
Mereka pergi meninggalkan pemakaman. Dokter Bram menoleh ke belakang, ke gundukan tanah basah yang bertabur bunga, dengan batu nisan bertuliskan nama WATI.
"Pa, ayo!" ajak Juna.
"Ya."
Mereka tiba di rumah Bu Wati. Dhea meringkuk di dalam kamar ibunya.
"Sekarang aku sendiri lagi. Aku berharap ibu akan hadir di pernikahanku, ternyata hanya harapan kosong saja."
"Jangan bicara begitu, Dhea. Anggap saja ibuku itu ibumu," ucap Fio.
Cih, ibumu ibunya. Ibumu saja judes begitu! Batin Arya.
Mungkin yang lain juga berpikiran seperti Arya.
Bram dan Bianca menatap iba pada Dhea. Begitu juga dengan Candra, Friska, dan kedua orang tua Fio.
Teman-teman Dhea berusaha menghibur gadis itu.
Suara jangkrik terdengar di desa ini. Lampu-lampu minyak yang ada di rumah-rumah warga, menerangi tempat ini.
Om dan Tante Dhea tetap tidak mengatakan apa-apa soal ayah Dhea.
Mungkin terlalu kelam dan memalukan untuk diceritakan.
...💦💦💦...
Malam ini malam terakhir mereka ada di sini. Besok pagi-pagi sekali, mereka akan kembali ke kota.
Vean membawakan sepiring nasi untuk Dhea.
"Ayo makan. Baru tiga hari, tapi badan kamu sudah kurus begini." Pria itu mulai menyuapi Dhea.
Mata Dhea melirik kiri kanan. Merekam kamar ini. Entah kapan dia akan kembali. Mungkin tidak akan pernah?
Yang dituju sudah tidak ada.
Yang menanti telah lelah.
Ikhlas tidak ikhlas, kenyataan, yang pergi tidak akan pernah kembali.
Malam terakhir ini, Dhea tidak ingin tidur. Ingin menikmati suara jangkrik. Ingin terus menatap lampu minyak dan obor di pagar bambu. Ingin merasakan udara dingin di kulitnya.
Ingin menikmati semua ini, karena dia tidak tahu, apa ada kesempatan untuk kembali.
Ternyata, di sini bukan tempatku pulang.
Segelas wedang jahe tidak lagi menenangkan. Semua terasa hambar, sehambar hatinya yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah melahirkannya.
Dia pikir, dia bisa menulis di buku diary baru tentang kelurganya.
Menulis tentang hal-hal indah dan merealisasikan semua yang ingin dia lakukan bersama keluarganya.
Ditinggalkan itu sakit.
Ditinggalkan oleh Vean, merasa cintanya bertepuk sebelah tangan.
Ditinggalkan oleh ibunya seperti ini, merasa kalau dirinya—ternyata—benar-benar tidak diharapkan.
Bertemu dengan ibunya—seperti ini—ibarat sedang meminum air, namun sebelum rasa haus itu benar-benar hilang, air itu telah habis tak bersisa. Malah semakin membuat kamu kehausan dan lemah.
Dhea yang haus akan kasih sayang kedua orang tua kandungnya, harus menelan kenyataan pahit kalau dia ditinggalkan, bahkan kali ini untuk selamanya.
Tidak ada lagi alasan untuk menunggu dan mencari. Mereka hanya akan bertemu jika mereka ada di alam yang sama, tapi kapan?
Ternyata seperti ini, rasanya kehilangan orang tua. Dia yang baru bertemu dua kali saja, merasakan kehilangan yang mendalam.
"Aku benar-benar tidak bisa mendapatkan kasih sayang mereka. Anak buangan!"
"Jangan bicara begitu, Dhea. Kamu bukan anak buangan. Kamu anak yang baik. Anak berbakti. Kamu tidak merasa malu dengan keadaan ibu kamu, atau malu untuk mengakuinya. Kalau orang lain, mungkin sudah langsung pergi begitu saja saat melihat tempat ini, bahkan sebelum bertemu."
Siapa laki-laki itu? Kenapa tega sekali meninggalkan ibu di sini sendirian. Tak masalah kalau dia memang sudah tidak ada. Tapi jika dia masih hidup, rasanya terlalu memuakkan untuk bertemu dengannya, apalagi kalau hidupnya baik-baik saja.
Tidak, aku tidak akan mencarinya. Kalau bisa, aku juga tidak perlu bertemu dengannya. Biar dia menjadi sosok abu-abu dalam hidupku.
Di dalam sana, dokter Bram mencoba mengingat-ingat, siapa perempuan bernama Wati itu, yang sepertinya tidak asing baginya.