
🌹 Di Rumah Revin 🌹
"Woyy,lu berdua mau pada ikut nggak?" tanya Fero pada Vino dan Revin yang sedang main game.
"Kemana?" tanya Vino tanpa melihat ke arah Fero.
"Ckk,makanya punya hp itu di gunakan. Klo udah maen game aja lu pada serius banget." cibir Fero kesal.
Vino tak menjawab cibiran Fero. Ia lagi asik maen game dengan Revin.
"Hayulah pada diam-diam bae!" ajak Aldi.
"Hayu kemana sih? Lu berdua ribet bet dah." ucap Vino kesal.
"Kita di suruh ke rumah Jani sekarang." ucap Aldi.
"Ngapain?" tanya Vino dengan wajah bingung.
"Gue mau ngelamar Jani." celetuk Fero. Seketika Fero pun mendapatkan tatapan tajam dari Revin.
"****** lu." cibir Aldi yang melihat tatapan Revin.
"Canda Rev. Gitu amat lu liat gue-nya." ucap Fero.
"Kita di ajakin BBQ-an di rumah Jani. Kuylah keburu macet,inikan malam minggu." jelas Aldi.
Mereka pergi menggunakan mobil Revin. Tak lupa mereka mampir ke Mall Mini yang ada di pinggir jalan. Untuk membeli bahan-bahan yang akan di butuhkan untuk BBQ-an.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah Jani. Karena hari masih sore jadi jalan raya masih lancar belum terlalu ramai dengan kendaraan.
Aldi pun memencet bel rumah Jani. Tak lama bi Inah membukakan pintu rumah dan mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah.
"Mereka pada dimana bi?" tanya Vino pada bi Inah.
"Di halaman belakang den. Tadi non Jani berpesan jika teman-temannya sudah datang,langsung ke halaman belakang aja." jelas bi Inah.
"Oh yaudah klo gitu. Makasih ya bi." ucap Aldi.
"Sama-sama den. Klo gitu bibi permisi den." ucap bi Inah,lalu meninggalkan mereka.
"Gercep banget lu klo udah berhubungan sama makan." cibir Fero.
"Oh jelas dong." ucap Aldi.
"Yang ngomong juga samanya." cibir Revin sambil melirik Fero.
"Set dah si Revin klo ngomong." ucap Fero.
Revin hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Ngapa?" tanya Vino.
"Suka bener hahaha." jawab Fero.
"Si p*a," celetuk Aldi sambil menoyor kepala Fero.
Vino dan Revin hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan temannya.
Mereka langsung menuju ke halaman belakang. Di sana para wanita sedang beres-beres.
"Widih,udah rapih nih." seru Aldi.
"Eh kalian udah pada dateng." ucap Mia.
"Jani mana?" tanya Revin.
"Nggak tau. Tadi dia bilang mau ke kamarnya dulu." jawab Vina.
"Yaelah kaga lain yang di cari si Jani mulu." ucap Fero.
"Lah ngapa dah. Cemburu lu ya hahaha." ledek Aldi.
"Kaga," elak Fero dan berlalu pergi mendekati Fani yang sedang beres-beres.
"Mau gue bantu nggak?" tanya Fero.
"Telat," ucap Fani jutek.
"Yaelah jutek amat. Emangnya kaga kangen apa sama gue?" tanya Fero.
"Yang ada gue bosen ketemu lu mulu." jawab Fani.
"Set dah kaga ada manis-manisnya pisan romannya. Lagi PMS lu ya." ucap Fero.
"Lagi cemburu dia tuh," cibir Vina.
"Cemburu karena apa?" tanya Vino.
"Apaan sih. Siapa juga yang lagi cemburu." elak Fani.
"Hey kakakku yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik!" sapa Juna pada mereka.
"Widiihh,,mau kemana lu udah rapih banget?" tanya Aldi.
"Biasa bang anak muda." jawab Juna santai.
"Iya dah lain yang darah muda mah." ledek Fero.
"Lah terus klo lu darah apa Fer?" tanya Mia dengan tampang polos.
"Darah kotor," celetuk Fani.
Mendengar ucapan Fani,mereka pun jadi tertawa.
"Eh buset,sadis bet lu Fan. Laki dewek di bilang darah kotor." ucap Aldi sambil tertawa.
"Si Fani klo lagi cemburu omongannya pedes juga iia!" ucap Vino yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Fani.
"Bang Revin nggak ikut?" tanya Jun yang tak melihat Revin.
"Ikut kok. Palingan juga dia lagi cari kk lu di dalam." jawab Vina.
Revin berjalan menuju kamar Jani. Setelah sampai di depan pintu kamar Jani.
Tok...tok...tok...
Revin mengetuk pintu kamar Jani. Tapi tak ada jawaban dari dalam kamar. Ia pun mengetuk pintunya lagi.
Tok...tok...tok...
"Iya,masuk aja Na." seru Jani dari dalam kamar.
Jani mengira jika yang mengetuk pintu kamarnya itu ialah Vina. Sedangkan Revin yang sudah mendapat izin dari Jani. Ia langsung masuk ke dalam kamar Jani. Ternyata Jani sedang berbicara dengan seseorang lewat hp.
📱Jani : Iya nanti Nisya kabarin lagi ke Papah.
📲 Papah : Yaudah jaga diri kalian baik-baik di sana. Papah tunggu jawaban kamu.
📱Jani : Iya. Assalamualaikum.
📲 Papah : Waalaikumsalam.
"Nisya!" ucap Revin.
Jani yang mendengar suara seseorang. Ia pun langsung berbalik ke belakang.
*Degg...*
"Revin," ucap Jani dengan wajah kaget melihat Revin yang sudah berada di hadapannya.
"Nisya siapa?" tanya Revin penasaran.
"Hmm,,itu.." ucapan Jani terpotong oleh Revin.
"Jan. Aku tanya sama kamu,Nisya siapa?" tanya Revin menuntut penjelasan dari Jani.
Jani masih terdiam tak menjawab pertanyaan Revin.
"Ya allah,gimana ini. Apa aku harus jujur ke Revin." ucap Jani dalam hati.
"Apa sebenarnya nama panggilan kamu,Nisya?" tanya Revin.
Saat Jani ingin menjawab pertanyaan Revin. Ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok...tok...tok...
"Ka Jani,bang Revin di tungguin mereka di halaman belakang." ucap Juna di ambang pintu.
"Oh. Iya ini juga kita mau ke sana kok." kata Jani yang langsung menggandeng tangan Revin.
"Selamat." ucap Jani dalam hati.
"Woyy lama banget lu di dalam kamar. Hayoo abis pada ngapain kalian berdua di dalam kamar!" ledek Aldi.
"Nggak jelas lu." ucap Revin datar.
"Nih bahan-bahannya." ucap Jani sambil memberikan bahan-bahan untuk BBQ-an.
"Thanks Jan." ucap Fero.
Mereka memulai acara BBQ-an. Sedangkan Juna tak gabung dengan mereka karena ia mempunyai acara dengan teman-temannya.
Yang laki-laki tugasnya memanggang. Sedangkan yang perempuan hanya duduk menunggu sambil bergosip.
🌹 Pembicaraan Para Laki-Laki 🌹
"Rev sebenarnya sekarang hubungan lu sama Jani gimana sih?" tanya Aldi.
Karena mendengar perkataan Aldi. Mereka yang sedang membakar jadi melihat ke arah Aldi.
"Hmm," gumam Revin sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Kalian berdua itu udah pacaran apa belum. Secarakan akhir-akhir ini lu udah dekat banget tuh sama si Jani." ucap Aldi.
"Dekat belum tentu jadian." celetuk Fero yang lagi membalik daging bakar.
"Keynya ada aroma-aroma belum bisa move on nih." ledek Vino sambil menyenggol Aldi.
"Hahaha sadar Fer. Lu tuh udah punya Fani." ledek Aldi.
"Apaan sih lu. Siapa juga yang belum move on. Gue kan ngomong yang sebenarnya." elak Fero.
"Iya,iya deh percaya." ucap Vino.
Revin hanya diam mendengar pembicaraan dari para sahabatnya itu.
"Gue kasih saran nih iia Vin. Mendingan lu cepat-cepat deh tembak si Jani. Dari pada nanti lu keduluan sama si Defan atau pun cowok lain. Secarakan si Jani,Ratu di sekolah kita. Meskipun dia si Princess Salju,tapi banyak juga cowok-cowok yang ngincer dia. Jadi lu harus gercep dong." jelas Aldi.
"Ada benernya juga sih apa yang di kata Aldi. Mau sampai kapan lu tunggu orang yang belum pasti. Belum tentu orang itu masih ingat sama lu. Mungkin aja orang itu udah punya cowok." ucap Vino.
"Gue emang nggak tau tentang masa lalu lu. Tapi gue juga pengen liat sahabat gue,bisa buka hatinya untuk cewek lain dan merasakan kebahagiaan key kita-kita ini." tambah Fero.
"Gue masih ragu." ucap Revin.
"Apa lagi sih Rev yang buat lu ragu. Ingat penyesalan datangnya di akhir,klo di awal namanya pendaftaran." ucap Aldi di akhiri dengan tertawa.
Fero dan Vino ikut tertawa mendengar ucapan Aldi. Sedangkan Revin hanya tersenyum.
"Tumben bener." ledek Fero pada Aldi.
"Lah lu kira selama ini gue kaga bener?" tanya Aldi.
"Hmm,,bener sih. Tapi kebanyakan salahnya." jawab Fero di akhiri dengan ketawa.
"Sialan lu." ucap Aldi kesal.
"Jadi gimana Vin?" tanya Vino pada Revin.
🐰 Hmm,,,kira-kira apa ya yang buat Revin masih ragu untuk menjalin hubungan dengan Jani. Terus jawaban apa yang akan Revin jawab atas pertanyaan dari teman-temannya. 🐰