Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
109 Apa Langitmu Cerah


Waktu berlalu, menorehkan jejak luka di hati Vean. Hingga saat ini, dia belum juga bisa menemukan Dhea.


Vean merasa hidupnya sangat hampa ....


Dia semakin menutup diri pada orang-orang di sekitarnya. Semakin jauh untuk dijangkau bahkan oleh orang terdekatnya.


Semua dia pendam sendiri ....


Di sana, Dhea masih menjalani perawatan intensif. Para dokter terus memantau perkembangan kesehatan yang terus saja naik turun.


"Dia sendiri harus punya motivasi untuk sembuh," ucap salah satu dokter.


Bram mengangguk paham, semua berharap gadis itu akan sehat kembali. Usianya masih muda, masih panjang perjalannya, dan doa harus bahagia.


Bram berjanji pada dirinya sendiri, kalau Dhea sembuh, selain meresmikan pengangkatan anak pada Dhea, dia juga akan mencari keluarga kandung gadis itu.


Kalau pun memang benar kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi, maka yang harus ditemukan adalah makamnya.


"Bangunlah Dhea, masih banyak orang yang menyayangi kamu di dunia ini. Vean ... Vean sangat sedih kamu seperti ini. Bukan hanya dia, papa, mama, kakak kamu Juna dan Arya juga sedih. Apa kamu mau melihat kami semua ketakutan setiap hari?"


Bram mengusap kening Dhea. Dia jadi teringat dengan anaknya. Sudut matanya basah dan dia segera mengusapnya.


"Papa janji akan memberikan apa pun yang kamu mau."


Di luar, Juna dan Arya duduk bersebelahan, tapi tidak saling bicara.


Juna bekerja di rumah sakit ini, sedangkan Arya juga bekerja, di bagian management atas perintah Bram.


Bianca merasa cukup senang, karena kini dia memiliki tiga anak. Dhea dan Arya sudah seperti anak kandungnya sendiri, tidak dia beda-bedakan dari Juna.


"Vean pasti marah besar," ucap Juna pada akhirnya.


"Kenapa dia harus marah? Dia tidak berhak marah karena kita sudah membawa Dhea dari sana."


"Bagiku yang terpenting saat ini adalah Dhea. Dia sudah seperti adik kandungku sendiri. Jujur saja, di antara anak panti yang lain, Dhea lah yang paling aku sayang dan aku jaga."


Padangan kedua mata pria itu bertemu, mencoba menebak isi pikiran masing-masing.


...💦💦💦...


Vean menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia memutar-mutar ponsel yang ada dalam genggaman tangannya saat ini.


"Benar juga, mereka pasti ada di sana."


Vean segera bangun dari dirinya, kembali memasukkan barang-barangnya dan menghubungi Erza.


"Kita pergi sekarang."


"Baik, Tuan."


Lima menit kemudian Erza menekan bel kamar Vean. Mereka saat ini sedang berada di Swiss, mengurus pekerjaan, karena Vean yakin omnya itu memang tidak akan mungkin membawa Dhea ke sini.


Tapi sekarang dia tahu—entah itu memang yakin atau menebak saja—ada di mana mereka saat ini.


Di perjalanan, Vean menatap langit Swiss, langit yang pernah menghujani dia dan Dhea dengan salju. Meski keduanya tak pernah tahu kalau mereka pernah ada di jarak sedekat itu.


Erza hanya melirik bosnya dari kaca spion. Dia mulai sedikit memahami, kalau mungkin saja ada cinta segitiga antara Juna dan Vean. Bukan, bukan cinta segitiga, tapi ketiga pria itu—Vean, Juna dan Arya—mungkin saja menyukai gadis bernama Dhea itu.


Tanpa sadar Erza menggelengkan kepalanya.


Mereka tiba di bandara, dan sekali lagi Vean menatap langit yang terlihat cerah.


Apa langitmu cerah saat ini?