
Ya, seperti itulah caraku mencintaimu ... kak Vean.
Vean menatap dalam manik mata Dhea. Melihat kejujuran dan ketulusan, juga kesungguhan dari gadis itu.
Mereka yang ada di luar, sejak tadi mendengarkan dalam diam. Entah apa yang harus mereka katakan.
Dari Dhea, mereka tahu arti persahabatan ....
Dari Dhea, mereka tahu arti ketulusan ....
Dari Dhea, mereka tahu arti mencintai ....
Dari Dhea, mereka tahu arti keikhlasan ....
Mereka tidak tahu apa bisa menjadi Dhea.
Mereka tidak tahu apa bisa seperti Vean.
Yang bisa mereka lakukan hanya menangis dan menangis. Menangis dalam diam. Tangisan yang diiringi doa untuk semua kebaikan dan kebahagiaan gadis itu.
Mereka berharap, semoga setelah hujan badai ini, maka pelangi akan seger hadir. Mentari akan bersinar cerah dan menghangatkan semuanya.
Fio memejamkan matanya, tubuhnya bergetar, mengingat apa yang telah terjadi sama persahabatan dia dan Dhea.
Dhea, sudah mengorbankan banyak hal. Bukan hanya mengalah tentang Vean, tapi juga memberikan darahnya, dan memberikan ginjalnya untuk Vean.
Sedangkan dia?
Hanya materi yang dia berikan. Baju-baju, tas, sepatu, yang dia pikir itu sangat dibutuhkan oleh Dhea. Nyatanya, semua itu tidak seberharga apa yang telah Dhea berikan padanya.
Mila ikut merasakan penyesalan yang mendalam. Dia bahan dengan sadar dan terang-terangan menyakiti gadis itu, baik hati maupun fisiknya.
Mereka membiarkan Dhea dan Vean berdua saja di dalam sana. Meski mereka tahu, mungkin saja Fio juga ingin ikut ke dalam.
Dhea tidur dengan tenang, dan Vean memandang wajah itu. Menatap dan terus menatap tanpa berkedip. Perlahan mata Vean ikut terpejam. Pergi ke alam mimpi di tengah gemuruh hujan di luar sana. Berharap kalau di alam itu, dia akan mendapatkan ketenangan.
Karena seperti itulah ... caraku mencintaimu.
Bahkan Vean merasa selalu mendengar kata-kata itu. Seperti sebuah bisikan merdu namun juga menyayatkan hati.
Vean tidak tahu bagaimana dia harus membalas perkataan itu.
Tidak ada kata-kata yang tepat, tidak ada kalimat yang sesuai.
...💦💦💦...
Semakin hari, kondisi Dhea semakin menurun.
Brak!
"Apa maksud kalian mengatakan itu?" Bram terlihat sangat kesal saat beberapa orang dokter mengatakan kalau kondisi Dhea sulit untuk bertahan dalam jangka waktu yang lama. Daya tahan tubuh yang melemah menyebabkan semua ini terjadi.
Memang, semua itu hanya sebuah prediksi, Tuhan juga yang menentukan. Dan sebagai seorang dokter, Bram tidak ingin dan tidak akan menyerah.
Pria itu lalu pergi ke ruang perawatan Dhea. Dia akan melakukan apa pun untuk kesembuhan gadis itu. Bukan hanya sebagai seorang dokter, atau perasaan bersalah karena sudah menyetujui pendonoran itu, tapi juga dia sudah menganggap gadis itu sebagai anaknya sendiri.
Sesampainya di dalam kamar perawatan Dhea, Bram langsung mendekati gadis itu dan mengusap keningnya. Mereka yang melihat itu hanya diam saja. Sama sekali tidak ada pikiran buruk. Mereka tahu kalau Bram menyayangi Dhea seperti anaknya sendiri.
Setidaknya, di saat seperti ini, Dhea bisa merasakan kasih sayang seorang ayah dan ibu.
Bram menatap wajah Dhea dan menghela nafas berat.
Bertahanlah, om akan berusaha menyembuhkan kamu.
Friska masuk ke dalam dan membawakan banyak makanan untuk mereka. Mereka terlihat lebih kurus dari yang sebelumnya.