Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO EPisode.15


"Aww,," rintih Jani saat Revin mengobati lukanya.


"Tahan ya," ucap Revin lembut seraya tersenyum hangat.


Jani yang melihat senyuman Revin,seketika terdiam seakan dirinya terhipnotis akan senyuman Revin.


Entah kenapa melihat luka Jani. Revin jadi mengingat perkataan Mamahnya.


"Mamah di tolong sama wanita yang menolong Mamah waktu itu dan karena menolong Mamah. Kaki dia jadi terluka."


Revin menatap wajah Jani pekat. Ia masih teringat perkataan Mamahnya beberapa hari yang lalu.


"Kepala Mamah pusing lalu Mamah di tolong dan di anter pulang dengan seorang wanita yang memakai baju seragam sekolah seperti kamu."


Ucapan Mamahnya selalu teriang-iang di pikirannya.


"Kaki lo kenapa bisa luka kayak gini? Lo jatuh dimana?" tanya Revin yang sudah selesai mengobati lukanya Jani.


"Mmm,,,i-itu kemaren gw. Nggak sengaja ke sandung jadi jatuh deh." jawab Jani gugup.


"Kemaren lo pergi kemana?" tanya Revin.


"Kepo banget sih lo. Udah selesaikan ngobatinnya?" tanya Jani dan menuruni tempat tidur UKS. Baru ingin melangkah Revin sudah mencekal tangannya.


"Mau kemana?" tanya Revin datar.


"Kelas," jawab Jani sambil mencoba melepaskan cekalan dari Revin.


"Bareng," ajak Revin dan menggandeng tangan Jani.


"Lepas,gw bisa jalan sendiri." tolak Jani melepaskan diri dari genggaman Revin. Tapi Revin terus berjalan mengabaikan ucapan Jani.


Ia terus menggenggam tangan Jani dengan erat,seakan ia tidak ingin melepaskan Jani dari genggamannya.


Sepanjang jalan banyak siswa dan siswi yang memperhatikan mereka. Jani hanya bisa menundukkan wajahnya ke bawah. Sampailah mereka di depan kelas.


Sebelum masuk kelas,Jani segera mungkin melepaskan genggaman Revin dari tangannya. Revin yang lengah sehingga genggamannya terlepas dari Jani,ia hanya tersenyum miring.


"Mungkin sekarang lo bisa terbebas dari genggaman gw. Tapi nanti jangan harap lo bisa terbebas dari gw." -batin Revin.


Bel sekolah pun berbunyi pertanda jam istirahat selesai. Murid-murid sekolah pun memasuki kelasnya masing-masing.


"Kalian berdua udah ada di kelas aja." ucap Fero yang sudah duduk di bangkunya.


"Tau nih. Kitakan ke kantin bareng tapi kalian malah pada duluan ke kelas tinggalin kita." timpal Fani.


Pulang sekolah Jani memutuskan untuk mampir ke suatu Cafe yang biasa ia kunjungi. Sampai di Cafe,Jani memilih tempat yang sepi dari para laki-laki.


Sebelumnya Jani sudah memesan minuman dan camilan terlebih dahulu. Kemudian ia duduk di salah satu bangku yang ada di Cafe tersebut. Jani mengeluarkan ponselnya dan memainkannya sembari menunggu makanannya datang.


"Hayy,," sapa seseorang pada dirinya.


Aktivitas Jani terhenti sejenak,kemudian menoleh ke arah seseorang yang menyapanya. Detik itu juga Jani tahu bahwa cowok yang ada di hadapannya ini adalah cowok yang sering kali ia tolak ajakkannya. Cowok itu adalah Devan.


"Boleh ikutan duduk?" tanya Devan,yang hanya di jawab anggukkan oleh Jani.


"Nggak nyangka banget ya. Kalo kita bisa ketemu di sini." ucap Devan yang sudah duduk di hadapan Jani.


Beberapa saat Devan menunggu respon dari cewek di hadapannya. Namun Jani pun masih terdiam. Meski sikap dingin Jani,tak membuat Devan menyerah begitu saja.


"Lo di sini sendirian?" tanya Devan basa basi.


Jani menjawabnya dengan anggukkan kepala. Menurut Jani pertanyaan yang Devan ajukan cukup ia jawab dengan bahasa tubuh,tanpa harus mengucapkan kata-kata.


Lagi pula Jani belum sepenuhnya mengenal Devan dan yang terpenting Jani tidak tertarik dengan cowok yang berada di hadapannya saat ini.


"Bukannya lo punya adik? Eh,maksud gw kembaran lo." ucap Devan masih terus mencoba mengajak Jani berbicara. Namun respon yang di berikan Jani masih sama.


"Lo sehatkan Jan?" tanya Devan pada Jani yang sedari tadi hanya terdiam.


Kening Jani berkerut,ia tak paham dengan pertanyaan Devan.


"Dari tadi gw tanya kok lo diem mulu." ucap Devan lagi.


"Salah?" tanya Jani dengan wajah datar.


Devan buru-buru menggeleng. "Lo..." ucapan Devan terpotong karena Jani menyela omongannya.


"Diem bisa?" tanya Jani yang merasa Devan sudah terlalu banyak bertanya dan membuat Jani menjadi tak nyaman.


Setelah Jani mengucapkan kalimat tersebut,di antara ke duanya sama-sama tidak berbicara apapun. Devan pun akhirnya memilih diam dari pada terus bertanya dan tidak di tanggapi Jani.


Tanpa mereka berdua ketahui,seseorang sejak tadi memperhatikan interaksi di antara ke duanya. Fokusnya bukan pada apa yang mereka bicarakan,karena jelas terlihat jika yang sejak tadi bicara adalah Devan.


Namun yang menjadi fokus tatapannya adalah sikap Devan yang terlihat sok dekat dengan Jani. Melihat pemandangan tersebut membuat Revin mengepalkan ke dua tangannya dengan ekspresi yang akan membuat siapa pun tak berani menatapnya.


Ya orang itu adalah Revin yang sudah mengikuti Jani dari pulang sekolah tadi. Karena Revin masih sangat khawatir jika terjadi apa-apa dengan Jani di jalan.


"Gw pastiin lo akan menyesal karena udah berani deketin Jani." gumam Revin.