
๐บย Di Dalam Mobil Feroย ๐บ
"Shiit." umpat Fero seraya memukul setir mobilnya.
"Ternyata hubungan kalian sudah sejauh ini. Jadi ini sebabnya kenapa lu engga hadir malam ini. Karena lu lagi mempersiapkan untuk hari pernikahan kalian." kata Fero yang sudah sangat emosi.
"Aaaggghhhh... Gue benci lu,,Fani.!!" seru Fero seraya meremas rambutnya frustasi.
Bugghh...bugghh...bugghh...
Berkali-kali Fero memukuli setir mobilnya dengan tangan kanannya. Setelah itu,ia pun menancap gas dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
๐น
๐น
๐น
Sehari sebelum pernikahan Defan. Fani sudah janjian dengan sahabat-sahabatnya untuk bertemu di suatu Taman.
"Hey,,guys.. Sorry banget ya gue telat." ucap Fani yang baru tiba.
"Ada apaan sih? Tumben banget lu minta kita untuk ketemuan di sini.??" tanya Mia.
"Sebenarnya ada suatu hal yang ingin gue kasih tau ke kalian." jawab Fani.
"Kasih tau apaan.??" tanya Vina.
"Sebenarnya gu--."
"OMG HELLOW... Jangan bilang lu mau kasih tau ke kita. Klo lu yang akan menjadi pengantin wanitanya si Defan." kata Mia yang langsung memotong ucapan Fani.
"Pala lu pengantin." ucap Fani.
"Jadi lu wanitanya.??" tanya Vina.
"Mana ada. Lu percaya aja omongannya si Mia mulut ember. Lu juga Mi klo ngomong suka engga ada remnya. Asal nyerocos bae." sungut Fani kesal.
"Hehehe sorry klo salah." kata Mia nyengir seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Terus lu mau kasih tau apaan.??" tanya Jani yang sedari tadi hanya diam.
Fani menarik nafas perlahan dan di hembuskan.
"Sebenarnya besok gue akan pindah ke luar negeri." jawab Fani.
"What..!!!" seru mereka bersamaan.
Betapa kagetnya mereka mendengar ucapan Fani yang secara tiba-tiba itu.
"Lu lagi ngeprank kita ya? Candaan lu engga lucu tau,Fan." kata Mia.
"Gue serius." kata Fani meyakinkan mereka.
"Klo memang lu mau pindah ke luar negeri. Terus kenapa lu baru cerita sekarang sama kita? Engga mungkin kan lu pindah secara mendadak.??" tanya Vina.
"Sorry.. Gue engga ada maksud untuk merahasiakan ini dari kalian semua... Gue cuma mau cari waktu yang tepat untuk menceritakan ke kalian." kata Fani.
"Terus menurut lu,,ini adalah waktu yang tepat gitu.??" tanya Jani menjeda ucapannya sambil menatap Fani lekat. "Lu salah,Fan. Justru ini membuat kita semua kecewa sama lu. Seperti yang gue jelaskan saat itu. Kita sahabat,Fan. Dan yang namanya sahabat itu engga ada kata 'Rahasia' terkecuali jika lu sudah tidak menganggap kita sebagai sahabat lu lagi." jelas Jani.
Fani hanya bisa diam dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa harus seperti ini sih? Klo lu punya masalah,,lu cerita ke kita. Insya Allah kita sebagai sahabat lu akan bantu semampu kita. Jadi lu engga harus pergi. Klo lu pergi,,terus nasib persahabatan kita bagaimana? Gue benar-benar engga rela jauh dari sahabat-sahabat gue." kata Mia yang sudah tidak bisa menahan air matanya.
*Deg*
"Sebenarnya ada apa,,Fan? Tolong jelaskan ke kita. Apa yang membuat lu harus pergi.??" tanya Vina.
"Seperti yang sudah kalian tau. Semenjak Bokap gue kecelakaan dan koma.. Keadaan Ekonomi di keluarga gue sangat berbeda jauh dari yang dulu.. Posisi gue yang masih sekolah terpaksa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga gue.. Setelah Bokap gue sadar dari koma. Beberapa hari kemudian Bokap gue bicara sama kita. Bahwa ia sudah memutuskan kita sekeluarga akan pindah ke luar negeri. Untuk memulai hidup dari awal." jelas Fani di tengah tangisannya.
"Klo cuma masalah Ekonomi,,lu tenang aja. Gue akan minta orang tua gue untuk bantu keluarga lu. Jadi lu engga harus pergi,Fani." kata Mia.
"Gue tau.. Kalian pasti dengan suka rela mau bantu keluarga gue. Tapi gue engga mau ngerepotin kalian.. Terutama Bokap gue. Beliau pasti menolak bantuan dari kalian karena sifat Bokap gue itu seperti gue. Yang engga mau merepotkan orang lain. Selagi beliau masih sanggup,,ya dia pasti akan usaha sendiri tanpa bantuan dari siapa pun.. Jangankan bantuan dari kalian,,Bokap gue aja menolak bantuan dari orang tuanya sendiri. Jadi gue sebagai anaknya bisa apa? Gue hanya bisa mengikuti kemana pun keluarga gue pergi." jelas Fani.
"Tapi engga harus pergi ke luar negeri,Fani.!!" jerit Mia dengan terisak.
"Maafin gue." lirih Fani.
Cukup lama mereka berbincang-bincang di Taman itu. Dan tidak terasa hari sudah senja. Mereka pun balik ke rumahnya masing-masing. Tapi tidak dengan Fani. Ia masih duduk di kursi Taman.
Berkali-kali Fani menghubungi seseorang. Tapi berkali-kali pula panggilannya selalu di tolak. Ia pun mengechat orang itu.
Fani :
Temui gue sekarang di taman x. Ada yg harus kita bicarakan. Gue tunggu ke datangan lu.
Pesannya hanya di red tanpa di balas. Tapi Fani tetap menunggunya. Karena ia ingin menjelaskan semuanya sebelum ia pergi. Sudah hampir dua jamย Fani menunggu tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan orang itu.
Fani pun mencoba untuk menghubunginya lagi. Tapi hasilnya sama saja. Tidak ada jawaban dari sana.
"Sebenci ini kah lu sama gue? Gue cuma mau menyelesaikan kesalah fahaman ini. Tapi kenapa lu engga pernah mau mendengarkan penjelasan gue,Fer." lirih Fani.
Ya,,orang yang sedari tadi Fani hubungi dan ia tunggu kehadirannya adalah Fero.
Sedangkan di tempat lain. Fero yang sedang duduk di halaman rumahnya. Sambil membaca chat yang Fani kirimkan tadi.
"Dulu lu blok nomor gue dan sekarang lu hubungi gue. Pasti lu akan membicarakan pernikahan lu dengan dia.. Gue engga akan pernah perduli lagi sama hubungan kalian. Silakan kalian bahagia di atas penderitaan gue. Tapi yang namanya 'Karma' engga akan salah alamat." kata Fero dengan wajah yang sudah merah menahan amarahnya.
*Ting*
Fani :
Lu dimana? Lu akan datang ke sini kan? Gue tunggu kedatangan lu.
Fero hanya membacanya tidak ingin membalas chat itu.
*Ting*
Fani :
Untuk sekali ini aja Fer. Tolong temui gue. Gue janji ini adalah terakhir kalinya kita bertemu. Pliiiss...
Fero menon aktifkan HP nya. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumahnya.
Fani masih setia menunggu kehadiran Fero. Tiba-tiba turun hujan dan membuat Fani kehujanan. Tapi ia masih tetap menunggu kehadiran Fero.
Fero yang sudah berada di dalam kamarnya. Ia melihat dari balik jendela yang ternyata di luar telah turun hujan. Dan membuat ia mengingat keadaan Fani.
"Apa mungkin dia masih di sana.??" tanya pada dirinya sendiri. "Engga mungkin. Dia bukan wanita b*** dia pasti sudah balik ke rumahnya. Dan mempersiapkan diri untuk besok." ucap Fero dan berjalan menuju tempat tidurnya.
๐งโโ๏ธ Author : Lu kok jadi cowok keras kepala banget sih Fer ๐ค
Fero : Yang buat gue seperti ini juga lu thor ๐
๐งโโ๏ธ Author : Masa sih ๐ค
Fero : Bodo amat. Kalau kata si Jani mah 'lu ngomong situ sama tembok' ๐ kabuuurrrr...