Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.26


Malam ini mereka memutuskan untuk menginap di rumah Juna dan Jani. Tapi malam ini mereka akan bergadang sampai mata mereka mengantuk. Karena besok hari sekolah libur,jadi besok hari mereka bisa puas-puasin tidur.


Di tempatnya,para cewek-cewek memilih menonton drakor di laptopnya Jani. Sambil menunggu para cowok-cowok membakar sosisnya dan mengantarkan ke meja mereka.


"Anjiirr... Keren banget sih mereka." seru Mia dan Fani bersamaan yang melihat drakor yang menayangkan para cowok-cowok keren.


"Nggak usah berisik woy. Rumah orang nih." ucap Vina menegur kelakuan dari sahabatnya itu.


"Sirik aja lo. Yang punya rumahnya aja selow ae." ucap Fani pada Vina tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop.


Vina yang lagi baca Novel hanya geleng-gelengkan kepala,melihat kelakuan dari sahabat-sahabatnya itu.


Sedangkan Jani? Tak perlu di tanyakan lagi. Seperti hari-hari biasanya,ia selalu fokus dengan handphonenya. Entah apa yang merasukinya,hingga ia selalu memandangi handphonenya.


"OMG hellooo... mereka berdua cocok banget siiihh!!" seru Mia dengan suara cemprengnya itu.


"Woyy... Berisik lo Markonah." seru Fero yang baru dateng membawakan sosis bakar untuk mereka.


"Diem lo,Bambang." balas Mia dengan nada marah.


"Asiikk... Makanan datang lagi." ucap Fani dengan wajah yang berbinar-binar.


"Jangan dimakan dulu." ucap Fero mencegah tangan Fani yang mau mengambil sosis bakar itu.


"Kenapa?" tanya Vina pada Fero.


"Makannya entarlah,bareng-bareng sama kita." jawab Aldi yang baru datang membawa sosis bakar lagi ke meja mereka.


"Yaelah. Sekarang aja sih. Masih laper nih gw." ucap Mia memasang wajah semelas mungkin.


"Nggak boleh," seru Fero dan Aldi bersamaan.


"Nyebelin," ucap Fani dan Mia bersamaan dengan mengkerucutkan bibir mereka.


"Sialan. Kalahkan gw." umpat Jani kesal.


"Ini lagi si Jani,kerjaannya maen handphone terus. Nggak bosen apa lo?" tanya Aldi pada Jani.


"Nggak," jawab Jani singkat.


"Mandangin wajah lo tuh,baru dia bosen." celetuk Fani pada Aldi.


"Sa ae si curut," celetuk Aldi.


"Bau dong?" tanya Mia dengan tampang polosnya.


"Emang," jawab Aldi santai.


"Aldi kampreeett!!" seru Fani sambil melempar camilan di depannya. Sedangkan Aldi sudah kabur ke tempat asalnya.


"Kak,minjem handphonenya dong!" pinta Juna yang baru datang di mejanya.


"Nih," ucap Jani sambil memberikan handphonenya kepada Adiknya.


"Makasih Kak," ucap Juna senang. Juna pun berlalu pergi meninggalkan para cewek-cewek.


"Lah,semudah itu." ucap Mia dengan wajah cengo.


"Kenapa lo Mi?" tanya Fani yang mendengar ucapan Mia yang berada di sebelahnya,tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


"Tadi si Juna pinjem handphonenya si Jani." jawab Mia pada Fani.


"Lah,terus napa dah?" tanya Fani bingung.


"Langsung di kasih gitu aja sama si Jani. Kirain gw nggak bakalan di kasih." ucap Mia.


"Nggak usah pada heran. Si Jani kalo soal handphone di pinjem,dia mah minjemin aja tuh. Tapi Setidaknya sama orang yang dia kenal. Iya,nggak Jan?" tanya Vina pada Jani yang lagi menidurkan kepalanya di atas meja.


"Hmm,," gumam Jani.


"Kalo gw tau akan semudah itu. Setiap gw ngomong serius sama dia. Gw pura-pura pinjem handphonenya aja ya. Biar sepenuhnya perhatian dia ke gw hahaha." ucap Mia yang di akhiri dengan ketawa.


"Emangnya lo pernah ngomong serius?" tanya Fani pada Mia.


"Enggak," jawab Mia dengan wajah polosnya.


"Gw telen juga lo,Mi." celetuk Fani kesal dan Mia hanya cengengesan.


Sedangkan di tempat para cowok-cowok,mereka lagi pada asik bakar-bakar.


"Lah Jun. Tadi lo bilang handphone lo di kamar. Kapan lo ke kamar? Perasaan gw,lo belum ke dalam dah?" tanya Vino pada Juna yang lagi maen game di handphone yang ia pegang.


"Terus itu handphone siapa?" tanya Fero.


"Kak Jani," jawab Juna singkat.


Revin yang lagi membakar sosis pun,seketika terdiam mendengar nama Jani.


"Perasaan tadi gw liat. Si Jani lagi asik maen games di handphonenya. Kok bisa sih,dia kasih handphonenya ke lo?" tanya Aldi pada Juna.


"Seserius apapun Jani dengan handphonenya. Kalo ada yang pinjem,ya langsung dia pinjemin. Tapi cuma untuk orang-orang yang dia kenal aja dan inget minjem ya,bukan merebut handphonenya." jelas Vino kepada sahabat-sahabatnya itu.


"Kalo gw tau bakalan semudah itu,kenapa gw nggak pinjem handphone dia dulu ya. Sewaktu gw ngomong serius sama dia." ucap Fero sambil bergaya orang yang sedang berfikir.


"Emang ngomong serius apa Bang?" tanya Juna pada Fero.


"Asal lo tau ya Jun. Waktu itu si Fero pernah nembak Kakak lo. Tapi sayang,langsung di tolak mentah-mentah." jawab Aldi yang di akhiri dengan ketawa. Yang lain pun jadi ikut tertawa.


"Iya. Di tolaknya juga ngga etis banget. Cuma karena si Fero ganggu dia yang lagi fokus maen games dan buat dia kalah. Akhirnya si Fero di tolak hahaha." timpal Vino membuat yang lain makin tambah ketawa.


"Emang sialan tuh si Jani." umpat Fero dengan nada kesal.


"Nggak usah kesel gitu Bang. Selow ae,lo bukan cowok yang pertama dan terakhir yang di tolak sama Kakak gw." ucap Juna pada Fero.


"Maksud lo?" tanya Fero tak mengerti dengan ucapan Juna pada dirinya.


"Dari dulu banyak yang menyatakan cinta ke dia dan banyak pula yang langsung dia tolak. Bisa di katakan,mungkin sudah jadi hobbynya Kak Jani nolak cowok jadi pacarnya." jelas Juna.


"Apa dia nggak pernah kasih tau alesannya,kenapa dia nolak mereka?" tanya Revin kepo yang sedari tadi hanya mendengarkan cerita teman-temannya itu.


"Yaelah palingan juga karena mereka udah ganggu si Jani maen games." jawab Fero.


"Sotoy lo Bambang," celetuk Ardi sambil menoyor kepalanya si Fero.


"Pernah. Setiap kali dia nolak cowok,gw selalu tanya ke Kak Jani dan jawabannya selalu sama. Dia nolak mereka karena dia udah terikat janji dengan seseorang." jelas Juna kepada mereka.


"Janji? Apa lo tau siapa orang itu?" tanya Revin.


"Enggak. Kak Jani nggak pernah cerita siapa orang itu. Dia cuma bilang,kalo dia udah membuat perjanjian dengan seseorang dan dia hanya ingin menepati janjinya aja." jelas Juna dan mereka yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala,tanda mengerti.


Mendengar penjelasan dari Juna,Revin hanya diam. Entah apa yang ada di fikirannya sekarang. Yang pasti tatapannya tak lepas dari Jani yang berada di sana.


"Eh Jun. Coba dah cek chatannya si Jani. Gw jadi kepo,kira-kira masih ada nggak ya,orang yang ngechat tuh cewek dingin yang sering tolak cowok." ucap Aldi kepo.


"Masih. Banyak malahan." ucap Juna santai.


"Masa? Coba di liat dulu Jun,gw juga jadi kepo nih." pinta Fero.


"Males ah. Ya intinya banyak yang ngechat dia tapi keseringan nggak dia bales. Bahkan banyak pula yang telphone dia tapi selalu dia abaikan." jelas Juna pada mereka.


"Tau dari mana?" tanya Revin membuka suara.


"Karena gw pernah ngecek handphonenya." jawab Juna santai.


"Dasar kang tahu. Bilang kek dari tadi,nggak usah ngejelasin luas+panjang×tinggi." sungut Aldi dengan nada kesal.


"Lo pikir rumus Matematika." celetuk Fero sambil menoyor kepalanya si Aldi,membuat sang empunya memegangi kepalanya dan nyengir kuda.


"Udah selesai nih. Kita ke mereka yuk!" ajak Vino sambil membawa sosis bakarnya menuju meja para cewek-cewek berkumpul. Mereka pun mengikuti Vino.


"Makanan dataaang!!" seru Aldi dan Fero bersamaan.


"Wiiihh,,mantaap!!" seru Mia dan Fani bersamaan.


Merekapun memakan sosis bakarnya bersama-sama.


"BTW. Itu gimana Rev,soal si Wakil Ketua Osis? Bentar lagikan kita kenaikkan kelas dan pastinya Anggota Osis akan di sibukkan dengan adanya murid baru." ucap Vina pada Revin. Revin hanya mengedikkan ke dua bahunya.


"Emang kenapa sama Wakil Ketua Osis Kak?" tanya Juna pada Vina.


"Nggak usah kepo." ucap Jani datar pada Adiknya itu.


"Mau keluar dari Anggota Osis." ucap Revin menjawab pertanyaan dari Juna.


"Emang ngeselin tuh cewek. Baperan banget sih,cuma di tolak sama si Revin aja sampe keluar segala." sungut Mia dengan wajah kesal.


"Lah,jadi soal dia ngancem mau keluar itu beneran ya?" tanya Aldi. Merekapun hanya memberikan sebuah anggukkan.


"Emang ngancem apa?" tanya Juna pada mereka.