Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
200 Putih Biru Abu-abu


"Fio!"


"Tega sekali kalian meninggalkan aku. Kenapa tidak menunggu aku dapat pasangan, baru menikah?"


Vean bernafas lega. Hampir saja dia menjadi seorang pembunuh.


"Selamat ya, My Bestie." Fio memeluk Dhea, tapi mendengus pada Vean.


"Aku doakan kamu juga segera menyusul."


"Iya, nanti kita punya anaknya barengan. Biar bisa satu kelas, ya."


Mereka mengalihkan perhatian saat terjadi sesuatu yang tidak terduga.


"Hah?"


Orang-orang berseragam SMP dan SMA datang memenuhi tempat itu.


"Selamat menempuh hidup baru!" teriak mereka.


"I ... ini serius?"


Bukannya datang dengan memakai gaun dan jas, tapi teman-teman Dhea saat SMP dulu, memakai seragam SMP, sedangkan teman-teman Vean saat SMA, memakai seragam SMA.


Seorang perempuan berseragam SMP maju begitu juga dengan seorang pria berseragam SMA.


"Kak Vean?"


"Ya, Dhea."


Mereka adalah Vean dan Dhea KW. Sedangkan yang asli saling pandang, tidak menyangka dengan aksi teman-teman mereka. Bahkan senior Dhea yang menjadi panitia MOS dulu juga ikut memakai seragam SMP.


"Kak, Vean, calon suami, i love you," ucap Dhea KW pada Vean KW.


Wajah Vean asli memerah. Mereka semua melakukan reka ulang saat MOS dulu.


"Kak, baca doa dulu sebelum makan cokelat ini."


"Kenapa?"


"Karena sudah aku jampi-jampi ...."


Astaga, kenapa mereka semua masih ingat, bahkan tidak ada yang kurang sedikit pun.


Tamu-tamu tertawa, melihat drama itu. Mereka tidak tahu saja kalau itu memang kejadian sebenarnya.


Sejauh video diputar di layar yang sangat besar. Menampilkan Dhea asli saat masih SMP dulu, saat Dhea menembak Vean dan memberikan surat cinta.


Jadi, mereka memang sudah mengenal sejak dulu?


Tidak ada Fio, di sana.


Wajah Vean semakin malu. Di rekaman itu, jelas terlihat bagaimana Dhea yang selalu menggodanya dengan cara lucu dan unik.


"Benar-benar luar biasa," ucap para orang tua.


Tawa dan rasa haru bercampur menjadi satu.


Fio kembali menangis.


"Aku iri. Ini gara-gara papa dan mama yang memaksa aku ikut pindah. Kalau tidak, aku pasti punya juga kenang-kenangan bersama Dhea saat SMP."


Fio langsung memeluk lengan Arya, yang langsung dilepas oleh pria itu.


"Aku bukan tiang tempat kamu berpelukan," ucap Arya.


"Dan aku bukan pohon untuk kamu berputar-putar," ucap Juna.


Fio tidak peduli, dia menarik lengan dua pria itu dan merangkulnya.


"Jangan berantem dan berebutan aku," ucap Fio dengan percaya diri.


Mereka masih menonton video itu, di mana Dhea pura-pura bertanya soal pelajar, tapi saat dijelaskan, gadis itu malah memerhatikan wajah Vean. Juga terekam saat Juna yang ada di kejauhan.


"Dhea lucu ya, Pa?" ucap Friska.


"Iya, dan memang gadis seperti itu yang cocok dengan putra kesayangan kita."


Video-video itu sudah jelas menunjukkan pada orang-orang, kalau memang Dhea lah yang lebih dulu mengenal Vean, yang lebih dulu menyukai pria itu, bahkan sebelum kehadiran Fio.


Dhea berdehem, lalu menatap Vean.


"Kak Vean, cinta pertamaku. Terima kasih sudah mau bersama aku."


"No, aku yang berterima kasih. Terima kasih selalu setia menunggu aku, bersamaku di saat suka ataupun duka. Terima kasih karena sudah mengorbankan banyak hal padaku, menjadikan aku pria yang ternyata bisa sangat berharga untuk kamu."


Vean mengusap sudut matanya.


Dia berdoa kebahagiaan ini akan selalu ada, sampai kapan pun.