Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
86 Dia, Di Balik Pintu


"Dhea, syukurlah kamu bangun juga." Perkataan itu menyadarkan kedua insan yang masih saling bertatapan tanpa kata.


"Arya?" ucap Dhea. Suaranya tidak terdengar, hanya bibirnya saja yang bergerak. Arya langsung menekan tombol, lalu melihat Vean yang malah diam saja.


"Kenapa malah bengong? Bukannya memanggil dokter."


Arya menghela nafas, sepertinya Vean masih belum loading.


Tidak lama kemudian dokter Bram datang dan langsung memeriksa keadaan Dhea.


"Syukurlah, kamu sudah bisa dipindahkan."


Tidak lama kemudian, saat perawat membawa Dhea ke ruang perawatan pun, Vean masih diam saja.


Mereka bernafas lega karena Dhea sudah sadar, meski kondisinya masih sangat lemah. Dokter Bram menatap sendu gadis itu.


Dhea menatap mereka satu-persatu. Di sana semuanya ada, kecuali Fio dan kedua orang tua Fio.


Mungkin Tante Mila melarang Fio ke sini.


Dhea lalu kembali menatap mereka. Dilihat dari tatapan mereka, dia tahu kalau orang-orang ini Sidah tahu tentang kondisinya.


Tapi ....


Kalau begitu ....


"Dok ... ter ...."


"Maafkan, Om. Om sudah tidak bisa menyembunyikan semuanya lagi, Dhea."


Dhea mengedipkan matanya sekali, tanda kalau dia mengerti. Lagi-lagi Bram menghela nafas berat. Meskipun Dhea sudah dipindahkan dari ruang ICU, bukan berarti semaunya sudah baik-baik saja. Dhea hanya sudah sadar, bukan berarti sudah ada sembuh.


Mereka menatap nanar gadis itu. Kenapa di saat seperti ini, dia masih saja bisa tersenyum.


Tidak, itu tidak mereka sukai. Lebih baik mereka mendengar dia mengeluh sakit, tidak perlu menutupi apa-apa lagi. Tidak perlu menahan semuanya sendirian. Ada mereka, meski mereka tidak bisa merasakan rasa sakit itu, tapi mereka bisa menjadi tempat Dhea berkeluh kesah.


Tidak, bahkan selama mereka mengenal Dhea, dia tidak pernah mengeluhkan apa pun.


Sesekali Dhea menatap pintu, berharap kalau Fio mau datang.


Jangan berharap mereka akan datang menemui kamu, Dhea.


Mereka yang Dhea maksud adalah Fio dan Vean. Dia tidak pernah lagi melihat Vean sejak dia membuka matanya. Inilah yang dia takutkan, kalau Vean akan pergi. Lebih baik dia terus bermimpi.


Bukannya Vean tidak mau menemui Dhea. Pria itu ada, ada di balik pintu. Takut untuk bertemu dengan gadis itu.


Apa nanti yang akan dia katakan?


Terima kasih karena sudah memberikan ginjal milikmu?


Atau


Aku tidak pernah meminta ginjalmu, kenapa kamu berikan kepadaku?


Atau ....


Vean duduk di depan pintu kamar perawatan Dhea. Menjadi terasing di rumah sakit ini. Bagaimana bayangan yang takut-takut untuk menampakkan diri.


Pria itu meremas tangannya sendiri.


Dia merasa seperti Dhea dulu.


Dhea yang dulu ada di tengah-tengah keluarganya dan keluarga Fio. Dhea yang duduk menyendiri karena merasa asing dan terabaikan meski wajahnya selalu terlihat baik-baik saja.


Dhea yang selalu menampilkan senyum meski orang-orang mencibirnya sebagai teman makan teman.


Dhea yang ....


...💦💦💦...


"Fio ... Fio!" panggil Dhea.


"Dia tidak ada di sini."


"Aku mau bertemu, sekali saja."


"Dia ...."


"Tolong, untuk yang terakhir kalinya."


Mereka menunduk, meneteskan air mata mereka.


Untuk yang terakhir kalinya? Apa maksudnya itu?


"Aku juga mau bertemu dengan tante Mila."


"Untuk apa kamu bertemu dengan perempuan itu?"


"Mereka sedang sibuk, Dhe."


Dhea masih saja meminta untuk dipertemukan dengan Fio dan mamanya.


"Baiklah, kamu tunggu dulu."


Arya akhirnya tidak tega dengan Dhea. Pria itu lalu pergi ke kantor polisi. Dia ingin mengeluarkan Mila. Tentu saja tidak dengan bebas begitu saja. Mila akan keluar dari kantor polisi tapi bebas bersyarat.


"Terima kasih, Arya." Fio menggenggam tangan Arya, tapi langsung ditepis oleh pria itu. Fio hanya bisa menghela nafas. Sejak dulu Arya selalu bersikap galak padanya, apa sebegitu tidak sukanya Arya ada dia?


"Terima kasih, Arya," ucap Mila dan Ronald.


"Aku melakukan ini hanya karena Dhea. Dia meminta untuk bertemu dengan kalian berdua."


"Apa? Jadi Dhea sudah sadar?"


Arya diam saja, dia rasa perkataannya Sidah menunjukkan dengan jelas, kalau Dhea memang sudah sadar.


"Ingat, Dhea tidak tahu kalau mama kamu masuk ke penjara. Jadi tidak perlu cerita apa-apa. Awas kalau ngadu!"


Bukannya Arya takut ada yang mengadukan dirinya. Dia hanya tidak mau Dhea terlalu banyak pikiran, yang menyebabkan kondisinya semakin memburuk.