Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
251 Perang


Sabun-sabun berceceran di mana-mana. Antara sabun mandi, sampo dan sabun mobil bercampur menjadi satu di jalanan, membuat becek.


Yuki sekarang memandikan boneka-bonekanya.


"Andi, Dy. Andi."


"Itu bukanya mandi, Yuki. Tapi kamu mengotori mereka."


Faustin lalu menyirami boneka itu dengan selang, agar lumpur berjatuhan. Yuki lalu kembali masuk ke dalam, dan menyerat pakaian kotor.


"Ci, ci."


"Jangan!" Vean lalu membawa masuk kembali pakaian kotor itu, membuat Yuki menangis.


Yuki berlari pada Dhea, minta baju-bajunya dikeluarkan lagi.


"Main yang lain saja, ya."


Yuki menatap pilu pada Arya dan Juna, membuat kedua pria itu mau ketawa, tapi juga cemas. Biasanya kalau sudah begini, mereka berdua yang akan menjadi korban.


"Una, Yaya."


Tuh, kan.


"Uncle, Yuki," ucap Dhea.


"No, panggil kami papa dan papi."


"Una, Yaya."


Arya akhirnya mengeluarkan kain-kain lap yang bersih dari rumahnya.


"Cuci ini saja."


Yuki langsung turun dari pangkuan Dhea. Dia lalu mengambil sabun yang asal comot saja. Balita itu memasukkan lain lap ke dalam kolam renang karet. Menuang semua sabun. Mengucek dengan tangan mungilnya, lalu berjalan menuju mobil, dan ....


Hup


Menjemurnya di atas mobil mewah milik siapa, dia juga tidak peduli.


"Aduh aduh aduh ... kalau begini ceritanya, kita bisa cuci mobil masal." Ternyata itu mobil Felix. Aila tertawa, melihatnya.


Sudah tidak ada kain lagi, Yuki memasuki rumah demi rumah dan mengambil apa saja. Bahkan sarung bantal sofa dan taplak meja, dia ambil. Faustin membantu Yuki membawanya, karena muka Yuki sudah ketutup okeh tumpukan kain itu, bahkan tangannya tidak muat.


"Ngomong-ngomong, nanti yang membereskan semua kekacauan ini, siapa?"


Sekarang tempat ini benar-benar menjadi arena bermain. Yang main siapa, yang kelaparan siapa. Hanya dengan melihat anak-anak itu, terutama Yuki dan Faustin, membuat mereka lapar. Yuki menghampiri Vean dan minta suap, lalu kembali lagi main air. Faustin menghampiri Vean, ikut minta suap juga.


Vean pura-pura cemberut.


"Di mana-mana, calon mantu itu nyogok mertua biar dapat restu, ini malah minta suap."


Dokter Bram dan Candra tertawa mendengar perkataan Vean. Mereka baru saja datang bersama pasangan masing-masing dan melihat kekacauan ini.


"Kita bisa awet muda, kalau melihat anak-anak ini," ucap dokter Bram.


"Benar. Anak-anak memang selalu membuat suasana semakin ramai."


Juna yang melihat mobilnya ditempeli lumpur, akhirnya mengambil lumpur lain dan melaporkannya ke mobil-mobil lain.


"Juna!"


Juna tertawa. Kalau Sidah begini kan, mereka semua bakalan cuci mobil. Saling melempari lumpur, membuat Yuki, si biang awal kerusuhan, berteriak senang. Balita itu meloncat-loncat dan mengambil selang.


Bukannya menyiram ke mobil-mobil, malah menyiram ke para pemiliknya.


"Andi, andi yal angi."


Mereka akhirnya mengambil selang masing-masing, saling perang lumpur dan air. Bahkan yang perempuan ikut-ikutan basah.


"Lelobak, uci."


Belum sempat para pedagang itu kabur, Yuki sudah menyiram mereka.


"Tiarap!" teriak Juna, seolah sedang ada di medan pertempuran yang mengancam nyawa.


Vean dan Arya langsung tiarap, bahkan Felix tanpa sadar guling-gulingan dan Steve merayap.


Bianca dan Frisca tertawa.


"Aduuhh, aku jadi mau pipis!" teriak Aila.


Dhea jongkok, menahan perut dan membekap mulutnya rapat-rapat. Takut tawanya nanti dikira bom.