
Setiap Sabtu dan Minggu, Vean akan memberikan sumbangan kepada rumah-rumah yatim piatu. Juga membagikan sembako kepada para office boy, office girl dan sekuriti di kantornya.
Memang tidak ada yang memberi tahukan apa yang diderita oleh Dhea pada perempuan itu. Tapi Dhea adalah perempuan yang cerdas, dia tahu apa yang dia alami saat itu. Manfaat pernah membaca buku-buku kedokteran, juga pernah kuliah kedokteran meski hanya satu semester saja, memberikan Dhea banyak ilmu. Bahkan di waktu luangnya, sebenarnya Dhea masih membaca buku-buku tentang kesehatan dan kedokteran.
Pemeriksaan selanjutnya, hasilnya +2
Vean tidak lagi pergi ke perusahaan, semua dia kerjakan di rumah, meskipun Dhea sudah meyakinkan Vean kalau dirinya baik-baik saja. Untung saja ada Erza dan Bagas, juga beberapa orang yang sudah Vean rekrut.
Arya sendiri juga sekarang sudah bekerja lagi untuk perusahaan, agar bisa membantu Vean. Namun bekerjanya juga di rumah, membantu pria itu.
Orang-orang yang setiap minggu mendapatkan sembako fari bosnya itu, merasa senang, dan mendoakan bosnya, meski mereka tidak tahu apa yang sedang menimpa istri sang bos.
Berat badan Dhea meningkat drastis, akibat dari penyakitnya.
"Kak, aku berat, ya?" tanya Dhea, saat mereka sedang kumpul keluarga di hari Sabtu ini.
"Iya, kamu berat ...."
Mana mungkin Vean bilang kalau Dhea ringan, di saat tubuhnya memang membesar drastis. Terlalu membual dan mengada-ada mengatakan Dhea ringan.
"Tapi lebih berat lagi timbangan cintaku padamu," lanjut Vean, dengan muka memerah.
Terdengar suara tangisan.
"Yang, maaf. Bukan maksudku mengatakan kamu berat."
"Mau bilang aku seringan kapas, hah!"
"Bu ...."
Vean menatap yang lain, yang sedang menahan tawa.
"Huaaa, aku terharu, akhirnya Vean bisa menggombal juga. Aku pikir dia gak normal!" ucap Juna.
Dhea tertawa, sedangkan Vean mendelik kesal pada Juna.
Mereka tersenyum melihat Dhea yang tetap saja ceria dalam setiap keadaan. Ya, perempuan itu pasti sudah tahan banting dengan segala permasalahan hidup, meski hati tidak ada yang tahu. Mungkin dalam hatinya dia sedang menjerit dan menangis.
Menu makan Dhea sekarang semakin dijaga. Dijaga sejak awal saja, masih saja terkena. Vean juga ikut makan apa yang Dhea makan, tidak ingin dibedakan dengan istrinya.
"Kak Vean makan yang kain saja, gak usah nyamain sama aku terus."
"Gak, ini enak, kok."
Meskipun makanan itu terasa hambar, tapi Vean memakannya dengan nikmat. Apalah artinya rasa hambar jika dibandingkan dengan Dhea yang harus menahan semuanya.
"Ini juga bagus buat kita. Kemarin kita kebanyakan makan ini itu, sekarang waktunya pola hidup sehat," ucap Felix, yang diangguki oleh Steve.
Dhea tersenyum, merasa terharu dengan kekompakan mereka. Sayur-sayuran yang dikukus tanpa rasa, mungkin hanya memberikan rasa kenyang tanpa kenikmatan.
Dhea sendiri tidak masalah. Dia sudah terbiasa saat masih kost dulu. Perempuan itu terlihat biasa saja, tidak mengeluh sedikit pun. Vean benar-benar merasa beruntung memiliki istri yang tidak banyak menuntut dan merengek.
Malam harinya, Dhea belum juga memejamkan matanya. Berat badannya yang bertambah, membuat dia susah untuk bergerak. Rasanya sedikit sesak untuk bernafas.
Vean mengusap punggung istrinya, dan memberikan banyak bantal di sandaran Dhea.
Maafkan aku ....