Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 51


"Fero lepas."


Ya,orang itu adalah Fero. Dia datang ke tempat itu karena ingin membuktikan bahwa Fani kerja di restoran sebagai pelayan dan sekalian ingin meminta maaf juga untuk kejadian yang di kantin waktu itu. Ia juga ingin meminta penjelasan pada Fani tentang apa yang dia dengar tadi di taman sekolah. Tapi siapa yang menyangka. Ia justru menyaksikan seseorang sedang memarahi kekasihnya. Sejujurnya sampai saat ini Fero masih menganggap Fani pacarnya. Karena di antara mereka belum ada yang mengucapkan kata putus.


"Kenapa lu diam aja di permalukan seperti itu. Seharusnya tadi itu lu marah. Bukan hanya diam aja."


"Apa urusannya sama lu.?"


"Jelas ini jadi urusan gue. Apa dia nggak bisa memberikan sedikit uangnya agar lu nggak lagi kerja di tempat jelek itu. Klo emang dia nggak bisa. Lebih baik lu batalkan aja pertunangan kalian."


"Dia? Pertunangan? Apa sih maksud lu,gue nggak ngerti.?"


"Hee.. Mau sampai kapan lu bohongi gue. Kalian pikir gue sebodoh itu yang bisa di tipu oleh kalian? Enggak."


"Lu ngomong apa sih? Sumpah,gue nggak ngerti apa yang lu omongin.?


"Lu mau bertunangankan sama si Defan itu. Ngakuu.!"


"Apa.!! Lu tau dari mana sih. Lagian siapa juga yang mau bertunangan sama dia. Lu salah paham,Fer."


"Nggak usah bohong. Gue udah dengar semuanya. Ternyata selama ini kalian ada hubungan di belakang gue. Bodoh banget selama ini gue bisa percaya sama lu."


"Mau sampai kapan lu selalu salah paham dan nggak mau dengar penjelasan gue dulu,Fer.? Seharusnya lu mikir. Bagaimana mungkin gue bertunangan sama orang lain. Sedangkan gue aja masih terikat hubungan sama lu."


"Owh.. Jadi lu merasa selama ini gue adalah penghalang untuk hubungan lu sama dia gitu.?"


"Enggak. Bukan itu maksud gue,Fer. Tolong dengar penjelasan gue dulu." sambil menggenggam tangan Fero.


"Cukuuupp.!!" seru Fero sangat marah dan menghempaskan genggaman Fani dari tangannya.


"Oke,jika itu yang lu mau. Mulai sekarang kita PUTUS." ucap Fero marah dan berlalu pergi meninggalkan Fani sendiri di taman itu.


"Tunggu,Fer. Dengarkan penjelasan gue dulu.!" seru Fani tapi di abaikan oleh Fero.


Fani terduduk lemas di kursi taman itu.


"Lu salah paham,Fer." gumam Fani lirih.


Wajahnya terlihat sangat sedih dan kecewa. Bahkan matanya pun sudah mulai berkaca-kaca. Fero sama sekali tidak perduli dengan dirinya. Ia justru meninggalkan Fani sendiri di taman itu.


"Bukan itu yang gue mau,Fer. Gue cuma mau lu dengar penjelasan gue. Bukan perpisahan yang seperti ini yang gue mau. Gue sayang sama lu,Fer. Kenapa lu nggak bisa merasakan itu. Kenapa lu harus mengambil keputusan tanpa mendengarkan penjelasan gue." ucap Fani di tengah tangisannya. Ia sudah tak sanggup membendung air matanya. Ia pun menangis di taman itu. Untungnya saat ini taman itu sedang sepi. Jadi ia bisa mengeluarkan kesedihannya yang selama ini ia pendam sendiri.


Tidak jauh dari tempat Fani duduk. Tanpa ia sadari sedari tadi ada yang menyaksikan pertengkaran dirinya dengan Fero.


"Gays lepasin tangan gue dong. Rasanya gue pengen tampol tuh si Fero."


"Lu bisa diam nggak sih. Berisik tau."


"Huft,,kalian nggak asik tau nggak. Buat apa coba kita di sini klo cuma jadi penonton doang."


"Sabar. Kita tunggu waktu yang tepat."


"Kurang sabar apa lagi coba. Klo key gini gue bisa punya penyakit darah tinggi karena menahan amarah."


"Yaudah nanti lu tranfer setengah ke gue. Gue kan darah rendah."


"Eh buset dah. Si Jani klo ngomong asal mangap bae."


Mereka adalah Jani,Vina dan Mia.


Drreettt...drreettt...drreettt...


Drreettt...drreettt...drreettt...


Drreettt...drreettt...drreettt...


Di tengah tangisannya ada yang menelphone Fani dan ia melihat layar hp-nya. Ternyata sang Mamah yang menelphone.


Sebelum mengangkat panggilan telphone dari sang Mamah. Fani menetralkan suaranya agar tidak terdengar seperti orang habis menangis.


📱Assalamu'alaikum,Mah.


📱Ada apa,Mah.


📲 Kamu cepat datang ke rumah sakit sekarang. Papah sudah sadar.


📱Mamah serius? Klo begitu Fani akan ke sana sekarang. Assalamu'alaikum.


📲 Wa'alaikumussalam.


Seketika Fani melupakan kesedihannya karena baru saja mendapat kabar yang selama ini ingin ia dengar. Fani pun kembali ke restoran untuk meminta izin. Setelah mendapat izin,ia langsung pergi menuju rumah sakit. Tidak beberapa lama Fani tiba di rumah sakit.


Dengan perlahan Fani membuka pintu kamar Papahnya di rawat. Setelah pintu terbuka pertama kali yang ia lihat adalah sosok Papahnya yang selama ini ia rindukan.


"Papah." ucap Fani lirih yang sudah tidak bisa membendung air matanya.


Fani masih terpaku di tempat. Ia masih tak percaya kini tiba waktunya yang selama ini ia harapkan. Papahnya tersadar dari koma dan kini sedang duduk di hadapannya.


"Kenapa diam di situ. Fani nggak kangen sama Papah." ucap Papah yang melihat putrinya hanya diam berdiri di depan pintu.


Fani tersadar dan langsung berjalan mendekati Papahnya.


*Grep*


Fani memeluk Papahnya dan menangis di pelukan sang Papah.


"Fani kangen banget sama Papah. Selama ini Fani selalu berdoa agar Papah tersadar dari koma dan kita bisa berkumpul kembali." ucap Fani menangis terisak.


"Papah juga kangen Fani. Alhamdulillah Tuhan masih mengizinkan Papah untuk bisa berkumpul dengan kalian." ucap Papah sambil mengusap kepala Fani lembut.


"Sudah jangan menangis lagi. Kamu jelek klo menangis." goda Papah sambil mengusap air mata Fani.


"Ish Papah." ucap Fani cemberut.


"Kamu ke sini dengan siapa?" tanya Papah.


"Dengan kami Om." ucap Vina yang baru masuk dengan kedua sahabatnya.


"Kalian." Fani tidak percaya bahwa sahabatnya ada di sini.


"Assalamu'alaikum,,Om. Gimana kabar Om sekarang?" tanya Mia sambil mencium tangan Papah Fani. Begitu juga dengan Vina dan Jani.


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah Om sudah lebih baik. Terima kasih karena selama ini kalian selalu ada di saat anak Om dalam keadaan sulit. Fani memang tidak salah memilih sahabat seperti kalian semua." ucap Papah Fani tulus.


Entah mengapa mendengar ucapan Papah Fani ada rasa bersalah di diri mereka pada Fani. Karena sesungguhnya selama ini mereka tidak pernah ada di saat sahabatnya itu dalam kesulitan.


"Alhamdulillah. Semoga lekas sembuh dan bisa beraktivitas kembali ya Om." kata Vina.


"Amin.. Terima kasih ya kalian sudah mau menjenguk Om."


"Sama-sama Om."


"Kalau begitu kami pamit pulang ya Om." izin Jani.


"Loh,kalian baru datang kok malah langsung pulang."


"Kita masih ada urusan Om." kata Vina.


"Owh,,yasudah jika seperti itu. Kalian hati-hati di jalan."


"Assalamu'alaikum,,Om." ucap mereka beri salam bersamaan dan mencium tangan Papah Fani.


"Wa'alaikumussalam." kata Papah Fani.


"Ada yang harus kita bicarakan." bisik Jani pada Fani.


Fani hanya bisa menganggukkan kepala. Ia tahu betul apa yang akan di bahas oleh sahabatnya itu.


"Fani antar mereka dulu ya Pah." izin Fani dan di iya kan oleh Papahnya.


Mereka keluar dari ruang rawat itu dan berjalan menuju taman rumah sakit.