
🌺 Di Rumah Jani 🌺
"Lu mau kemana.??" tanya Jani yang melihat adiknya berpakaian rapih.
"Gue mau ke rumah teman dulu ya ka. Mau kerja kelompok." izin Juna.
"Yaudah jangan malam-malam pulangnya." kata Jani.
"Oke. Gue berangkat ya ka." pamit Juna. "Lu hati-hati di rumah." kata Juna.
"Iya. Lu juga hati-hati di jalan nggak usah kebut-kebutan." kata Jani.
"Siap. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
🌺 Di Rumah Revin 🌺
"Woy mainnya santuy dong." seru Aldi.
"Mana ada main beginian santai. Yang ada lu mati di keroyok. Dasar ogeb." kata Revin.
"Ck... Mampir dulu ge di warkop. Nyawa gue tinggal sedikit lagi nih." kata Aldi.
"Kaga sekalian aja lu ngumpet di gorong-gorong sono.. Lu kata di game ada warkop.. Manusia satu ini warasnya kebangetan." sungut Fero.
"Payah ah.. Yaudah deh nanti gue yang buka usaha di situ. Lumayan nanti gue bisa jadi pengusaha sukses." hayal Aldi yang masih fokus dengan gamenya.
"Iya. Sekalian aja lu bangun rumah sakit di situ. Supaya mereka yang pada kehabisan nyawa di seret ke rumah sakit lu." kata Revin. Dan sukses membuat mereka tertawa terpingkal.
"Jangan di seret atuh Rev kasihan. Di bawa pakai mobil ambulance aja." kata Aldi.
"Iya. Terus di dalam ambulance nya lu dan langsung di lempar ke kutub utara.. Ingin rasanya ku berkata kasar." kata Fero yang mulai emosi karena menghadapi temannya yang super ngeselin.
🧚♀️ Author : Yang sabar ya babang Fero. Terkadang yang nyebelin itu ngangenin 🤣🤣
"Adik lu tuh Fer." ledek Vino.
"Idih. Bisa gila gue punya adik macem tu." gidik Fero.
"Tuh kan gue kalah... Kalian sih pada berisik. Gue kan jadi nggak bisa fokus." kata Aldi kesal.
"Lah emang ge lu yang nggak becus. Lagian sejak kapan lu bisa mengalahkan seorang Revin. Gue aja sampai sekarang kalah mulu klo lawan dia." kata Vino.
"Siapa lagi nih yang mau lawan gue.??" tanya Revin.
"Lu lawan bokap lu aja sono Rev. Cape kita lawan lu yang nggak pernah mati." kata Aldi pasrah.
"Lah Bambang. Emang bokapnya si Revin main game beginian.??" tanya Fero.
"Tau ah. Lu tanya sono sama bokapnya si Revin. Udahlah gue mau tidur aja ngantuk." kata Aldi.
"Terkadang gue bertanya-tanya. Kok bisa sih gue berteman sama manusia satu itu." kata Fero.
"Gue juga terkadang bertanya-tanya. Kok bisa sih gue berteman sama dua manusia seperti kalian." timpal Vino.
"Maksud lu apa coba? Lu samakan gue sama dia. Ya jelas beda jauhlah." elak Fero.
"Iya beda. Bedanya sebelas dua belas." ledek Revin.
"Emang teman nggak ada akhlak kalian berdua. Sudahlah gue juga mau tidur." kata Fero dan menyusul Aldi ke atas tempat tidur Revin.
Malam ini mereka memang menginap di rumah Revin. Kebetulan besok sekolah libur jadi mereka bisa tidur sampai siang di rumah Revin dan tidak ada yang mengganggu.
🌹
🌹
🌹
Hari ini mereka sudah buat janji untuk jalan-jalan ke Mal. Menghabiskan waktu libur bersama-sama. Tapi Fero dan Fani tidak bisa ikut bersama mereka. Karena Fero dan Fani sedang ada urusan. Sebenarnya mereka sudah memaksa tapi ya mau bagaimana lagi. Jika yang di ajak tidak bisa mereka bisa apa.
"Kamu mau pesan apa beb.??" tanya Aldi sambil melihat menu makanan.
"Samain aja seperti kamu by." jawab Mia.
"Lu pesan apa Jan.??" tanya Vina.
"Gue jus strawberry aja." jawab Jani yang fokus dengan HP nya.
"Lah makannya nggak.?"
"Gue masih kenyang."
"Kenyang makan apa? Tadi pagi aja lu nggak sarapan ka." kata Juna.
Juna memang ikut dengan mereka karena di ajak sama Revin.
"Nggak. Gue cuma lagi nggak napsu aja." kata Jani cuek.
Mereka pun masing-masing memesan makanan. Setelah menunggu cukup lama. Pesanan mereka pun tiba.
"Gue ke toilet dulu ya." pamit Juna.
Mereka pun hanya menganggukan kepala.
"Makan." kata Revin sambil mendekatkan piring yang berisi nasi goreng ke hadapan Jani.
Jani melirik makanan itu. "Gue nggak merasa pesan makanan." kata Jani.
"Gue yang pesanin tadi. Sekarang lu makan nasinya." suruh Revin.
"Nggak." kata Jani yang kembali fokus ke HP nya.
Revin langsung merampas HP Jani dan ia simpan di saku celananya.
"Revin HP gue."
"Makan dulu."
"Yaudah HP gue dulu siniin."
"Makan sendiri atau mau gue suapin.!!" ancam Revin.
"Ish,,gue masih kenyang." tolak Jani kesal sambil melipat kedua tangannya ke depan.
Revin pun menyendok makanan Jani dan ingin menyuapi Jani. "Aaa." paksa Revin.
Seketika mata Jani membola karena perlakuan Revin. Jani melirik ke arah teman-temannya yang juga lagi melihat ke arah Revin dan Jani.
"So sweet." goda Mia.
"Aduh berasa dunia milik berdua. Yang lain numpang." cibir Aldi.
"Berisik." ketus Jani.
Mereka hanya bisa menahan tawa karena takut Jani mengeluarkan jurus Elsa nya. Yang nantinya akan membuat restauran bahkan seluruh ruangan di Mal ini menjadi beku seperti di salju.
🧚♀️ Author : Ngeri juga ya si Jani 😱 Tapi klo di fikir-fikir ada bagusnya juga supaya kita bisa merasakan salju di kota ini 🥶😅😅
Jani menatap tajam ke Revin. "Siniin. Gue bisa makan sendiri." ketus Jani yang langsung mengambil sendok dari tangan Revin. Revin tersenyum tipis sangat tipis sampai yang ada di situ pun tidak bisa melihat senyumannya.
"Dasar Revin nyebelin. Buat gue malu aja." sungut Jani dalam hati.
Saat Jani baru memasukan sesendok nasinya dan memakannya.
Uhuukk...uhuukk...uhuukk...
Jani tersedak dan Revin langsung memberikan minum. Jani pun langsung menerima dan meminumnya.
"Lu nggak papa.??" tanya Revin dengan nada khawatir.
"Apaan nih pedas banget.. Lu mau bunuh gue ya.??" sungut Jani kesal.
Revin menaikan sebelah alisnya. "Pedas." gumam Revin.
"Masa sih? Coba sini gue cobain." kata Revin dan langsung menyendok nasi goreng Jani.
"Nggak pedas ko. Rasanya masih oke." setelah merasakannya.
"Revin itu sendok gue." kata Jani sambil menutup bibirnya dengan kedua tangannya saat ia melihat dengan santainya Revin memakai sendok bekas dirinya.
"Kenapa.??" tanya Revin dengan tampang tidak bersalah.
Sebenarnya Revin tidak sepolos itu. Ia sadar apa yang telah ia lakukan tadi itu sama saja secara tidak langsung mereka ciuman. Karena memakai sendok yang sama.
"Ehem... Ciuman tidak langsung." goda Vino dengan tersenyum.
"OMG... Mata gue ternodai." ucap Mia.
"Jangan sok polos lu. Gaya lu ternodai. Biasa melakukan hal itu juga." ledek Vina.
"Sialan lu,Na." umpat Mia.
Revin mendekatkan dirinya pada Jani. "Bahkan gue bisa melakukan siaran langsung di depan mereka." bisik Revin.
*Blush*
Sudah bisa di pastikan saat ini pipi Jani terlihat seperti kepiting rebus.
"Dasar nyebelin." ketus Jani seraya memukul lengan Revin.
Revin hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat Jani yang salting. Apa lagi melihat pipi Jani yang memerah. Di mata Revin itu sangat terlihat lucu.