Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
97 Anda Gadis Itu


Vean menatap buku sketsa Dhea yang ada di atas nakas. Dia merasa pernah melihat buku seperti itu, tapi di mana?


Diambilnya buku itu, lalu dibuka-bukanya. Vean melihat ada beberapa gambar di dalamnya, kebanyakan adalah design baju. Di situ, ada design gaun pengantin yang dibuat Dhea untuk Fio. Bahkan gadis itu juga ternyata membuatkan jas pengantin untuknya, lengkap dengan lukisan wajahnya.


Dhea sudah mempersiapkan semuanya sejak awal. Segala hal untuk pernikahan dia dan Fio, bagai seorang wedding organizer yang handal.


Vean memegang erat buku sketsa itu, menatapnya dengan nanar.


Erza masuk ke dalam kamar perawatan Dhea untuk memberikan berkas-berkas pekerjaan milik Vean. Ini pertama kalinya dia masuk ke dalam ruangan ini, dan tidak tahu siapa yang dirawat di sini, sampai-sampai bosnya itu jarang datang ke kantor. Bahkan sekarang Vean memiliki sedikit brewok di wajahnya. Sejujurnya membuat pria itu semakin terlihat ganteng, meskipun sebenarnya Vean hanya malas saja untuk mencukurnya.


Erza juga tidak menyangka kalau di dalam ruangan ini sangat ramai, seperti tempat pertemuan keluarga besar saja.


Erza menatap Dhea yang sedang duduk dengan lemah di atas brankarnya sambil menyandarkan tubuhnya. Rambut gadis itu menutupi wajahnya dari samping. Vean, Arya dan Juna memperhatikan sikap Erza itu.


"Kenapa kamu memperhatikan Dhea seperti itu?" tanya Juna.


Erza langsung menoleh pada Juna, merasa tidak enak hati. Dia pikir, Dhea adalah kekasih Juna. Lalu pandangannya beralih pada Aila dan Sheila, lalu kembali pada Dhea.


"Bukankah Anda gadis itu?" tanya Erza pada Dhea.


Dhea langsung menoleh, menatap Erza bingung,.


"Nona baik-baik saja?"


"Ada mengenal saya?"


"Nona yang pingsan beberapa tahun yang lalu, kan?"


"Pingsan?"


"Iya, maksud saya di Jogja."


"Apa?"


Kali ini bukan Dhea yang bertanya, tapi yang lain.


"Jadi kamu pernah bertemu dengan Dhea di Jogja?"


"Iya, kami pernah bertemu dengannya di Jogja."


"Saya dan Willian. Nona ini pingsan di jalan dengan berlumuran darah."


Mereka tertegun mendengarnya. Saat itu, memang Willian lah yang membawa Dhea ke rumah sakit.


"Dan kalian, kalian yang ada di Swiss itu kan?" tanyanya pada Dhea, Aila dan Sheila.


"Apa?" tanya Vean kaget.


"Di Swiss?"


"Benar, saya pernah melihat mereka di salah satu kafe saat jam makan siang. Saat itu kita sedang ada di Swiss, Tuan. Mereka duduk di belakang Tuan."


Vean tertegun mendengar perkataan Erza, apa benar dia dan Dhea saat itu ada di tempat yang sama?


"Nona juga yang suka jalan sambil menunduk itu, kan? Yang kata Tuan seperti gadis kerudung merah dan Putri Salju."


Vean kembalian memandang Dhea, yang juga terlihat bingung. Kalau Vean perhatikan, saat Dhea menunduk dan rambut panjangnya menutupi wajahnya, dia memang terlihat seperti gadis itu.


"Kami memang tinggal di Swiss. Mungkin saja dia memang Dhea, karena penampilannya memang seperti itu," ucap Sheila.


Mereka juga tentu saja masih sangat ingat, bagaimana Dhea yang pernah memakai segala sesuatu serba merah dan di lain hari memakai segala sesuatu serba putih.


Vean sama sekali tidak menyangka, kalau sebenarnya dia dan Dhea saat itu ada di negara yang sama. Siapa yang menyangka, kalau gadis itu ada di sana, sedangkan yang orang-orang tahu saja, Dhea ada di Amerika.


"Katamu kalian ada di Jogja?" tanya Vean pada Clara.


"Memang ada di Jogja, lalu kami mendapatkan pertukaran pelajar dan beasiswa ke Swiss."


"Dan kami (Aila, Sheila, Felix dan Steve) mengenal Dhea di sana."


"Kamu di Swiss?" tanya Fio.


"Iya, karena di sana ada salju dan coklat."


Bukan berarti salju dan coklat itu hanya ada di Swiss saja. Tapi Dhea memang memutuskan untuk ke sana, di tempat yang pernah dia katakan pada Vean. Dia ingin sebelum semuanya terlambat, sebelum ajal menjemput, dia pergi ke negara itu.


Vean kembali teringat saat dia selalu teringat dengan Dhea saat di negara itu. Salju dan coklat yang pernah diimpikan Dekat sejak kecil, akhirnya gadis itu mewujudkan impiannya sendiri, tanpa Vean.