
"Itu muka lu bisa di kondisikan nggak? Sumpah ya masih aja lu pake wajah dingin lu itu. Kirain gue lu udah berubah jadi matahari." cibir Aldi.
"Janganlah Al. Bahaya klo dia sampai berubah jadi matahari. Yang ada dunia kita semakin panas." ledek Fero seketika mendapatkan tatapan tajam dari Jani. Fero pun hanya nyengir kuda dan mengangkat tangannya berbentuk V.
"Klo menurut gue rencana si Jani boleh juga. Gue sih setuju." kata Vino.
"Gue juga setuju banget." timpal Fani.
"Gue sih setuju tapi gue ragu aja. Apa mungkin gue bisa. Nanti endingnya buat kalian semua malu." kata Ragil.
"Nanti kan kita latihan. Jadi selama latihan lu harus serius jangan bercanda terus. Selow nanti gue ajarin lu supaya bisa seperti gue." kata Fero.
"Eleh gaya lu. Suara lu juga pas-pasan pake acara mau ngajarin orang. Yang ada nanti makin ambyar." ledek Mia sambil tertawa.
"Si kampret." umpat Fero.
"Ajarin gue juga ya untuk bisa menaklukkan hatinya Fani.?" pinta Ragil.
Hampir semua siswa di sekolah mereka memang sudah mengetahui tentang putusnya hubungan Fero dan Fani. Karena memang Fero dan Fani salah satu pasangan yang cukup populer di sekolahnya selain Revin dan Jani. Jadi banyak yang mencoba untuk mendekati Fani. Tapi menurut mereka sangat sulit untuk menaklukkan hatinya Fani.
Hanya Fero saja yang bisa menaklukkan hatinya Fani. Entah dengan cara apa yang Fero lakukan. Mungkin karena Fero juga termasuk pria terpopuler di sekolahnya selain Revin. Sehingga bisa mendapatkan Fani. Tapi dengan mudahnya Fero melepaskan Fani begitu saja. Menurut mereka Fero adalah pria yang sangat bodoh.
"Klo soal itu lu jangan minta ajarin ke dia. Dia aja nggak bisa jagain sahabat gue." kata Mia dengan melirik sinis ke arah Fero. Lalu berganti melihat ke arah Ragil. "Selow aja gue akan bantu lu untuk mendapatkan sahabat gue ini." lanjut Mia sambil menepuk pundak Fani.
"Apaan sih lu." kata Fani ketus sambil menepis tangan Mia dari pundaknya.
Fero hanya diam tanpa berkomentar. Tapi siapa yang tahu bahwa tangan Fero sudah terkepal kuat saat mendengar perkataan Ragil yang dengan santainya meminta bantuan pada dirinya untuk bisa mendapatkan Fani.
Entah mengapa hati Fero tidak bisa terima jika ada yang ingin mencoba mendapatkan Fani. Satu sisi Fero masih sangat mencintai Fani. Tapi sisi lain Fero masih tidak terima dengan apa yang sudah Fani lakukan di belakang dirinya.
Mungkin masalah Fani yang tidak jujur dengan dirinya karena kerja di sebuah restoran Fero masih bisa memaafkan. Tapi untuk perselingkuhan yang telah Fani lakukan pada dirinya itu sangat fatal. Sehingga membuat Fero tidak mudah untuk memaafkan.
"Terus gimana? Kalian semua setuju dengan masukan Jani.?" tanya Revin.
"Setujuuu..!!!" seru mereka serentak.
"Oke. Gue rasa meeting hari ini sudah cukup jelas. Kita akan latihan setiap hari sepulang sekolah." tegas Revin.
"Klo pas hari libur latihannya dimana ka Rev.?" tanya Baim ketos baru.
"Kita latihan pas waktu sekolah aja. Klo hari libur ya kita libur latihannya." jawab Revin.
Mereka semua setuju dengan usulan Revin. Meeting pun selesai. Satu persatu mereka keluar dari ruang OSIS. Ada yang langsung pulang. Ada juga yang masih berdiri di depan ruang OSIS untuk menunggu seseorang.
"Fani." panggil Ragil saat melihat Fani yang baru saja keluar.
"Apa." jawab Fani.
"Lu pulang sama siapa.??" tanya Ragil.
"Sendiri. Kenapa.??"
"Gue anter lu pulang,boleh.??"
"Yeh modus lu ya. Jangan mau Fan sama orang key dia." ledek Doni.
"Sitt.. Ganggu aja sih lu. Gue kan lagi usaha ini biar nggak ngejomblo mulu." sungut Ragil.
"Diem aja deh lu. Udah sana lu balik ganggu aja lu." usir Ragil.
Doni tidak lagi membalas ucapan Ragil. Ia pun pamit pulang pada teman-temannya.
"Gimana Fan. Lu mau kan gue antar pulang.?" tanya Ragil serius.
"Yaudah sih Fan terima aja. Dari pada lu pulang sendiri terus. Siapa tau aja kalian jodoh." goda Mia yang sudah berada di samping Fani.
"Apaan sih lu." kata Fani dengan nada tidak suka.
Fani melihat ke arah Fero yang ternyata sedang melihat dirinya juga. Fero pun membuang pandangannya ke lain arah.
"Seandainya nggak ada perjanjian itu. Gue pasti akan memanfaatkan waktu yang ada untuk bersama lu. Setidaknya sebelum gue pergi dari hidup lu. Tapi takdir berkata lain. Bahkan sebelum gue pergi dan masih bisa melihat lu dalam jarak dekat. Gue harus menjaga jarak sama lu. Kenapa kisah cinta kita harus seperti ini Fer?? Kalau boleh jujur,gue sangat berharap kalau lu menjadi pria terakhir dalam hidup gue."kata Fani dalam hati dengan wajah sedih.
Sesaat Fani menundukkan kepalanya dan menarik nafas lalu di hembuskan perlahan. "Gue duluan ya." izin Fani pada teman-temannya.
"Lah terus gue gimana Fan.?" tanya Ragil yang melihat Fani sudah berjalan duluan.
"Buruan. Lu lama gue tinggal." jawab Fani.
"Yes. Gue duluan ya guys. Bay." kata Ragil pada mereka.
"Akhirnya ada juga yang mau sama si Fani." kata Aldi.
"Pada dasarnya yang mau sama si Fani itu banyak by. Tapi dengan bodohnya dia malah pilih cowok yang nggak pernah bisa menghargai dirinya." cibir Mia sambil melirik ke arah Fero.
Fero hanya diam dengan memasang wajah cuek. Sejujurnya Fero ingin mencegah Fani untuk menerima tawaran Ragil. Tapi lagi-lagi Fero di kalahkan dengan egonya. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
🌺 Di Rumah Fero 🌺
Fero sedang berbaring di tempat tidurnya. Entah mengapa kejadian tadi di sekolah masih melayang-layang di pikirannya.
"Sial." umpat Fero kesal sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. "Ngapain sih gue masih mikirin dia."
Fero pun mengambil HP nya di atas meja sebelah tempat tidurnya dan mengecek HP nya.
"Kenapa nggak ada fotonya.?" gumam Fero saat membuka Whatsapp dan melihat kontak Fani yang tidak ada fotonya.
Fero pun membuka grup yang biasa ia dan teman-temannya berkomunikasi.
"Jadi dia udah keluar dari grup ini. Tapi kapan? Kenapa gue baru tau."
Dengan rasa penasaran Fero membuka Instagram. Seketika Fero beranjak dari tidurannya menjadi duduk.
"Jadi dia benar-benar menepati janjinya untuk jauhin gue. Sampai memblok semua sosial media nya sama gue." kata Fero dengan rahang yang mengeras sambil menggenggam erat HP nya.
Fero memang jarang aktif di sosial medianya karena kesibukan dia yang harus fokus belajar. Dia hanya balas chat yang masuk tanpa melihat-lihat status orang.
"Arrgghhh..!!!" teriak Fero sangat marah.
*Brak*
Dengan penuh amarah dia melempar HP nya sampai hancur.