Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 62


Seperti yang di katakan Revin. Setiap pulang sekolah mereka berkumpul dulu di ruang OSIS untuk latihan.


"Guys. Gue ke toilet dulu ya." pamit Jani.


"Mau gue anter nggak.!!" tawar Fani.


"Nggak usah. Gue bisa sendiri." tolak Jani.


"Jangan lama-lama Jan." seru Mia dengan suara cemprengnya.


"Aku bisa kangen pada mu." lanjut Ragil. Yang lain pun berseru heboh saat mendengar gombalan Ragil yang garing.


"Jadi ceritanya berpindah haluan nih.?" tanya Doni.


"Lu klo menghayal jangan terlalu tinggi. Nanti jatuh ke jurang mati." kata Sisil.


"Eh buset.. Lu klo ngomong asal jeplak aja Sil. Klo gue mati nanti kalian pada kangen sama gue. Terutama si Fani dan Jani." kata Ragil dengan pedenya.


"Njiir... Nih bocah pedenya nggak ketulungan. Lu PDKT sama si Fani aja nggak dapet-dapet. Lah ini lu pengen PDKT sama si Jani yang  dinginnya nggak ada tandingannya. Yang ada nanti endingnya lu jadi si Olaf." kata Winda.


"Siapa tuh Olaf.?" tanya Mia.


"Itu tuh temannya si Elsa yang manusia salju." jawab Winda. Membuat semua teman-temannya tertawa.


"Buat cadangan Win. Klo gue nggak dapetin Fani kan masih ada Jani." kata Ragil sambil menaik turun kan alisnya.


"Nih." kata Revin mengangkat tangannya yang mengepal pada Ragil.


"Mampus lu." ledek Vino.


"Canda doang Rev." kata Ragil nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Klo kelakuan lu key gitu. Nggak jadi gue restuin lu sama sahabat gue." kata Mia.


"Jangan dong Mi. Hati gue masih setia ko sama Fani. Pokoknya Fani takan tergantikan." kata Ragil sambil menepuk dadanya. Seketika langsung mendapatkan tatapan tajam dari Fero.


"Apa.?" tanya Ragil santai yang melihat tatapan Fero. "Masa lu udah habis. Sekarang giliran gue yang bahagiakan dia." lanjut Ragil sambil menatap Fani lekat.


Fero semakin menatap tajam ke Ragil. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat.


"Makasih." kata Fani tersenyum manis.


"Ya ampun senyuman mu mengalihkan dunia ku." kata Ragil sambil menaruh kedua telapak tangannya di dadanya.


"Lebay lu." kata Doni sambil menoyor kepala Ragil.


"Sirik aja lu." kata Ragil.


"Tapi gue nggak butuh lu bahagiakan. Karena kebahagiaan itu bisa gue ciptakan sendiri. Gue nggak berharap mendapatkan kebahagiaan dari orang lain. Karena endingnya akan buat gue kecewa. Jadi carilah perempuan yang membutuhkan kebahagiaan dari lu dan perempuan itu bukan gue." lanjut Fani.


Mereka semua tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Fani.


"Hahaha,,,hebat banget lu Fan ngeprank orang. Awalnya lu buat dia terbang tinggi ke angkasa dan endingnya lu buat dia nyungsep ke gorong-gorong." kata Aldi di tengah ketawanya.


"Nggak ada akhlak emang kalian semua. Bahagia di atas penderitaan teman sendiri." kata Ragil dramatis.


Mereka semakin tertawa mendengar perkataan Aldi. Di tambah lagi mendengar perkataan Ragil yang sok dramatis.


Setelah selesai Jani kembali lagi ke ruang OSIS. Tapi saat di pertengahan jalan. Ia melihat Sarah and The Gank yang sedang berjalan menghampiri ke arahnya.


Jani memejamkan matanya sesaat dan menghembuskan nafas perlahan. Sekian lama Sarah tidak mengganggu dirinya dan itu buat hidupnya tenang. Ia sempat berfikir bahwa Sarah tidak akan lagi mengganggu hidupnya. Tapi takdir berkata lain kali ini ia harus di hadapi lagi dengan Sarah.


"Gue perhatikan akhir-akhir ini lu ko di diemin malah semakin ngelunjak ya. Bukannya gue udah sering peringatkan lu untuk jauhi Revin. Tapi semakin ke sini hubungan lu sama Revin semakin mesra." kata Sarah yang sudah berada di hadapan Jani.


"Terus mau lu apa.?" tanya Jani santai.


"Di rumah lu ada kaca nggak sih? Lu ngaca dong. Lu itu nggak pantas untuk Revin. Yang pantas sama Revin itu cuma gue. Jadi lu jauhi dia nggak usah dekat-dekat lagi sama Revin. Ngerti nggak lu." kata Sarah emosi sambil mendorong bahu Jani. Untungnya Jani bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia tidak terjatuh. Hanya terdorong mundur selangkah.


Mendengar perkataan Jani. Sarah mengepalkan kedua tangannya. Saat Sarah ingin melayangkan tamparan untuk Jani. Tetapi tangannya sudah di cekal duluan oleh seseorang.


"Revin." kata Sarah dengan wajah kaget melihat kehadiran Revin.


"Awhhh.. Sakit Rev." rintih Sarah karena genggaman Revin yang sangat kuat di tangannya.


"Jangan pernah lu sentuh milik gue." kata Revin dengan menekan setiap kata.


*Deg*


Jantung Jani berdetak cepat. Ia sangat kaget mendengar perkataan Revin yang mengakui dirinya sebagai miliknya. Di satu sisi ia bahagia karena dengan terang-terangan Revin berkata seperti itu di depan teman-teman sekolahnya. Meski ini sudah jam pulang sekolah tapi masih ada beberapa murid berada di lingkungan sekolah.


Tapi di sisi lain Jani juga sedih karena sampai saat ini pun hubungan ia dan Revin masih tidak jelas. Karena sejujurnya Jani masih bingung dengan apa yang di inginkan oleh hatinya. Ia menginginkan Revin tapi ia juga mengharapkan seseorang di masa lalunya.


"Sekali lagi gue lihat atau dengar lu masih ganggu dia. Lu berhadapan sama gue." lanjut Revin dengan tatapan tajam dan menghempaskan tangan Sarah.


"Lu nggak papa kan.??" tanya Revin khawatir pada Jani. Jani hanya menggelengkan kepalanya.


Melihat perhatian Revin pada Jani. Membuat Sarah semakin marah dan mengepalkan kedua tangannya.


"Gue nggak akan pernah menyerah untuk mendapatkan lu Rev. Dan untuk lu Jani. Tunggu pembalasan dari gue." kata Sarah dalam hati.


"Cabut guys." kata Sarah pada kedua temannya.


"Lu ko ada di sini.??" tanya Jani.


"Ada juga gue yang harus tanya. Lu izin ke toilet udah seperti izin shoping. Lama banget." kata Revin sambil bersedekap tangan.


"Ckk. Lu liat sendiri kan tadi cewek lu yang ngehadang jalan gue." ketus Jani.


"Dia bukan cewek gue dan ayo kita balik ke ruang OSIS. Yang lain udah menunggu kita." kata Revin.


Setelah selesai latihan. Mereka pulang ke rumahnya masing-masing.


🌺  Di Rumah Jani  🌺


Juna dan Jani sedang duduk santai di ruang tv.


"Lu nanti jadi kuliah di Paris ka.??" tanya Juna.


"Nggak tau." jawab Jani singkat yang fokus menonton tv.


"Huffttt.. Nggak bisa kuliah di sini aja ka.??"


Jani melihat ke arah Juna. "Kenapa lu bahas ini sih. Klo emang lu mau kuliah di sini nanti gue yang ngomong ke Papah dan Mamah."


"Terus kita terpisahkan gitu. Lu lupa ka? Dari kecil kita kan selalu bersama meskipun lain kelas."


"Ya terus mau lu gimana.??"


"Emang lu nggak mau kuliah di sini aja ka? Gue perhatikan hubungan lu sama bang Revin sudah lebih baik."


"Terkadang apa yang kita lihat belum tentu itu kenyataannya. Gue cuma nggak mau terus-terusan memberi harapan ke dia. Jika pada akhirnya hati gue masih terikat dengan masa lalu gue... Gue cuma nggak mau dia menganggap gue hanya jadi kan dia pelarian gue aja." jelas Jani.


"Ya makanya lu jelasin ke dia ka. Supaya dia nggak salah faham sama lu."


"Huffttt.. Gue masih belum siap untuk cerita."


"Mau sampai kapan lu seperti ini terus ka? Gue yakin banget klo lu sama bang Revin itu memang sudah di takdirkan untuk bersama. Cepat atau lambat pasti lu bisa melupakan dia."


"Entahlah gue sendiri pun bingung. Gue mau balik ke kamar. Klo lu mau tidur jangan lupa kunci pintu." kata Jani dan pergi meninggalkan Juna sendiri.


"Dasar keras kepala. Klo lu nggak mau cerita. Jangan salahkan gue untuk maju selangkah dari lu." gumam Juna.


Saat Juna sedang asik nonton tv. Terdengar suara bel rumahnya. Juna pun berjalan menuju pintu rumah.