Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
163 Ada Aku Di Sisi Kamu


Juna dan Vean diam saja mendengar cerita Arya dan Dhea. Beruntunglah mereka yang masih memiliki kedua orang tua lengkap dan tidak dibuang.


"Jangan sedih, sekarang ada aku di sisi kamu," ucap Vean, mengusap rambut Dhea.


"Jangan sedih, sekarang ada aku di sisi kamu." Juna mengusap rambut Arya.


"Jir, menjijikkan."


Mereka tertawa, kembali melanjutkan belanja untuk kebutuhan panti.


Vean dan Juna diam-diam ingin merenovasi panti. Memberikan guru-guru privat untuk mengajari anak-anak itu ketrampilan.


Dulu, saat dokter Bram sering berkunjung ke panti-panti, Juna biasa saja. Berpikir cukup memberikan santunan, beres deh.


Ternyata terjun langsung itu lebih menyenangkan, apalagi setelah mengenal Dhea dan Arya lebih dekat.


Dia seperti memiliki keterikatan khusus untuk mereka berdua. Rasa sayang yang besar layaknya saudara.


Hah, andai mereka masih ada.


"Makan siang dulu."


"Ck, aku mau kencan, kenapa malah ada kalian"


Arya dan Juna pura-pura tidak mendengar.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Vean ingin segera mengajak Dhea menikah. Tapi dia juga ingin menikmati masa-masa seperti ini dulu. Dhea masih ingin mengembangkan butiknya, membuka banyak cabang di mana-mana.


Vean tidak mau melarang atau membatasi. Dhea sudah cukup banyak berkorban, dan dia selalu ingin mendukung gadis itu.


Saat ini Dhea sedang ada di rumah orang tua Vean.


"Temani mama masak, ya. Mau, kan?"


"Mau, Tan."


"Panggil Mama saja."


"Iya, Ma."


Friska dan Dhea membuat ikan bakar dan sate lilit bersama. Friska merasa senang, karena dulu dia tidak pernah melakukan ini bersama Fio.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Di dalam ruang kerjanya, Bram melihat foto-foto USB bayi. Pria itu langsung menyembunyikan foto-foto itu saat pintu ruang kerjanya di buka.


"Aku buatkan teh madu untuk kamu."


Bianca meletakkan teh itu di atas meja.


"Bagaimana kalau Minggu depan? Banyak jadwal operasi minggu ini."


"Baiklah. Apa kondisi Dhea baik-baik saja?"


"Iya. Aku terus memantau kesehatannya. Vean, Arya atau pun Juna tidak akan diam saja kalau Dhea sampai lupa kontrol."


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


"Dhea," teriak Aila.


Perempuan itu bari saja kembali dari Singapura. Menenteng banyak barang dan meletakkannya di sofa.


"Nih, aku bawa oleh-oleh untuk kalian semua. Oya, aku ada kabar bagus. Teman aku mau ajak kamu kerja sama dengan perusahaan miliknya."


"Serius?"


"Iya. Minggu depan dia baru ke sini."


Aila mengambil kue kering yang ada di dalam toples.


"Dia punya perusahaan periklanan di sana, juga majalah fashion."


Dhea mengangguk. Semakin banyak orang yang mengenal dirinya, semakin bagus.


Bukannya Dhea gila tenar, tapi ... ck, dia masih saja ingin bertemu dengan keluarganya.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Di tempat kerjanya, Fio menghela nafas berat. Sejak dia memutuskan pertunangan dengan Vean, mamanya masih saja ingin menjodohkan dia dengan anak dari teman-teman Mila.


"Kaya aku enggak laku, saja."


Gadis itu bergumam sendiri. Dia tidak mau dijodoh-jodohkan, ingin mencari sendiri kriteria yang pas untuknya.


"Jangan-jangan papa dan mama juga hasil dari perjodohan? Makanya mama mau balas dendam?"


"Siapa yang balas dendam?" tanya Ronald yang masuk ke dalam ruangan anaknya.


"Pa, Papa sama mama, dijodohkan, ya?"


"Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Pa, bilang napa sama mama, berhenti menjodohkan aku. Nanti kalau sudah saatnya dan ketemu jodohnya, aku bakalan nikah."


"Bilang sendiri sama mama kamu."


"Papa jangan suami takut istri, doang."


"Enak saja! Tenang saja Fio, papa tidak akan lagi membiarkan kamu tertekan."