
Vean tersenyum dengan mata berbinar saat merasakan gerakan-gerakan kecil di perut Dhea. Pria itu menoel-noel perut istrinya dengan telunjuknya. Menggerakkan tangannya mengikuti arah gerak si calon anak.
"Anak Daddy lagi apa?" tanya Vean di perut itu.
"Lagi main gundu, apa main karet, ya?"
Vean tertawa mendengar perkataan Dhea. Dhea sendiri sedang sibuk makan salad buah buatan Vean.
"Kak Vean sudah nyiapin nama untuk anak kita?"
"Sudah, sudah sejak lama aku menyiapkan nama untuknya."
"Buat laki-laki sama perempuan?"
"Iya."
"Apa namanya?"
"Rahasia."
Dhea mencebikkan bibirnya, kesal karena dibuat penasaran.
"Aku juga mau kasih nama, Kak."
"Iya, nanti pakai nama yang kita kasih, ya."
"Kak Vean mau anak laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan," jawab Vean dengan yakin.
Vean kembali tersenyum, membayangkan akan menggendong bayi perempuan yang mungil, yang sangat mirip dengan Dhea. Pasti akan sangat pas dalam pelukan dan gendongannya.
"Aku akan menyisir rambutnya, juga mengikat rambut panjangnya yang tebal dan hitam. Memakaikan dia baju berenda berwarna putih seperti seorang putri."
"Itu jatahku, Kak."
"No, kamu cukup melihat saja."
Kedua orang tua Vean saling lirik. Begitu juga Arya dan Juna.
"Aku juga akan mengantar jemput dia ke sekolahnya."
"Terus aku?"
"Menunggu kami di rumah."
"Aku akan memasak makanan kesukaan dia."
"Aku?"
"Hm ... duduk menunggu di meja makan."
"Kalau begitu, biar aku yang bekerja di perusahaan."
"Pokoknya, aku akan melakukan banyak hal untuk anakku."
Dhea tersenyum mendengar perkataan Vean. Dia senang, kalau nanti anaknya tidak merasakan nasib yang sama seperti dia, yang besar tanpa kasih sayang kedua orang tua kandung.
...💦💦💦...
Hari ini Vean mengajak Dhea jalan-jalan ke mall berama para sahabat mereka. Dia tidak mau Dhea stres karena selalu berada di rumah. Mereka memilih perlengkapan bayi, yang rata-rata berwarna putih.
Sahabat-sahabat mereka juga ikut membelikan perlengkapan bayi untuk calon anak Dhea.
"Kita makan dulu, yuk."
Mereka memasuki salah satu tempat makan, yang cukup ramai. Vean memilihkan makanan untuk Dhea, yang dipesan secara khusus pada koki agar tidak menggunakan garam atau penyedap makanan.
"Vean?" sapa seseorang.
"Hai, kalian juga di sini."
"Dhea mana?"
"Ini Dhea."
Teman-teman sekolah Vean terbengong melihat keadaan Dhea yang sangat berbeda. Vean menggenggam tangan Dhea, menguatkan istrinya kalau jangan pedulikan apa kata orang.
"Wah, lagi hamil, ya? Istri aku juga lagi hamil, sekarang lagi di rumah."
Teman-teman Vean tersenyum pada Dhea. Mereka memang cukup terkejut, tapi merasa bangga karena Vean tidak malu dengan keadaan Dhea saat ini.
"Semoga anak kita juga bisa bersahabat nanti, ya."
"Aamiin."
Mereka akhirnya bergabung di situ. Tidak ada sikap mencela, atau perkataan buruk lainnya. Justru mereka iri pada pasangan itu, yang tetap bersama dalam setiap keadaan.
Mungkin ini yang dinamakan ketulusan.
"Semoga aku juga bisa seberuntung kalian, ya."
"Aamiin."
Mereka foto-foto, mengunggah di media sosial dan grup.
Tangan Vean masih menggenggam erat tangan istrinya itu.
Aku adalah bagian dari dirimu, dan kamu adalah bagian dari diriku.
Jika nanti anakku laki-laki, aku harap dia mendapatkan jodoh yang baik, yang berhati tulus seperti mommy-nya, batin Vean.
Jika nanti anakku perempuan, aku harap dia mendapatkan jodoh yang baik seperti daddy-nya, yang selalu setia dan tidak mudah tergoda oleh apa pun, batin Dhea.