Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
139 Tidak Seperti Coklat


"Dhea, apa yang ... Vean, Fio!"


Mereka langsung mendekati Dhea yang masih memeluk Vean, dan tidak lama kemudian ambulans datang.


Mereka tiba di rumah sakit. Sementara yang lain berdiri di depan pintu UGD, Dhea langsung bersembunyi di balik tembok saat melihat dokter Bram.


Gadis itu berjongkok di lantai, menangis sambil menggigiti kukunya.


"Mbak, kamu terluka? Ayo saya obati," ucap salah satu dokter.


Dhea hanya menggeleng, tidak berdiri dari tempatnya saat ini.


"Ayo, saya obati kamu."


"Saya tidak luka, Dok."


Tidak jauh dari tempatnya berada saat ini, dia mendengar suara dokter Bram yang panik.


"Cepat cari golongan darah untuk Fio. Stok darah di sini sudah habis."


Dhea langsung berlari ke arah dokter Bram.


"Ya ampun, Dhea! Kamu terluka?" Dokter Bram melihat penampilan gadis itu yang berantakan. Gaun putih kini menjadi merah, dan dia sangat tahu kalau itu darah.


"Punya saya saja."


"Ya?"


"Berikan padanya. Golongan darah saya sama dengan Fio. Berikan darah saya untuk Fio."


"Ayo!" tanpa pikir panjang, dokter Bram langsung melakukan donor darah itu, antara Fio dan Dhea.


Setelah melakukan donor darah, ponsel gadis itu berbunyi.


"Dhea? Kamu di mana? Aku Sidah ada di bandara sejak tadi."


"Kak, aku tidak jadi ke Amerika."


"Apa? Tapi kenapa? Kamu di mana sekarang?"


"Aku ada di rumah sakit."


"Apa? Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Tidak."


"Aku ke sana sekarang."


Arya akhirnya menyusul Dhea ke rumah sakit, melihat pakaian gadis itu yang berlumuran darah.


Hari ini, Dhea gagal pergi ke Amerika.


Keesokan paginya


"Dhea, ayo kita pergi."


"Tidak, aku tidak bisa meninggalkan mereka di sini."


"Tapi kamu harus segera ke Amerika untuk daftar ulang dan tanda tangan berkas secara langsung."


Dhea tetap menolaknya, dia tidak bisa tenang kalau pergi ke Amerika saat ini.


Dhea selalu melihat keadaan Fio dan Vean tanpa ada yang tahu, kecuali Bram dan kepala sekolah juga gurunya, beserta istri mereka.


Dhea mengusap tangan Vean.


"Cepat bangun, Kak."


Dhea mendengar suara langkah mendekat. Gadis itu lalu bersembunyi di bawah brankar Vean.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"


"Sudah aku katakan, Vean membutuhkan donor ginjal. Kita harus dari sekarang mencari donor itu."


"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk anakku. Dia anak kami satu-satunya. Friska sudah drop melihat keadaan Vean yang seperti ini."


"Tentu saja. Bukan hanya kamu, aku juga sangat menyayangi keponakan aku. Aku sudah pernah merasakan kehilangan anak, Can."


"Vean, cepatlah sadar. Papa janji akan menuruti apa mau kamu."


Candra jadi teringat perdebatan-perdebatan antara Vean dengan mamanya. Mengatakan kalau mungkin mamanya akan sehat, tali dia yang sakit.


Kini, perkataan itu terjadi.


Kedua orang itu lalu keluar.


Di kolong itu, Dhea kembali menangis.


Donor ginjal?


"Dhea, keluar lah!"


Dhea tersentak, dia lalu mengusap air matanya.


"Kenapa kau bersembunyi di sana?" tanya dokter Bram.


"Muatnya di sana, Dok. Mau sembunyi di tabung infus, gak muat. Kaya jin ya, Dok?"


Dokter Bram tertawa. Gadis di depannya ini terlihat sangat menyenangkan, entah kenapa Vean tidak bersamanya saja, pikirnya.


"Dok."


"Ya?"


"Berikan punyaku untuknya."


"Apanya?"


"Ginjalku. Berikan ginjalku untuk kak Vean."


"Apa? Dhea, ini bukan masalah sepele. Bukan seperti kamu yang memberikan coklat untuk Vean."


"Aku tahu. Berikan untuk kak Vean. Tapi jangan memberi tahu siapa-siapa."


"Tidak."


"Tolong Dok, ya?"


"Tidak! Kamu masih muda. Masa depan kamu masih panjang. Sangat beresiko mendonorkan organ tubuh, Dhea. Saya akan mencari pendonor yang lain."


"Kalau tidak ada, berjanjilah akan memakai milikku untuk kak Vean."


Bram tidak langsung menjawab.


"Kasihan orang tua kak Vean. Dokter sendiri tadi mengatakan, sangat tahu kan, bagaimana rasanya kehilangan seseorang?"


Bram terdiam, haruskah dia mengorbankan gadis muda ini, hanya untuk keluarganya?


"Ya, baiklah."


Bram pikir, dia akan menemukan pendonor lain. Mengatakan iya hanya untuk menyenangkan dan menenangkan hati gadis muda itu.


"Janji?"


"Ya."


Suatu janji yang mungkin bisa saja dia sesali di kemudian hari.