Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
220 Akan Selalu Ada di Sisinya


Dhea diperiksa oleh dokter terlebih dahulu. Dhea memang direncanakan akan melahirkan dini dan sesar, tapi ini juga belum waktunya. Jadi mereka terpaksa melakukan proses persalinan dengan resiko yang cukup besar.


"Tuan Vean, nona Dhea ingin bertemu dengan Anda."


Tanpa menunggu lama, dan diminta dua kali, Vean langsung menerobos ruang bersalin.


"Yang?"


"Kak ...."


Vean mengecup pipi dan kening Dhea, mengusap tangannya dengan lembut untuk memberikan kekuatan, meski tidak tahu apa akan ada gunanya di saat dirinya sendiri sedang cemas.


"Kak, berjanjilah padaku ...."


"Aku janji, tidak akan meninggalkan kamu."


"Kak, pilih anak kita!"


"Pilih? Maksudnya apa?"


"Selamatkan anak kita."


"Kamu dan anak kita akan selamat, Yang." Air mata Vean mengalir deras, dengan nafas tercekat seolah dia kehabisan oksigen.


"Kak, bawa anak kita pulang! Janji, ya!"


"Aku akan membawa kalian berdua pulang."


"Kak, aku sudah cukup merasakan pahit manisnya kehidupan ini. Anakku punya hak yang sama untuk merasakan indah dan suramnya dunia. Tapi ... aku yakin dia akan lebih baik daripada aku dalam menjalani kehidupan. Bawa dia pulang. Bawa dia pulang. Janji!"


"Tidak, aku tidak akan berjanji dengan sesuatu yang tidak bisa aku tepati."


"Kak, jangan kecewakan aku. Bawa anak kita pulang. Kalau harus memilih, pilihlah dia!"


Dhea menatap Vean dengan penuh permohonan, membuat air mata Vean semakin membanjir.


"Iya, aku akan memilih dia ...."


Dhea tersenyum, senyuman yang untuk pertama kalinya tidak Vean suka.


Bagaimana bisa kamu mengatakan semua ini padaku? Apa kamu ingin menyerah, apa kamu ingin meninggalkan aku dan anak kita? Bagaimana bisa kami tanpa kamu? Tolong berjuang lagi, bukan hanya untukku, tapi juga untuk anak kita.


Vean semakin merasakan sesak di dadanya. Dia takut, takut disuruh untuk memilih.


Memilih anaknya, membuat dia menjadi suami yang kejam. Melepaskan istri hanya demi memiliki keturunan. Apa nanti yang harus dia katakan pada anaknya?


Memilih istrinya, membuat dia menjadi ayah yang kejam. Melepaskan anugerah Tuhan yang dititipkan. Banyak pasangan suami istri yang ingin memiliki seorang anak, tapi dia malah melepaskan anaknya.


Apa pun yang dia pilih, tetap dia yang salah.


Bukannya Vean takut disalahkan oleh dunia, tapi ini sungguh berat.


Vean menangis tanpa suara. Dia memeluk tubuh Dhea dengan erat.


"Maaf Tuan Vean, sudah waktunya proses persalinan. Harap menunggu di luar."


"Tidak bisakah aku menemani istriku?"


Dokter hanya menggeleng, tidak tega mengatakan tidak. Andai saja semuanya normal, pasti Vean akan diijinkan mendampingi.


Kedua tangan itu masih saling menggenggam.


"Terima kasih, sudah mendampingi aku sampai saat ini, cinta pertamaku ...."


Dokter kembali menyuruh Vean keluar, karena sudah waktunya Dhea melahirkan.


"No ... no, Dhea. Jangan tutup pintunya, aku harus ada di sisinya. Jangan tutup pintunya! Aku harus mendampingi dirinya!"


"Vean, tenangkan dirimu!"


"Aku janji akan selalu mendampingi dia dalam setiap keadaan ... aku mau Dhea!" Vean berteriak dengan suara tercekat.


Juna dan Arya menahan tubuh pria itu, hingga Vean merosot ke lantai. Tangisan pria itu begitu menyayat hati. Membuat mereka yang mendengarnya merasa ngilu dan sulit bernafas.


"Sudah aku bilang, aku akan tetap ada di sisinya, apa pun yang terjadi ...."