatir dengan Dhea, takut terjadi apa-apa. Makanya aku harus mantau terus di sini. Dokter kandungan juga sudah disuruh memantau terus kehamilan Dhea."


"Aku juga bisa ke klinik." Juna bicara biasa lagi saat melihat Vean datang bersama Dhea.


"Kok makan di sini? Kenapa tidak makan di kamar saja?" tanya Juna.


"Bosan, Kak. Cuma keluar kamar buat makan, gak apa-apa, kan?"


"Ya sudah, gak apa-apa."


"Aku sudah membeli komik yang lucu-lucu buat kamu, Yang. Biar kamu gak jenuh."


Dhea mengalami morning sickness yang parah, jadi harus beristirahat di tempat tidur. Vean tidak tega, tapi mau bagaimana lagi.


Pria itu memberikan makanan sedikit-sedikit, yang penting tidak keluar lagi.


"Sudah, Kak."


Vean menghela nafas, tubuh istrinya semakin kurus, padahal baru tiga hari keluar dari rumah sakit.


Juna langsung memeriksa Dhea.


"Istirahat di kamar, biar aku kasih infus dulu."


Juna pergi ke klinik yang dekat dari situ, klinik yang dia dirikan sendiri.


"Pagi, Dok."


"Pagi. Saya mungkin sibuk di rumah, ya. Kalau ada apa-apa, hubungi saya saja. Ada berapa dokter yang bertugas hari ini?"


"Ya sudah, saya pergi dulu."


Tidak membutuhkan waktu lama, Juna sudah Samali lagi di rumah, dan langsung memberikan infus pada Dhea.


"Apa tidak sebaiknya dirawat di rumah sakit saja?"


"Tidak apa, Juna bisa jaga terus di sini. Nanti di rumah sakit, Dhea malah lebih stress."


"Beli banyak buah saja. Bisa dibuat jus, makan langsung, atau dibikin puding."


"Minta bi Tuti saja yang membelikan."


"Sini, biar mama kasih minta badan kamu."


"Di luar saja, Ma. Nanti Dhea bangun."


Friska mengolesi punggung Vean dengan minyak, ya g dilihat oleh Juna dan Arya yang baru datang.


"Makan sana, Ar."


"Iya, Tan. Ini, aku bawakan mangga muda yang banyak."


Arya lalu mengambil makanan yang ada di meja makan.


...💦💦💦...


Dokter Bram berkonsultasi dengan dokter kandungan dan dokter spesialis ginjal.


"Bagaimana dengan Dhea?"


"Kondisi ibu dan janin baik-baik saja. Besok nona Dhea akan kembali melakukan pemeriksaan."


"Berikan pemeriksaan yang terbaik."


"Baik, Dokter Bram."


Mereka keluar dari ruangan dokter Bram.


Keesokan harinya, Vean datang bersama dengan Dhea dan Bianca.


"Selamat pagi," sapa dokter kandungan Dhea.


"Pagi, Dok."


"Apa ada keluhan?"


"Masih pusing dan mual."


"Kita tes urine dan darah dulu, ya. Setelah itu baru USG."


Dhea ke toilet dibantu oleh Vean.


"Ini, Dok."


"Sekarang tes darah."


Setelah itu Dhea disuruh berbaring di brankar untuk melakukan USG.


"Ini calon anak kalian."


Vean dan Dhea menatap haru layar monitor itu, begitu juga dengan Bianca.


"Tidak ada masalah, ya. Semuanya baik."


"Kalau ada keluhan, sekecil apa pun itu, langsung datang. Jangan ditutup-tutupi atau ditahan-tahan."


"Iya, Dok."


"Tekanan darah normal, ya. Preeklampsia itu tidak hanya bisa terjadi pada ibu hamil saja, tapi juga bisa terjadi pada janin yang dikandung. Jadi harus rajin kontrol, pola hidup sehat dan makanan yang terjaga."