
Vean mencubit gemas pipi Dhea. Istrinya itu memang ada-ada saja. Bagaimana mungkin dia tidak jatuh cinta setiap harinya dengan Dhea, perempuan yang selalu menghibur dirinya, bahkan kini telah memberikan bayi mungil yang begitu menggemaskan.
Rasa cintanya pada Dhea semakin besar. Ingin dia kekepin di dalam ketiaknya, biar bisa dia bawa ke mana-mana dan selalu ada aroma dirinya pada diri Dhea.
Vean jadi senyum-senyum sendiri, membuat Juna dan Arya merinding.
"Apa nanti setelah kita menikah, akan jadi aneh begitu juga, ya?" tanya Juna.
"Kamu saja, aku enggak."
"Enggak apa? Enggak nikah, atau enggak aneh begitu?"
Fio dan Clara juga diam-diam menatap kedua pria itu.
Juna yang rusuh, dan Arya yang kalem.
Tidak mendapatkan jawaban dari Arya, Juna lalu menyandarkan kepalanya di pundak pria itu.
"Geli, tahu gak!" Arya langsung menepuk pundak Juna dengan kencang.
Dokter Bram teratas melihat kedua pria tampan itu. Rasanya sekarang sungguh sangat membahagiakan. Begitu juga dengan Bianca. Dia rasanya tidak bisa jauh-jauh dari ketiga putra putrinya, juga cucunya.
"Kalau ada cucu lainnya, pasti akan sangat meriah, ya."
"Selamat sore," seorang pria bule menyapa Dhea.
"Dokter!" teriak Dhea heboh.
Dokter Petter memeluk Dhea, begitu juga dengan istri dokter Petter.
"Kapan datang?"
"Tadi malam."
Dhea lalu menatap anak laki-laki yang ada dalam gendongan istri dokter Petter Stevie.
"Wah, ganteng sekali."
Dhea menggendong anak laki-laki itu.
"Faustin."
"Yuki, ini ada Abang Faustin."
Faustin menatap Yuki dengan mata bulat berwarna biru. Tangan Faustin terjulur, ingin meraih tubuh kecil Yuki. Mulutnya mulai berceloteh.
"Yuki, namanya Yuki."
"Ki Ki Ki ...."
"Kok jadi kaya kuntilanak, ya?" celetuk Juna.
Vean langsung mendelik kesal pada Juna. Mereka yang ada di sana tertawa, sikap dua balita itu membuat gemas siapa saja.
"Wah, kelihatannya Faustin suka sekali pada Yuki, ya."
Fio menghela nafas. Dia merasa baby Yuki akan dijodohkan dengan anak dokter Petter. Rasanya dia yang tidak rela. Dia kan ingin menjodohkan anaknya dengan Yuki. Tapi boro-boro punya anak, punya calon suami saja belum.
Arya melihat Fio yang terlihat sedih, tapi pria itu malah mendengus. Rasa tidak sukanya pada Fio tetap saja ada, meski sekarang Dhea dan Vean sudah menikah, bahkan memiliki anak.
"Wah, lihat. Yuki kelihatannya cemburu melihat Dhea yang menggendong Faustin. Takut mommy-nya direbut, ya?"
"Dokter berapa lama di sini? Jangan buru-buru pulang ke Swiss, ya."
"Iya," jawab dokter Petter.
Dokter Petter dsn istrinya bisa melihat suasana kekeluargaan yang begitu hangat. Mereka jadi merasa betah di sini, padahal baru beberapa jam saja ada di sini.
"Ayo, kalian harus makan makanan ini. Di Swiss tidak ada."
"Wah, ini enak. Apa namanya?"
"Wah, dokter bicara bahasa Indonesia?" Dhea heboh mendengar dokter Petter yang bicara dengan bahasa Indonesia, meski masih kaku dan logat bulenya masih sangat kuat.
"Iya, kami sedikit-sedikit belajar bahasa. Tapi belum mahir."
Senyum Dhea semakin merekah. Dokter Petter dan istirnya sudah dia anggap kakak sendiri. Entah apa jadinya dia dulu tanpa mereka. Vean sebenarnya merasa cemburu dengan dokter Petter, karena mereka begitu dekat. Tapi mengingat dokter Petter lah yang dulu merawat Dhea, dan juga telah menikah dan memiliki anak, jadi dia diam saja.