Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.22


Saat sudah sampai di depan ruang kelasnya. Jani dan Revin langsung memasuki kelas tersebut.


"Widiihh... Ada angin dari mana nih,alian berdua bisa barengan begini?" seru Fero yang melihat Revin dan Jani memasuki kelas berdua.


Mendengar seruan Fero,mereka yang lagi pada berkumpul,entah lagi pada ngegosipin apa pagi-pagi gini. Mereka langsung melihat ke arah yang Fero maksud.


"Lah iya. Kalian berdua berangkat bareng?" tanya Fani yang baru saja melihat kedatangan Jani dan Revin.


"Eheemm... Ceritanya masih berlanjut nih PDKT nya." cibir Mia.


"Bukan berlanjut Beb tapi ada kemajuan." timpal Aldi yang di akhiri dengan ketawa,bahkan teman-temannya yang berada di situ pun ikut tertawa.


"Berisik lo pada." ucap Jani ketus.


"Set dah,galak amat sih Jan. Masih pagi nih,udah esmosay aja lo." ucap Fero yang langsung mendapatkan tatapan mematikan dari Jani.


Sedangkan Revin,Vino dan Vina hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan dari teman-temannya itu.


Jani dan Revin pun duduk di bangkunya masing-masing. Tak lama bel sekolah pun berbunyi. Murid-murid yang masih berada di luar kelas pun berbondong-bondong memasuki kelasnya masing-masing.


Bel istirahat sudah berbunyi dari sepuluh menit yang lalu. Sekarang Jani sudah duduk manis di kantin bersama sahabat-sahabatnya.


"Astaga gw baper!!!" seru Mia dengan nada cemprengnya.


Jani,Vina dan Fani yang mendengar teriakan dari mulut cemprengnya Mia. Buru-buru mereka menutup ke dua telinganya. Bisa-bisa gendang telinga mereka pecah,gara-gara teriakan kencang dari Mia.


"Anjiirr... Mia,lo bisa nggak? Ngga usah teriak-teriak kayak gitu. Kuping gw budek nih lama-lama denger suara cempreng lo." seru Fani dengan wajah kesal.


"Lo juga sama Fan." ucap Jani malas. Fani hanya nyengir kuda.


"Tau nih,biasa aja kali Mi." ucap Vina.


"Abisannya gw baper banget liat tuh cowok nembak gebetannya pake segala kasih bunga and bersimpuh begitu. Gw kan juga pengen di perlakukan kayak gitu." ucap Mia dramatis.


"Lo pinta aja sama Aldi." ucap Jani cuek.


"Santai Mi. Ntar gw suruh Aldi kasih lo bunga." ucap Fani sambil menepuk pundak Mia.


"Beneran?" tanya Mia melihat Fani dengan wajah yang sudah berbinar-binar.


"Iya. Bahkan bukan cuma bunga kayak gitu aja." jawab Fani.


"Waahhh... Bunga apa aja Fan?" tanya Mia antusias.


"Bunga tujuh rupa." seru Fani dan Vina bersamaan.


"Sialan lo pada." ucap Mia dengan wajah kesal dan melempar camilan yang ada di depan mejanya ke arah Fani dan Vina.


Sedangkan Fani dan Vina masih ketawa melihat wajah Mia yang sudah merah karena kesal. Kalo Jani sih jangan di tanya. Dia mah cewek cuek dan kembali asik memainkan handphonenya.


"Hayy girls," sapa Aldi yang baru saja datang dengan teman-temannya ke meja ceweknya dan teman-teman ceweknya itu. Mereka pun duduk di sebelah cewek-cewek itu.


"Beb. Masa aku mau di kasih bunga tujuh rupa." ucap Mia mengadu pada kekasihnya dan memasang wajah sedih.


Aldi yang baru datang tak mengerti dengan ucapan kekasihnya itu. Ia hanya mengkerutkan keningnya.


"Ya udah sih Mi,jangan sedih. Ntar gw kasih air mawarnya dah,biar tambah wangi." ucap Jani santai yang masih fokus pada handphonenya.


"Diem lo Jan. Lo pikir gw kuburan." ucap Mia dengan wajah kesal.


Fani dan Vina pun semakin ketawa,bahkan teman-temannya yang berada di situ pun ikut tertawa mendengar ucapan Jani tadi.


"Jahat lo pada," ucap Mia dengan wajah sedih dan mengkerucutkan bibirnya.


Aldi yang berada di sebelahnya Mia pun,ia mengelus kepalanya Mia dengan penuh kasih sayang.


"Emang ada apaan sih?" tanya Vino yang mulai kepo dengan awal pembicaraan ceweknya dan teman-teman ceweknya itu.


"Si Mia iri liat cowok nembak cewek pake bunga." jawab Vina.


"Lah terus?" tanya Fero yang kepo juga.


"Yaa gw bilang aja. Ntar gw suruh Aldi untuk kasih dia bunga." jawab Fani santai.


"Ya tapi nggak pake bunga tujuh rupa juga kali. Lo pikir gw kuburan." ucap Mia semakin kesal.


"Bunga apa?" tanya Revin membuka suara,yang sedari tadi hanya mendengarkan saja.


Jani menyimpan handphonenya dan melihat Mia. "Bunga bangkai," celetuk Jani dan langsung berhambur pergi meninggalkan teman-temannya.


"Jani sialaaann!!!" teriak Mia dengan suara cemprengnya.


Mendengar teriakan dari mulut cemprengnya Mia. Buru-buru mereka yang berada di situ menutup ke dua telinganya. Setelah itu mereka ketawa terbahak-bahak bersama.


Revin tersenyum miring. "Itu cewek lucu juga." batin Revin.


Mereka pun kembali ke kelas karena bel istirahat sudah habis.


Bel pulang sekolah pun berbunyi. Murid-murid yang berada di dalam kelas,langsung berhambur keluar kelasnya masing-masing.


Jani dan teman-temannya keluar kelas bersama. Saat di koridor sekolah,ada Devan yang lagi berdiri di depan kelasnya.


"Heyy,," sapa Devan melihat ke arah Jani. Namun Jani hanya fokus pada handphonenya.


"Hey Dev. Lo belum balik?" tanya Fani.


"Belum. Gw tunggu Jani." jawab Devan santai. Jani yang mendengar ucapan Devan,ia hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Ngapain lo tunggu Jani?" tanya Vino.


"Mau ngajak dia pulang bareng." jawab Devan.


Devan melihat ke arah Jani. "Hari ini lo nggak bawa mobilkan? Pulang bareng gw yuk!" ajak Devan pada Jani.


"Nggak bisa. Jani pulang bareng gw." ucap Revin dingin. Devan menatap wajah Revin tajam.


"Dih,siapa juga yang mau..." ucapan Jani terpotong saat Revin menyela omongannya.


"Ayo,!" ajak Revin sambil menggandeng lengan Jani menuju area parkiran sekolah.


"Yang sabar ya Dev." ucap Vina dan berlalu pergi dengan teman-temannya meninggalkan Devan.


Devan yang melihat kepergian Jani,rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal kuat.


"Kita liat aja. Siapa yang akan mendapatkan Jani." batin Devan penuh amarah.


Jani yang di gandeng oleh Revin,ia pun hanya diam dan mengikuti langkah Revin.


*BUGHH*


"Aauuu,,," tanpa sadar Jani menubruk dada bidang Revin.


"Kalo mau berhenti bilang-bilang dulu kek." ucap Jani dengan wajah kesal.


"Salah lo sendiri. Jalan nggak liat-liat." ucap Revin santai.


"Ya lo nya juga asal pengen berhenti aja. Aturan tuh kasih sen kek,apa kek biar gw tau." ucap Jani asal. Revin yang mendengar ucapan Jani,ia hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Pala lo sen. Lo pikir si Revin kendaraan." ucap Aldi yang sudah berada di area parkiran sekolah dengan teman-temannya.


"Tau lo Jan. Kalo ngomong asal bae." ucap Fero. Jani cuek aja yang mendengar ucapan mereka berdua.


"Hey,Rev!" sapa Sarah yang baru saja tiba di area parkiran sekolah dengan ke dua temannya.


"Ngapain kalian di sini? Merusak pemandangan tau nggak." ucap Fani dengan wajah sinis. Pasalnya ia masih sangat kesal dengan Sarah and The Gank yang berani dekat-dekat dengan pacarnya waktu itu.


Sarah mengabaikan ucapan Fani. "Rev,gw nebeng pulang bareng lo ya!" pinta Sarah melihat ke arah Revin.


"Emang mobil lo kemana?" tanya Mia pada Sarah.


"Mobil gw lagi di bengkel." jawab Sarah.


"Kenapa nggak bareng sama teman lo aja? Merekakan pada bawa mobil." ucap Vina.


"Lo bisakan Rev?" tanya Sarah menatap wajah Revin dengan tatapan memohon dan juga menggenggam tangan Revin.


"Kenapa hati gw terasa sakit ya?" batin Jani yang melihat Sarah menatap Revin seperti itu.