
Yuki kini berlari pada Daddy mommy, karena takut saat melihat tatapan tajam dari seseorang. Vean sedikit cemberut, tapi langsung mendapatkan isyarat dari Dhea.
Anak-anak itu kini sedang berkumpul bersama, melakukan apa saja yang mereka suka. Sedangkan para orang dewasa sedang berbincang-bincang dengan salah satu host acara. Membahas tentang sepak terjang mereka dalam karir dan asmara.
Yuki yang memang tidak bisa diam, terus saja berlari sana sini. Kadang masuk dalam pangkuan Vean, kadang memeluk kaki Dhea. Meminta susu, atau mencari coklat. Dia juga terus menyerat bonekanya yang super besar, salah satu properti dari Jang Entertainment.
Dhea merasa beruntung juga bisa bertemu dengan orang-orang itu secara langsung, bukan lagi tahu melalui media.
Sepertinya Jang Entertainment akan membuat program baru yang pastinya akan sangat luar biasa.
Yuki sudah mulai merem melek. Botol sisinya bahkan sampai jatuh. Faustin dengan cepat mengambil botol itu dan duduk di sebelah Yuki, membuat yang lain ikut merasa gemas.
Acara langsung telah berakhir, kini syuting untuk siaran non live, yang pastinya akan lebih santai.
💦💦💦
Vean menggendong Yuki, karena anak itu tertidur. Pipi gembulnya semakin terlihat gembul saat tertekan pundak Vean.
"Tin, Tin, Klat."
Mereka terkekeh saat mendengar igauan Yuki. Anak itu kasih saja memikirkan main dan coklat meski telah tidur.
"Sepertinya kita akan kesulitan untuk menghentikan Yuki syuting. Sekarang dia semakin punya banyak teman."
"Benar. Apalagi dia selalu menarik Faustin sana sini."
Ya, Faustin benar-benar menjaga Yuki. Anak laki-laki itu bahkan dengan sigap membantu Yuki bangun saat terjatuh dan tidak membiarkan dia menangis.
"Untung saja besok libur, jadi Yuki dan Faustin bisa istirahat saja di rumah."
Keesokan paginya, dokter Stevie sudah membuat sarapan untuk Faustin dan Yuki. Bagaimana pun juga, selama syuting, Dhea dan Vean yang lebih sibuk memantau kedua anak itu. Namanya juga dokter, kadang ada saja pasien dadakan, atau harus melakukan operasi.
Orang-orang sedang bekerja bakti di luar. Yuki dan Faustin berlarian sana sini. Lebih tepatnya, Faustin menjaga Yuki agar anak itu tidak nyemplung ke got.
Yuki juga bergelayut di leher Vean yang sedang menanam bunga. Anak itu lalu ikut menanam bunga, tapi langsung dicabut lagi.
Kalau saja tangan Vean tidak kotor, pasti sudah Vean cubit pipi gembul itu.
"Tu, Dy, tu!"
Wajahnya mulai mewek, geli melihat hewan itu.
"Ayo, Yuki cuci tangan."
"Daddy cuci ngan uga."
"Iya, Daddy juga cuci tangan."
"Wah, akhirnya ada juga yang Yuki takuti."
"Jangan iseng deh, Jun!"
Juna hanya terkekeh saja. Pria itu menyeruput kopinya. Vean harus memastikan tangan Yuki benar-benar bersih.
"Yuki, Faustin, ayo sarapan dulu. Dhea mana?" tanya dokter Stevie.
"Lagi bikin kue di rumah Sheilla."
"Ue lat?" tanya Yuki.
"Iya, kue coklat."
Yuki langsung turun dari gendongan Vean, dan menarik tangan Faustin ke rumah Sheilla, disusul oleh dokter Stevie.
"Tuh anak berdua terus, ngalahin Vean sama Dhea."
Mereka tertawa, kecuali Vean tentunya. Faustin bahkan kini menggendong Yuki di punggungnya.
"Duh, masih bocil tapi romantis banget."
Juna sengaja memanasi Vean, agar pria itu kesal. Dokter Petter tidak bisa berhenti tertawa. Ya harus dokter Petter akui, di antara semua anak kecil, hanya Yuki saja yang bisa dekat dengan Faustin.