Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
179 Pergi Ke KUA


"Aku mau bertemu dengannya."


"Siapa?"


"Ibuku. Aku mau bertemu dengannya."


"Dhea sudah bertemu dengan ibunya?"


"Aku ingat, saat aku masih sakit dulu, aku sangat ingin bertemu dengan keluargaku, meski untuk yang terakhir kalinya. Atau mungkin aku bisa bertemu dengan mereka di sana."


"Dhea, jangan bicara begitu."


"Nyatanya aku tetap bertahan. Mungkin Tuhan punya rencana lain, pikirku. Dan kini, aku mungkin diberikan kesempatan hidup, agar bisa bertemu dengan ibu. Saat mendengar kabar kalau ibuku sakit, aku jadi ingat diriku yang dulu. Mungkin apa yang dulu kurasakan, dirasakan juga oleh ibu saat ini. Jadi, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada."


"Kalau begitu, temui ibu kamu. Kami akan ikut menemani."


...💦💦💦...


Perasaan Dhea sulit dijelaskan saat ini. Dia tidak tahu haruskah senang, sedih, marah, atau kecewa.


"Kamu benar-benar sudah siap, kan? Jangan dipaksakan, kalau memang belum siap."


"Sudah, Kak. Sudah lama aku siap menjadi istrimu."


Wajah Vean langsung memerah. Masih sempat-sempatnya dia digombalin oleh gadis itu.


"Berarti kita ke penghulu, nih?" tanya Juna.


"Benar juga, ya. Kita datang serombongan gini, kaya mau nikahan."


"Udah, woy! Lihat noh, si Vean sampai keringat dingin. Gimana mau nikah benaran. Vean, Vean!"


Vean mencebikkan bibirnya. Padahal dalam hati dia benar-benar ngarep dibawa ke KUA.


Dan dalam hati juga, sudah menghapal ijab kabul.


Lima jam kemudian mereka tiba di tempat tujuan. Melewati jalan-jalan berbatu yang membuat tubuh mereka terguncang-guncang di dalam mobil.


"Kita enggak nyasar, kan?"


"Enggak. Nanti om-nya Dhea nunggu kita dekat tugu."


Tangan Dhea sudah keringat dingin. Dia merasa cemas dan rasanya ... ingin kembali saja.


Dia meneguk saliva-nya dengan susah, terasa pahit di mulut.


"Kamu tegang?"


"Iya."


"Jangan cemas. Ada aku yang akan selalu berada di sisi kamu."


"Ba ... bagaimana kalau ibuku ternyata ...."


"Jangan berpikiran buruk."


"Jangan berpikiran macam-macam. Kamu adalah kamu, ibumu adalah ibumu. Kalian berdua berbeda."


"Jangan sampai stress."


Vean terus saja mengingatkan Dhea. Karena stress bisa memacu penyakit dan mengganggu kerja organ tubuh.


"Itu dia."


Juna menghentikan mobilnya di depan tugu. Seorang pria bermotor butut sudah menunggu mereka.


"Ayo, ikuti saya."


"Masih jauh, Pak?"


"Kira-kira satu jam lagi."


"Ya ampun."


"Kamu lebih baik tidur dulu."


Dhea lalu memejamkan matanya. Dia malah semakin cemas. Bertanya-tanya, bagaimana reaksi dia nanti saat bertemu dengan ibunya. Juga bagaimana reaksi ibunya saat bertemu dengan dia.


Ekspektasi dia yang dulu—dengan yang terjadi sekarang, saat pertama kali bertemu dengan kerabatnya, ternyata jauh berbeda.


Dhea ingin menghilangkan rasa cemas ini, tapi bagaimana caranya?


Vean mengusap rambut Dhea, agar gadis itu merasa lebih tenang.


Arya melihat jalan yang mereka lalui. Memang sangat jauh dari kota. Para penduduk di desa ini mungkin hanya bertemu saja, sebagai mata pencaharian mereka. Atau bisa saja nelayan, karena dia juga merasa seperti ada suasana laut tidak jauh dari sini.


Vean meminum air putih. Untung saja mereka membawa makanan dan minuman. Dan untung saja, Dhea tidak nekat pergi ke sini sendiri. Apa jadinya kalau Dhea ke sini sendirian? Tidak, Vean tidak mau membayangkannya.


Beberapa rumah penduduk mulai terlihat. Itu pun jarang-jarang. Ada warga yang sedang membawa cangkul dan rumput-rumput di gerobaknya.


Ada juga yang membawa batang-batang bambu di punggungnya. Dhea jadi membayangkan, bagaimana kehidupan keluarganya di sini.


Melihat ini semua, Dhea merasakan sesak. Dia mengigit bibirnya, dan meremas tangan Vean tanpa sadar.


"Tarik nafas perlahan, Dhea!" ucap Juna, yang memperhatikan Dhea dari kaca spion.


"Ini, minum dulu."


Motor di depan mereka mulai tidak sekencang tadi. Mereka yakin tidak lama lagi mereka akan tiba di rumah ibu Dhea.


Apa pun kebenaran yang nanti aku dengar, aku harus bisa menerimanya.


Mereka berhenti di depan sebuah rumah. Dhea tidak langsung turun, masih melihat rumah itu, dan memikirkan orang yang menjadi penghuninya.


Kaki Dhea gemetaran saat turun dari mobil. Untung saja Vean memegang tangannya.


Mereka tidak bisa berkata apa-apa saat melihat tempat tinggal itu.


Benarkah dia tinggal di sini?