Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.10


Dapat terlihat dengan jelas kondisi Jani yang sangat ketakutan.


"Jan,lo nggak papa?" tanya Revin khawatir. Ya orang yang baru saja mendobrak pintu adalah Revin.


Sampai di depan Jani,Revin langsung membuka ikatan pada tangan dan kaki Jani. Baru saja Revin akan menggendong Jani,namun sudah terlebih dulu Jani bangkit dan memeluknya erat.


"Gw takut Rev." ucap Jani lirih dan menangis di pelukkannya.


"Jangan takut." tutur Revin lembut.


"Gw takut,,takut.." ucap Jani tetap menangis,ia benar-benar takut.


"Gw ada di sini,di samping lo." ucap Revin seraya mencium puncak kepala Jani.


Jani tersenyum manis "Makasih Rev,,makasih."


Entah kenapa mendengar ucapan Revin,perasaan Jani jadi jauh lebih tenang. Perilakuan Revin terhadapnya mengingatkan ia dengan orang itu. Yang pernah menenangkannya di saat ia sedang ketakutan saat itu.


\* \* \*


Semenjak kejadian kemarin,Jani sama sekali belum berani untuk berangkat ke sekolah. Bahkan sudah tiga hari sejak kejadian itu terjadi,namun Jani masih enggan untuk ke sekolah.


Traumanya dengan kejadian tersebut masih terus berputar dalam memori otaknya. Jani sama sekali tidak bisa membayangkan jika ia akan selamanya berada di tempat mengerikan itu.


Beruntung sekali Revin dateng di saat ia benar-benar membutuhkannya. Jani tidak bisa menahan senyumnya,ketika ia terus mengingat kejadian saat Revin menolongnya.


"Heh,jangan senyum-senyum sendiri Jan. Ntar kesambet loh." ucap Fani.


Jani langsung tersentak saat seseorang menggoyangkan pundaknya. Ia menoleh dan mendapati sahabat-sahabatnya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kalian sejak kapan disini?" tanya Jani sambil membenarkan posisi duduknya.


Jani kemudian bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati sahabat-sahabatnya yang sudah duduk di sofa kamarnya.


"Baru sampai kok" jawab Mia.


"Lo udah baikkan?" tanya Vina khawatir.


Vina memang orang yang pertama kali tahu kejadian yang Jani alami di sekolah dari Revin. Sebelum memberitahu ke Vina,Revin juga sudah meminta izin ke Jani.


"Udah kok,besok gw udah mulai masuk sekolah." jawab Jani.


Fani menghela nafas lega "Sorry ya,kita baru bisa kesini sekarang!" kata Fani.


"Iya Jan,sorry banget. Kemarin-marin kita sibuk sama urusan OSIS." tambah Mia dengan wajah bersalah.


Jani tersenyum ke arah ke tiga sahabat-sahabatnya.


"Nggak papa,santai aja. Makasih udah mau kesini." ucap Jani tulus.


"Lo beneran nggak kenapa-kenapa kan Jan?" tanya Vina memastikan.


"Gw nggak papa kok." jawab Jani meyakinkan sahabatnya.


"Soalnya kemarin Revin marah banget pas dia tau kalo lo di kurung di dalam gudang." ucap Vina. Jani hanya mengangkat sebelah alisnya ke atas.


"Anjiirr... Cowok lo So Sweet banget Jan. Dia dateng di saat lo membutuhkannya. Udah kayak Super Hero." seru Mia heboh.


"Apaan sih,cowok gw siapa? Gw nggak punya cowok." ucap Jani bingung.


"Nggak di akuin nih? Apa harus di tempak dulu sama Revin,baru lo mau ngakuin dia?" tanya Vina menggoda.


"Jangan gitu Jan. Dia itu perfeck pake banget." ucap Mia.


"Paket lengkap" tambah Fani.


"Kalian ngomongin apaan sih?" tanya Jani salah tingkah.


"Revin cowok lo" ucap sahabat-sahabatnya bersamaan.


Jani seketika terdiam,ia menatap ke tiga sahabatnya yang tengah tersenyum ke arahnya.


\* \* \*


Seperti biasa setiap pulang sekolah Revin dan teman-temannya berkumpul di rumahnya. Karena hanya di rumah Revin lah yang sangat nyaman untuk mereka singgahi. Ya meskipun Revin tinggal dengan mamahnya tapi karena mamahnya jarang ada di rumah. Sehingga mereka merasa bebas jika berada di dalam rumah Revin.


"Lo nggak jalan sama Fani?" tanya Aldi pada Fero.


"Niatnya sih gitu,tapi si Jani ngajakin Fani jalan-jalan ke mall sama teman-temannya." jawab Fero tampak kecewa karena tidak bisa keluar dengan kekasihnya hari ini.


"Santai bro,masih ada kita-kita disini. Jadi lo nggak usah galau gitu." ucap Aldi yang mencoba untuk menghibur temannya itu dan Fero hanya menganggukkan kepala.


"Eh Rev,lo sendiri kapan nih mau nembak si Jani?" tanya Aldi sambil menepuk pundak Revin.


"Nggak tau" jawab Revin singkat.


"Heh,,kalo lo kelamaan mikir terus. Nanti yang ada si Devan itu nembak Jani duluan. Bisa gila sendiri lo." ucap Aldi.


"Nggak bakal" ucap Revin santai.


"Maksud lo?" tanya Fero bingung.


"Jani nggak suka sama Devan. Jadi nggak mungkin dia terima cintanya Devan. Dan satu hal yang perlu kalian tau,Jani itu sukanya sama gw" ucap Revin bangga. Aldi dan Fero langsung mencekik leher Revin.


"Anjiirr... Nggak usah kepedean lo." seru mereka bersamaan.


"Sakit bego" kata Revin setelah berhasil melepaskan diri dari sahabatnya.


"Es batu kayak lo bisa ngomong gitu juga ternyata!" sindir Vino.


Ya seperti itulah Revin,apa yang ia katakan harus selalu benar. Tidak perduli apapun itu dan karena hal itu,Revin sering kali ceroboh dalam memutuskan suatu perkara.


"Yang ini apa yang ini?" tanya Fani untuk yang kesekian kalinya.


"Yang dongker aja Fan." jawab Jani mantap.


"Oke,gw ambil ini." Fani menyerahkan baju tadi ke salah satu pelayan yang ada di sana.


"Sekarang kita mau kemana?" tanya Mia menatap ke tiga sahabatnya bergantian.


"Gimana kalo makan dulu. Terus ntar kita lanjut jalan!" jawab Vina mengeluarkan pendapat.


"Setuju,," seru mereka bertiga bersamaan.


Ke empatnya tertawa bersama. Hari ini Jani sengaja mengajak sahabat-sahabatnya untuk menghabiskan waktu di luar rumah. Sudah lama sekali Jani tidak jalan-jalan bersama sahabatnya.


"Kalian bertiga pada mau pesan apa?" tanya Fani sambil membolak-balikkan buku menu yang ia pegang.


"Bau-bau mau di bayarin nih!" ucap Jani tersenyum jahil sambil menatap ke arah Mia dan Vina.


Mia menyenggol lengan Fani membuat empunya menoleh.


"Jelaslah,kan baru baikkan." ucap Mia menggoda.


"Apaan sih,biasa aja." ucap Fani dengan wajah yang sudah bersemu merah.


Mereka bertiga tertawa melihat tingkah sahabatnya ini. Fani dan Fero memang belum lama ini baikkan. Dengan banyak masalah yang membuat mereka salah paham,akhirnya mereka berdua bisa bersama lagi.


"Long last ya. Semoga nggak ada masalah lagi di antara hubungan kalian berdua." ucap Vina.


"Amiinn.. Thank's ya." ucap Fani tersenyum.


Fani beralih menatap Jani "Lo sendiri gimana? Kapan?" tanya Fani pada Jani.


Merasa di tanya,Jani menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Hah.. Maksudnya?" tanya Jani bingung.


"Kapan lo jadian sama Revin?" tanya Fani To The Point.


Jani sedikit tersentak mendengar pertanyaan Fani.


"Apaan sih? Orang dia nggak suk..." ucap Jani terpotong karena Vina menyela omongannya.


"Suka. Revin suka sama lo." tegas Vina.


"Gw rasa juga gitu. Lagian juga kalian udah mulai membaik kok hubungannya." ucap Mia membenarkan ucapan Vina.


Akhir-akhir ini memang Jani dan Revin sedikit banyak lebih akur.


"Mungkin sekarang Revin emang diem aja Jan,tapi gw mohon sama lo. Jangan pernah berpaling ke cowok lain. Lo bisakan?" tanya Vina menatap serius wajah Jani.


Jani hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


\* \* \*


"Anjayy,,berani banget tuh bocah!" ucap Mia sambil menggeleng-geleng kepala.


"Eh Rev,si Jani di tembak cowok lain tuh!" seru Aldi yang melihat Revin yang sepertinya tidak merespon apapun.


Revin tersenyum "Nggak bakal di terima" ucap Revin santai.


"Heran gw! Kok lo bisa yakin banget sih?" tanya Fero.


"Karena Jani cuma suka sama gw." jawab Revin bangga.


"Pedean lo" cibir Fani.


Revin hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya.