Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
165 Antara Anak Dan Orang Tua


"Memangnya kenapa kalau kami anak yatim-piatu?" tanya Arya dengan geram.


Itulah yang dia tidak suka, jika seseorang sudah mengungkit latar belakang mereka sebagai anak panti asuhan. Memangnya mereka yang meminta dibesarkan di sana? Memangnya mereka bisa memilih siapa orang tua kandung mereka?


Lampu rumah Dhea akhirnya menyala juga. Vean ingin ke sana, tapi dicegah oleh Arya.


"Biarkan dia sendiri dulu. Nanti juga dia akan keluar." Sebagai orang yang mengenal Dhea sejak kecil, Arya yang paling paham bagaimana gadis itu.


Di dalam rumahnya, Dhea menghela nafas berkali-kali. Dia sudah sedikit lebih tenang sejak siang tadi mengurung diri di kamarnya tanpa penerangan sedikit pun. Gadis itu membasuh wajahnya, dan mulai menyalakan lampu.


Dhea melihat orang-orang yang sedang duduk di halaman rumahnya.


"Kalian nyalain api unggun?"


"Habis rumah kamu gelap, kita nyalain api unggun, deh."


"Ini Mas, Neng, baksonya."


"Satu lagi, Bang."


Sejak tinggal di sini, teman-teman Dhea—termasuk Vean dan Juna—lebih merakyat.


Ini bukan lingkungan yang terlalu elite—yang jarak dari rumah ke rumah satu cukup jauh, bukan juga dari gerbang ke pintu utama harus menggunakan mobil, bukan juga pedagang keliling tidak bisa masuk ke daerah ini.


Banyak sampah kulit kacang yang sudah dikumpulkan menjadi satu.


"Gak sekalian kalian bikin tenda di sini?"


"Yuk, bikin tenda. Tapi aku gak bisa bikinnya," ucap Fio.


"Gak usah ngomong!"


"Dih, siapa juga yang mau jadi pacar kamu!"


Dhea tertawa, lalu menerima bakso yang diberikan oleh Abang bakso.


"Kamu ... jangan pikirkan apa yang orang-orang katakan."


"Hufft, ini bukan hanya masalah antara aku dan Fio. Tapi ... apa yang mereka katakan tentang mungkin saja aku ini anak haram. Anak pelacur, bapaknya penjahat ...."


"Dhea ...."


"Ya, logikanya saja, kan? Seberapa banyak bayi yang dibuang karena faktor ekonomi atau lahir di luar pernikahan? Banyak kan, berita yang kita dengar tentang anak yang dibuang—atau dibunuh, karena tidak mau menanggung aib? Bisa saja aku anak hasil pemerkosaan, atau hasil perselingkuhan, atau pergaulan bebas tanpa tanggung jawab."


Dhea kembali terisak. Seharian dia memikirkan ini.


"Makanya tidak ada yang datang untuk mencari aku."


"Berarti aku juga bisa begitu, kan?" ucap Arya.


"Aku tidak membicarakan soal Kak Arya atau anak panti lainnya. Tapi memang iya, kan, alasan anak-anak panti yang ada di mana pun—dibuang."


"Bukan salah kalian, bukan salah kalian!" ucap Vean.


"Coba lihat tuh, Andre dan yang lainnya, ditinggalin di depan pintu panti tanpa surat atau peninggalan apa pun. Tidak ada tuh, orang tua yang mengetuk pintu untuk meminta panti mengurus mereka."


"Siapa pun kalian, yang penting kalian adalah orang-orang baik. Tidak peduli apa kata orang, kami bisa menilai sendiri. Kalau kalian anak penjahat, toh kalian tidak berniat jahat juga sampai sekarang. Kalau kalian anak pelacur, toh kalian tidak melacurkan diri. Kalau kalian anak hasil perselingkuhan, toh kalian tidak menjadi selingkuhan siapa pun. Kalau kalian anak hasil pergaulan bebas, toh kalian juga tidak hamil atau menghamili di luar nikah. Kalian adalah kalian, orang tua kalian ya orang tua kalian. Anak tidak harus mengikuti jejak orang tuanya," ucap Vean.


"Tapi Om Bram dokter, Juna jadi dokter. Kamu Vean, om Candra jadi pengusaha, kamu jadi pengusaha. Papaku juga pengusaha, aku ngikutin—ya walau dipaksa, sih."


"Fio! Aku suntik rabies nih!"