
"Sekali lagi, terima kasih untuk kalian semua."
Vedea ....
Nama brand yang cukup terkenal yang berasal dari luar negeri. Siapa sangka ternyata pemiliknya adalah orang Indonesia. Memang tidak ada yang tahu wajah pemiliknya. Sering memenangkan kompetisi.
"Nona Dhea, kenapa brand Anda diberikan nama Vedea? Apa ada makna khusus?"
"Vedea itu berasal dari bahasa Rumania. Tentu saja ada makna khusus untuk saya. Vedea artinya melihat. Dengan membuat brand ini, membuat saya melihat masa depan yang baru, melihat mimpi yang lain. Membuat orang-orang juga melihat saya sebagai seorang designer. Melihat saya sebagai seorang yang bisa bermanfaat untuk orang-orang di sekitar saya, meski tidak menjadi seorang dokter seperti yang saya cita-citakan dulu. Membuat saya dan orang-orang melihat dalam segala hal dari segala sudut pandang."
"Aku kira Vedea itu singkatan dari Vean dan Dhea," celetuk Vean cukup keras, dengan nada kecewa.
Wajah Dhea memerah.
Itu juga, sih. Tapi mana mungkin juga aku mengatakan yang satu ini, kan?
"Vedea membuat saya melihat masa depan, bukan melihat masa lalu, dan saya benar-benar bersyukur memiliki Vedea ini."
Dhea turun diiringi tepukan tangan.
Vean tertegun ....
Dia jadi teringat satu hal ....
Vedea, nama yang dia lihat ada di buku sketsa di kafe Swiss. Buku sketsa yang ditinggalkan seseorang di meja tempat dia berada.
Ternyata, itu benar-benar kamu.
"Apa ... apa kamu yang suka memberikan baju-baju untuk anak-anak?" tanya ibu panti, yang bernama Sandra.
Dhea hanya tersenyum saja. Dia memang rutin mengirimkan baju-baju itu. Tidak secara langsung, tentu saja.
Dia meminta Aila yang memberikannya. Mengirim ke Jakarta, lalu diganti kemasannya. Jadi orang-orang hanya tahu kalau pengirimannya adalah Aila.
Ya, Dhea benar-benar memperhitungkan semuanya, benar-benar menutup jejaknya agar tidak tercium siapa pun.
"Aku nanti berencana untuk membuat kos-kosan dan konveksi di dekat rumah. Adik-adik bisa kerja di sana kalau mau. Mereka juga bisa tinggal di kosan."
Sandra mengusap sudut matanya.
"Terima kasih, Dhea."
"Aku yang seharusnya makasih, Bu. Tanpa ibu yang membesarkan aku, mana bisa aku seperti ini."
Mereka kini berkumpul di rumah Dhea, untuk merayakan keberhasilannya.
"Yang lain, setelah keluar dari panti, banyak yang lupa sama panti. Mungkin mereka malu, atau ingin menikmati kesuksesan sendiri. Tapi ada juga yang masih tetap berkunjung dan memberikan rejeki untuk anak-anak panti," ucap Arya.
"Dhea ... waktu SMP udah ninggalin panti karena dapat beasiswa di SMP itu. Cukup jauh dari panti, jadi kos di tempat ibu kos. Dia kerja, padahal mana boleh mempekerjakan anak di bawah umur. Jadi dia hanya kerja di belakang, jadi tukang cuci piring. Paling sekali-kali saja ke depan, kalau kafe lagi ramai. Itu juga pakai surat perjanjian, kalau dia bekerja bukan atas paksaan. Padahal bu Dahlia tidak keberatan ngasih dia ongkos sekolah dan buat jajan. Nanti uang kerjanya, sebagian di tabung buat dia sendiri, sebagian di kasih ke adik-adik."
Juna dan Vean jadi teringat pertama kali melihat Arya. Penampilan Arya dengan rambut gondrong dan sedikit berantakan. Pasti pria itu juga bekerja banting tulang untuk panti asuhan.
"Terus, yang lain pada ke mana?"
"Yang masih ada kabar, ada yang jadi guru, sopir, ada yang sudah nikah. Ya banyak, lah."
...💦💦💦...
Pembangunan untuk kosan dan konfeksi dimulai. Dhea sendiri yang mendesign semuanya. Tapi untuk urusan yang lainnya, tentu saja dibantu oleh mereka.
Dhea pagi ini mengecek ke tempat pembangunan.
"Pak, kok ini banyak banget ya, bahan bangunannya?"
"Ini sudah sesuai dengan pesanan."
"Masa, sih? Salah kali, Pak."
"Benar, kok. Kan untuk lantai atas membutuhkan bahan yang banyak, Mbak."
"Lantai atas?"
"Iya. Mau bikin empat lantai kan, Mbak? Kosan tiga lantai, konveksi empat lantai juga."
"Hah? Tunggu, Pak, pasti ada yang salah ini."
Dhea langsung berlari menuju rumah Arya. Untung saja mereka tetanggaan, dan untung saja sekarang hari Sabtu.
"Kak Arya!" teriak Dhea.
Para tetangganya, langsung keluar rumah, ingin tahu apa yang terjadi.
Biasalah, kepo!
"Jeng, Jeng, Jeng, itu tetangga kita ada apa, sih? Teriak-teriak begitu pagi-pagi?" ucap Clara, pada Aila.
"Enggak tahu juga, Jeng. Yuk kita samperin, lumayan buat bahan obrolan nanti sore sambil ngerujak."
Mereka malah cekikikan, lagi main drama jadi tetangga nyinyir. Ada-ada saja memang tingkah para tetangga itu.