
Ada beberapa orang yang melihat kejadian itu. Bukan hanya melihat, tapi bahkan merekam sejak tadi. Tidak ada yang luput dari perhatian orang-orang itu.
Di sana, terlihat Yuki yang ikut merangkak dengan tangan dan lututnya. Untung saja jalanan itu diaspal, kalau tidak pasti telapak tangan dan kakinya sudah terluka. Anak itu melihat ember besar, lalu menutup dirinya dengan ember itu, alias ngumpet di dalam ember.
Faustin mengambil ember yang lain, kaku ikut bersembunyi seperti Yuki. Tidak ada yang memperhatikan kedua anak itu, karena mereka sibuk menyelamatkan diri sendiri dari alien yang menyerang bumi.
"Yuki, Yuki!" teriak Dhea. Belum ada satu menit Dhea meleng, Yuki sudah tidak ada. Vean langsung tengkurap, memeriksa kolong mobil.
"Dikira Yuki, kucing!"
"Ck, bukannya begitu. Kamu kan tahu sendiri, namanya anak-anak ada saja tingkahnya."
"Yuki!"
Kini Juna menarik beberapa kain, dan menjembreng-jembrengkannya.
"Kamu kira Yuki, semut!"
"Ya kali saja, nyelip di tumpukan kain."
Mereka lalu melihat ember bulat yang bergerak sendiri, seperti tempurung kura-kura.
Arya lalu mengangkat ember itu, Yuki terasa saja, lalu menarik lagi ember itu, namun ditahan oleh Arya. Balita menggemaskan itu lalu mendekati ember Faustin, lalu memberikannya pada Arya.
"Pet, pet ini."
"Enggak kuat kalau papa Arya ngumpet di sini."
"Long, long, pet long bil."
"Yang cocok ngumpet di situ, papi Juna."
"Pet Na, pet!"
Juna mendelik kesal pada Arya, lalu dia kembali menyiram Arya dengan air selang.
Siapa yang senang?
Tentu saja Yuki. Anak itu bertepuk-tepuk tangan. Anak itu berteriak nyaring, mengambil selang lagi dan menyiram Juna dan Arya.
Lumpur mengotori wajah mereka. Sudah tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana penampilan mereka.
"Kalian masih merekam?"
"Masih."
Mereka seperti sedang melakukan syuting film no sensor no cut no iklan.
Mobil dengan harga milyaran seperti tak berharga sama sekali. Banyak jejak mungil berupa tangan anak-anak. Yuki bahkan menepuk-nepuk mobil dengan tenaga dalamnya.
"Tin, Tin, nini."
Faustin mendekat.
"Bal bal. Bal oneka." Yuki menunjuk mobil itu.
"Jangan!" larang Felix.
Bagaimana bisa mobil mewahnya digambar boneka oleh anak-anak. Apalagi nanti hasilnya, bukannya seperti boneka, malah seperti tuyul.
"Nanti dimarahi Uncle Feli."
"Feli, Feli! Felix!"
Faustin hanya melirik Felix, tanpa mau meralat ucapannya. Felix menghela nafas, lalu menatap dokter Petter.
"Sepertinya dia hanya akan menurut pada Yuki saja."
Dokter Petter hanya tertawa.
Pluk
Karena bengong, mereka berdua malah kena timpuk lumpur lemparan dari Juna. Gang itu kini seperti habis terkena bencana tanah longsor, penuh lumpur dan genangan air.
Vean mengambil sisa sabun mobil. Sedangkan Dhea mengambil sampo dan sabun mandi.
"Pelan-pelan, Yang."
Mereka terpeleset-peleset karena licin. Untung saja dagangan para pedagang itu sudah habis, jadi mereka tidak rugi. Yuki masih mencetak telapak tangannya di setiap mobil.
Arya menggendong Yuki dengan gemas. Balita itu minta turun saat melihat ada bola renang. Sepertinya dia belum puas bermain.
"Yuyun, Yaya."
"Jangan lari-lari, nanti kamu jatuh."
Yuki kembali berteriak senang saat melihat Vean dan Dhea yang membawa botol.
"Yuki, sudah ya main airnya, nanti masuk angin. Mandi dulu, yuk."
Yuki langsung berlari, mengambil botol itu.
"Una, andi." Yuki menarik tangan Juna, ingin memandikan Juna.
"Gak."
"Andi, Una. Andi!"
Yuki menyuruh Juna duduk, lalu menyiramnya dengan air. Lalu balita itu memberikan Juna sampo di kepalanya.
"No, jangan, tidakkk!"
Terlambat, Yuki sudah menyampoi kepala Juna dengan sampo mobil.
Sepertinya nanti rambut dokter Juna yang ganteng itu akan bersih bersinar ... kinclong!