
Pintu ruangan UGD terbuka, dokter Bram dan Juna keluar dari ruangan itu.
"Om, apa Dhea kehilangan banyak darah?" tanya Fio.
"Fio!" bentak Vean dan Arya.
"Pakai darahku saja, kalau Dhea butuh," lanjut Fio, tidak peduli dengan tatapan orang-orang.
"Dhea mengalami benturan, tapi baik-baik saja. Kakinya juga cedera ...."
"Tangannya tidak apa-apa kan, Om?" tanya Vean.
Mengerti dengan maksud pertanyaan Vean, dokter Bram mengangguk.
"Tidak apa. Tapi kita nanti bisa melakukan CT scan untuk memastikan. Kakinya terkilir, jadi harus menggunakan kursi roda dulu. Dia mengalami syok, dan sedang tidur. Nanti perawat akan memindahkannya ke ruangan perawatan."
Mereka bernafas lega mendengar keadaan Dhea.
Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, Vean menjaga Dhea di samping brankar itu. Kening yang dibalut perban, begitu juga dengan kakinya.
Tangannya lecet-lecet, tapi kata dokter Bram untung saja tidak ada yang fatal.
"Ganti baju kamu dulu, Vean. Nanti dilihat Dhea ada darah."
...π¦π¦π¦...
Dhea terbangun dari tidurnya, melihat ruangan apa itu.
"Kak ...."
"Syukurlah kamu sudah bangun."
"Apa yang sakit, Dhea?" tanya Arya.
"Badanku cuma terasa pegal-pegal dan ngilu."
"Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?"
Dhea mencoba mengingat-ingat.
"Oh, tadi kan aku mau ke kantor Kak Vean. Terus mau beli kue di seberang jalan. Karena gak mau putar arah, jadi aku parkir di sana dan menyebrang. Maaf sudah membuat kalian semua khawatir."
"Jangan diulangi lagi, ya. Sebaiknya kamu pakai supir saja, jangan lagi pergi sendirian."
Dhea mengangguk saja. Lebih baik menurut dan tidak membuat yang lain cemas.
"Iya."
"Polisi sedang mencari pelaku tabrak lari itu."
"Kamu makan dulu, setelah ini minum obat." Vean menyuapi makanan untuk Dhea.
"Gak pakai rendang, Kak?"
Vean tertawa, memang ada-ada saja tingkah Dhea itu. Memang hanya Dhea saja yang bisa membuat Vean tertawa, bahkan di saat seperti ini, gadis itu masih saja terlihat santai. Kalau itu orang lain, pasti sudah Vean gaplok.
Dhea menguap tidak lama setelah minum obat, kemudian tidur.
"Ini pasti sangat sakit," gumam Vean, melihat perban yang ada di kening dan kaki Dhea.
...π¦π¦π¦...
Lima hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Dhea sudah diijinkan pulang. Kakinya masih terasa sakit, jadi harus menggunakan kursi roda.
"Butik biar aku dan Micel yang mengurus, Dhea. Kamu jangan khawatir."
"Makasih ya, untung saja ada kalian berdua."
"Kalau mau ke mana-mana, biar Dimas yang mengantar. Di sini juga kamu tidak akan kesepian, kan ada ibu dan adik-adik yang bisa ke sini. Tinggal jalan kaki saja."
"Iya, jangan cemaskan aku."
Vean juga akan bekerja di rumah, kecuali ada meeting. Dia harus memastikan Dhea baik-baik saja, jangan sampai terjadi apa-apa lagi pada gadis itu.
Mereka ada di ruang tamu rumah Dhea. Vena sibuk dengan laptopnya, dan Dhea dengan rancangannya.
Ternyata bekerja beroda begini lebih menyenangkan.
"Kak Vean kenapa senyum-senyum?"
"Kau ingat waktu kita sekolah dulu. Duduk di taman sambil kamu pura-pura nanya soal pelajaran yang tidak kamu mengerti. Padahal nilai dapat seratus terus."
"Kan modus, Kak. Harus gercep sebelum ditikung orang."
Benar tertawa kembali.
"Kak Vean pura-pura sibuk. Padahal ngarep ya, Kak?"
Wajah Vean memerah, karena apa yang dikatakan oleh Dhea itu sangat tepat. Vean lalu menatap meja yang banyak coklat, cemilan mereka selama bekerja.