Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 69


"Revin kalau dingin key gitu nakutin ya? Tapi kenapa di saat dia lagi bersama Jani romantis banget."


"Iya.. Padahalkan kalau di perhatikan si Jani juga dingin. Tapi kok bisa buat si Revin berubah drastis ya.??"


"Kalian nggak tahu ya? Klo sifat dingin ketemu sama sifat dingin. Itu akan merubah menjadi hangat."


"Dih.. Sotoy lu."


"Ckk... Nggak percayaan banget sih kalian sama gue."


"Ngapain juga kita percaya sama lu. Musrik."


"Sialan lu... Klo kalian nggak percaya. Coba aja kalian tanya ke mbah G."


"Bodo amat. Lu ngomong sono sama nyamuk yang berterbangan. Kita lanjut latihan guys."


Mereka pun melanjutkan latihan karena sudah cukup beristirahatnya.


*Plak*


Jani menepuk jidatnya sendiri.


"Mampus gue. Kenapa gue baru ingat sekarang. Gue harus temuin Revin sekarang." gumam Jani.


*Bugh*


Saat Jani berbalik ke belakang tidak sengaja ia menubruk dada seseorang.


"Awwhhh." rintih Jani seraya memegangi keningnya.


"Lu tuh--."saat Jani ingin protes dan melihat seseorang di hadapannya ternyata adalah Revin.


"Apa? Kalau jalan tuh lihat-lihat." kata Revin.


"Kebetulan banget lu ada di sini. Ada yang mau gu--."


"Mungkin kita jodoh." sela Revin cepat.


"Ckk... Bukan itu." kata Jani kesal dan memukul lengan Revin. "Gue mau protes sama lu." lanjut Jani.


"Tadi kaki sekarang tangan. Nanti apa lagi? Ini tuh bisa di namakan KDRT tau nggak."


"Dih,,KDRT palamu. Udah ah,,gue serius ini."


"Mau protes soal apa sih. Apa mau langsung aku halalin.??"


"Revin." sentak Jani yang mulai kesal.


"Iya,,iya. Yaudah cepetan mau protes apa.??" tanya Revin terkekeh karena merasa lucu melihat wajah merajuk Jani.


"Serius iih."


"Yaudah apa.??" tanya Revin yang sudah memasang wajah serius.


"Gue nggak mau ngedance. Lu cari orang lain aja deh."


"Tadikan semuanya sudah sepakat. Jadi lu nggak bisa mundur lagi."


"Nggak bisa gitu dong,Ref. Nantikan gue juga ikut nyanyi sama kalian. Masa gue harus ikut ngedance juga.??"


"Mau bagaimana lagi. Karena cuma lu yang cocok menggantikan posisi itu."


"Sumpah deh,Ref. Gue beneran nggak bisa. Badan gue tuh udah kaku."


"Kata siapa badan lu kaku? Tadi gue lihat lu latihan masih oke kok. Malah gerakannya lebih bagus lu dari mereka semua."


"Tapi--."


"Nggak ada tapi-tapian. Sekarang lu lanjut latihan lagi sana."


"Sumpah ya,,lu tuh nyebelin banget tau nggak."


"Tapi ngangeninkan.!!"


"Bodo amat,,lu ngomong situ sama tembok." ketus Jani dan berlalu pergi meninggalkan Revin.


"Ternyata kalau lagi marah tambah cantik." kata Revin seraya tersenyum.


"Apa lagi kalau tersenyum. Beehhh... Berasa melihat bidadari." kata Ragil yang entah sejak kapan sudah berada di samping Revin.


Seketika Ragil mendapatkan tatapan tajam dari Revin. "Nih." seraya memberikan kepalan tangan dan meninggalkan Ragil.


🧚‍♀️ Author : Ragil cari gara-gara sih. Untung cuma di kasih kepalan doang. Tapi lain kali jangan salahkan aku ya. Kalau kamu mendapatkan bogeman dari si Revin 😁


Acara pun di mulai dan mereka semua yang berada di balik panggung bersiap-siap.


Skip cerita ya guys. Intinya dari pembukaan sampai penutup berjalan dengan lancar. Sekarang kita langsung ke acara hiburan yaitu dari para senior panitia OSIS yang akan membawakan sebuah lagu yang di populerkan oleh Angel 9 Band_Masa SMA.


Untuk yang para pria memainkan alat musik yang sudah di sediakan dan untuk yang para wanita hanya bernyanyi.


🧚‍♀️ Author : Aku sarankan membacanya sambil memutar lagunya ya. Supaya kita sama-sama menghayati momen ini 😁


Tiga tahun telah kita bersama 


Jalani kisah yang indah 


Bersama t'lah di lalui semua 


Suka duka t'lah kita rasa ...


Bagiku kau teman terbaikku 


Tempatku tuk berbagi luka 


Walau kini kurasa aku resah 


Kar'na kita akan berpisah ...


Reff :


S'lamat tinggal teman-temanku 


Ingatlah pabila bertemu nanti 


Mohon jangan lupakan aku


S'lamat tinggal teman-temanku 


Tak mungkin lagi kita kan bersama 


Mohon jangan lupakan aku ...


Beribu hari t'lah kulewati 


Beribu kisah t'lah kujalani 


Namun takkan kutemukan lagi 


Kenangan indah saat bersama


Bagiku kau teman terbaikku 


Tempatku tuk berbagi luka 


Walau kini kurasa aku resah 


Kar'na kita akan berpisah


Mereka semua sangat menghayati lagunya. Tidak terasa semua yang berada di situ meneteskan air mata. Ada juga yang merekam untuk mengenang momen itu.


Prookkk...prookkk...prookkk...


Mereka semua bertepuk tangan setelah lagu selesai di nyanyikan.


"Nggak terasa ya,,ternyata kita akan berpisah. Gue sih berpisah sama yang lain B aja. Tapi klo berpisah sama cowok-cowok populer di sekolah kita ini yang gue nggak rela."


"Iya.. Rasanya gue nggak ikhlas kalau harus berpisah sama mereka. Karena gue takut nggak bisa menemukan cowok-cowok keren seperti mereka di tempat kuliah nanti."


"Tapi percuma aja kalau mereka semua sudah ada yang miliki."


"Kalau masalah itu gue sih nggak perduli. Intinya gue bisa lihat pemandangan seindah itu setiap hari aja udah buat gue bahagia hahaha."


"Dasar BUCIN."


Dan masih banyak lagi yang mereka bicarakan.


"Saya selaku KETOS dan perwakilan dari Panitia OSIS baru. Mengucapkan terimakasih untuk para Kakak Senior dari Panitia OSIS yang sudah bersedia untuk memberikan hiburan kepada kami semua. Dan selanjutnya kita persilakan dari Anggota Dance untuk menaiki panggung sebagai penutup acara ini."


Anggota Dance pun menaiki atas panggung.


"Itu si Jani kan.Kok dia ada di situ sih?Memangnya sejak kapan dia ikut dance??Perasaan gue nggak pernah lihat dia deh."


"Gue dengar-dengar sih salah satu Anggota Dance. Ada yang nggak bisa hadir karena sakit. Mungkin dia yang menggantikan."


"Tapi apa mungkin dis bisa.??"


"Entahlah... Kita lihat saja."


Saat Dance di mulai semua mata terpanah dengan gerakan mereka. Terutama dengan kehadiran Jani yang ikut serta. Di tambah lagi gerakan Jani yang sangat lincah dalam dancenya. Membuat semua mengagumi Jani.


"Njiirrr... Nggak nyangka banget gue. Ternyata si Jani bisa ngedance juga. Gerakannya keren banget lagi."


"Si Jani tambah cantik aja kalau pakai baju itu dan bisa ngedance pula."


"Mimpi apa gue semalam. Hari ini bisa lihat yang Subhanallah indahnya pemandangan di depan mata gue."


"Shiiitt." umpat Revin kesal saat mendengar perkataan mereka.


Prookkk...prookkk...prookkk...


Semua mertepuk tangan saat Dance selesai dan ada juga yang berteriak heboh.


Setelah selesai dengan acara tersebut. Semua Siswa dan Siswi di bubarkan. Begitupun para Guru. Tetapi masih ada sebagian Murid yang berada di area Sekolah.


"Suruh siapa di lepas.??" tanya Revin saat tiba di hadapan Jani.


"Gerah,Rev." jawab Jani singkat.


"Pakai lagi." kata Revin seraya memakaikan jaketnya ke tubuh Jani.


"Ishh,," Revin langsung memberikan tatapan tajam. Jani pasrah seraya menghela nafas kasar dan memutar kedua matanya malas.


Tadi setelah Jani turun dari panggung. Revin langsung memberikan jaketnya ke Jani untuk di pakai. Entah mengapa ia tidak rela tubuh Jani di lihat oleh mereka.


"Ehem... Lain dah yang sudah mulai posesif." cibir Vino.


"Bacot." celetuk Revin dengan memberikan tatapan tajam.


"BTW.. Nanti malam kita nongkrong yuk.!!" ajak Aldi.


"Nah,,kalau ini gue setuju banget. Anggap aja buat perayaan atas kelulusan kita." timpal Mia.


"Mau nongkrong dimana.??" tanya Vina.


"Di ******." celetuk Fero.


"Dih. Lu aja itu sih. Nggak usah ajak-ajak kita." tolak Mia.


"Eleh,,gaya lu. Biasa main di gorong-gorong juga." ledek Fero dengan terkekeh.


"Anjiir.. Lu tuh ya klo ngomong suka gak ada rem. Mana ada bidadari cantik main di gorong-gorong." sungut Mia.


"Ada.. Tuh buktinya lu." celetuk Fero.


"Bisa pada diam nggak? Lama-lama gue nikahin lu berdua ribut mulu." kata Vino.


"Idih ogah gue nikah sama dia." elak Mia.


"Dih.. Lu pikir gue mau nikah sama cewek modelan key lu." ucap Fero.


"Mungkin momen seperti ini yang akan gue rindukan.. Tuhan,,jika aku boleh meminta.. Aku hanya ingin bersama mereka selamanya.. Sangat sulit untuk berpisah dengan mereka. Terutama dia." kata Fani dalam hati dan tanpa sadar ia meneteskan air matanya.


"Lu kenapa.??" tanya Jani.


"Enggak papa." jawab Fani tersenyum seraya menghapus air matanya.


Jani menatap Fani dengan tatapan tak terbaca. Intinya Jani merasa ada sesuatu yang sedang Fani rahasiakan. Tapi ia tidak ingin membahasnya di sini.