Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
229 Benar Begitu?


Juna menghampiri Vean dan Dhea. Dokter tampan itu merangkul pundak Dhea, yang semakin menimbulkan pertanyaan bagi orang-orang. Siapa perempuan ini, kenapa bisa begitu dekat dengan dua pria tampan yang terkenal di kampus mereka dulu?


"Sayang ya, gak ada kak Arya. Kalau ada, pasti mereka pada mupeng. Ngiri dan sirik."


Ya, seperti apa yang sering dikatakan oleh Fio, Dhea selalu dikelilingi oleh pria tampan dan hebat. Tapi ngeselin!


"Aku ambil makanan dan minuman dulu, kamu di sini saja," ucap Vean.


Yuki mulai merengek. Juna langsung mengambil botol susu dan memberikannya pada bayi mungil itu.


"Itu anak kamu, Juna?"


"Iya."


"Kapan nikah?"


"Kapan-kapan."


Dhea menahan tawanya.


"Kok gak mirip sama kamu?"


"Karena dia mirip sama mommy-nya."


Perempuan itu langsung menoleh pada Dhea, merasa anak kecil itu sedikit mirip dengan Dhea. Dia mengusap tengkuknya, jadi bingung sendiri.


"Ka ...."


"Sayang, ini makanan dan minuman untuk kamu."


"Vean, dia siapa?"


"Kenalin, istri semata wayang Vean."


Juna melirik Dhea, agak merasa aneh dengan kalimat itu.


Istri semata wayang?


Memang ada-ada saja tingkah ibu muda itu, yang untungnya adalah adiknya.


...💦💦💦...


Hari ini adalah hari ulang tahun Yuki yang pertama. Sejak satu minggu yang lalu, Vean sudah sangat sibuk menyiapkannya, seolah menyiapkan pesta pernikahan.


"Kaya Kunti."


"Fio, kamu tuh kuntinya!"


"Ini pesta ulang tahun, apa pesta pernikahan, sih? Bikin iri. Nanti aku ulang tahun juga mau pesta mewah seperti ini."


Yuki benar-benar dimanjakan oleh Vean dan keluarga besar kedua belah pihak. Pesta ulang tahun pertama ini tidak main-main. Di adakan secara out door namun tetap sejuk untuk kenyamanan Yuki dan para tamu.


Semua teman Vean dan Dhea diundang, juga rekan bisnis dari kedua belah pihak keluarga.


"Dhea, aku mau tahu, bagaimana cara kamu meluluhkan hati Vean? Selama di kampus, dia terkenal dengan pria dingin dan sedikit bicara."


Dhea berdehem sebentar.


"Hm, aku malu ceritanya."


"Gak apa, cerita saja. Kami penasaran."


Mereka yang penasaran, pasti yang tidak datang ke pesta pernikahan Vean, juga yang tidak terlalu tahu maksud dari video dulu.


"Jadi, waktu itu Kak Vean jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama. Dia terus saja ngejar-ngejar aku, aku jadi gak tega buat nolak. Tapi kan aku masih bocil, belum boleh pacaran."


Vean dan Juna hampir saja tersedak. Sedangkan teman-teman sekolah mereka menahan tawa.


"Masih bocil?"


"Iya. Aku kan, masih SMP. Masih unyu-unyu, sedangkan kak Vean sudah SMA. Setiap hari aku selalu digombalin oleh Kak Vean."


Anehnya, tidak ada yang membantah perkataan Dhea itu, meskipun teman sekolah mereka tahu fakta yang sebenarnya seperti apa.


Mereka justru menganggap Dhea sangat lucu, sedangkan Vean terlalu pasrah. Ya, itu karena Dhea yang mengatakannya. Coba kalau itu perempuan lain yang mengaku-ngaku pernah menjadi pacar Vean, pasti sudah dibanting sama pria itu.


"Masa, sih? Kok aku gak percaya," ucap teman Vean yang perempuan.


"Ya gak usah percaya, kalau gak mau. Gak maksa, kok," balas Dhea.


Vean memeluk Dhea dengan gemas. Kedua orang tua Vean juga menahan tawa. Mereka beruntung memiliki menantu yang lucu dan menggemaskan, yang bisa membuat Vean hidup penuh warna.


"Benar begitu, Vean?"