Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
125 Galau


"Kamu saja yang di sini."


Vean memilih kamar yang lain. Dia mengalihkan pandangannya dari mata Dhea yang semakin hari semakin terlihat sendu.


Juna masuk ke dalam kamar Vean begitu pria itu membuka pintu.


"Dhea cantik ya, An."


Vean melirik kesal pada Vean.


"Kalau aku dekati Dhea, bagaimana?"


"Jangan macam-macam, dia sahabat Fio."


"Lah, memang kenapa kalau sahabat Fio? Justru bagus, dong. Fio sama kamu, aku sama Dhea."


Enak saja, yang ada kamu sama Fio. Aku yang sama Dhea.


"Aku lebih suka Dhea daripada Fio," ucap Juna sambil senyum-senyum sendiri.


"Enggak nanya."


Aku juga lebih suka Dhea.


"Dhea cantik banget, ya. Imut, menggemaskan."


Emang, dan dia hanya milikku.


Juna melihat Vean, lalu tersenyum.


"Beruntung banget tuh, cowok yang bisa mendapatkan Dhea."


Ya, dan itu harus aku.


Juna terus saja membahas tentang Dhea pada Vean. Vean semakin kesal. Dia ingin bercerita pada Juna, tapi takut mulut sepupunya itu ember.


"Berisik banget, sih. Sana keluar, aku mau tidur."


Keesokan harinya, Fio dan Vean jalan bersama, meninggalkan Dhea dan Juna saja berdua di vila.


"Ayo pulang, Dhea sama Juna berdua saja di sana."


"Lah, emang kenapa? Bagus, dong. Mereka bisa pendekatan."


Enak saja, enggak boleh!


"Kalau ada apa-apa sama mereka bagaimana?"


"Maksudnya?"


"Gak baik cowok dan cewek ada di tempat yang sama berdua saja."


"Tenang saja, Dhea bisa jaga diri."


Dhea memang bisa jaga diri, tapi aku enggak percaya sama Juna. Tadi malam saja Juna membicarakan Dhea terus.


Bukan berarti juga Juna pria brengsek. Tapi ya itu, Vean terlalu takut nanti Juna membaut Dhea jadi berpaling darinya.


Namanya cewek lagi patah hati, ada orang baru yang hadir dan bisa menghibur, mungkin akan menimbulkan rasa nyaman, lalu cinta.


"Dahlah, pokoknya aku mau ke vila sekarang."


Sesampainya mereka di vila, tidak ada siapa-siapa di sana. Vean bahkan memeriksa semua kamar dan tempat.


"Tuh kan, lagi pendekatan tuh mereka."


Malam harinya, saat mereka menonton film tentang cinta segitiga ....


Pria itu menghela nafas.


Dhea bahkan tidak pernah meminta aku untuk meninggalkan Fio. Tidak pernah menjelekkan Fio di depanku, juga tidak pernah menjelekkan aku di depan Fio.


Dia tidak pernah meminta Fio untuk meninggalkan aku.


Jika itu orang lain, pasti mereka sudah menjadi musuh.


Vean melirik Dhea, yang juga mencuri pandang dengannya. Wajah gadis itu semakin terlihat sedih.


Gadis itu ketiduran di sofa.


"Biar aku yang gendong dia ke kamar."


Vean ingin mencegah, tapi juga sudah ke UG dulu membawa Dhea dalam gendongannya. Vean memastikan Juna langsung keluar dari kamar Dhea, dan setelah itu, dia masuk ke kamarnya sendiri.


Keesokannya, saat jalan-jalan, Vean merasa tidak tenang.


Setelah ini, ayo kita berdua pergi.


...💦💦💦...


"Ingat ya, Vean. Turuti saja dulu keinginan mama kamu."


Vean tidak menjawab. Dia merasa kesal, karena disuruh pulang hanya untuk dipaksa lagi, lagi dan lagi. Dia langsung pergi ke kampusnya, lebih baik menjauh dari papa mamanya.


.


.


.


"Vean, menurut kamu, mana yang lebih bagus? Ini buat Dhea, buat acara pertunangan."


"Putih."


Dhea menyukai warna putih, dan dia terlihat seperti bidadari.


"Vean, sepatu mana yang bagus?"


"Putih."


"Vean, tas mana?"


"Putih."


Selama bertahun-tahun mengenal Dhea, dia tahu—dan diam-diam memperhatikan apa yang gadis itu sukai, apa yang tidak.


Vean memilih semau itu, karena dalam pikirannya, dia dan Dhea lah yang bertunangan.


...💦💦💦...


"Kak, ayo kita kencan."


"Apa?"


"Aku mohon, berkencan lah denganku untuk yang pertama dan terakhir kalinya."


Apa itu? Dia mengatakan semua itu seolah dia akan pergi meninggalkan aku saja. Tidak, aku tidak mau.


"Aku akan menunggu Kakak di kafe. Akan aku tunggu sampai Kakak datang."