
"Tahu gak, itu tuh, perempuan yang itu ...."
"Kenapa, Jeng?"
"Dia itu merebut tunangan sahabatnya sendiri!"
"Hah, yang benar. Memangnya siapa yang doa rebut?"
"Calon mantunya jeng Mila."
"Vean? Anaknya jeng Friska?"
"Iya."
"Kamu tahu dari mana, Jeng?"
"Aku kan sering ke rumah jeng Mila, melihat sahabatnya Fio, ya perempuan itu. Beberapa waktu yang lalu, aku melihat dia jalan dengan Vean di mall, bergandengan tangan."
"Ya ampun, cantik-cantik ternyata musuh dalam selimut, ya."
Dhea yang mendengar pembicaraan itu, pura-pura tidak mendengar. Dia sudah menduga ini akan terjadi, tapi tetap saja sakit saat mendengarnya.
Dhea lalu ke toilet dengan memalingkan wajahnya, pura-pura tidak melihat para tukang gosip. Gadis itu menghela nafas berat setelah berada di dalam toilet.
Di tempat lain, Vean sedang rapat. Pria itu meletakkan tangannya di pipi, mendengar laporan keuangan dari manager keuangan. Para karyawannya fokus pada jari kelingking Vean yang terdapat cincin.
Masalahnya, cincin itu terlihat aneh di jarinya. Tidak sampai ke bawah banget, terlihat jelas kalau kekecilan.
Bahkan pria itu sesekali menggosok cincin itu dengan dasinya. Erza memejamkan mata sesaat, melihat bosnya yang seperti ABG.
"Sekian laporan dari saya, Pak."
"Baiklah, tingkatkan terus kualitas produk kita. Kalau setiap bulan mengalami peningkatan, kalian akan mendapatkan bonus."
"Baik, Tuan."
Vean kembali ke ruangannya. Pria itu melirik jamnya, dan melihat sebentar lagi waktunya makan siang.
[Ayo kita makan siang bersama.]
[Aku lagi di luar, Kak. Habis ketemu sama pelanggan.]
[Ya sudah, aku ke sana, ya?]
[Iya.]
Dhea mengirimkan alamat tempat dia berada, ternyata tidak jauh dari perusahaannya. Vean masuk ke dalam, dan melihat keberadaan Dhea.
"Iya, sebentar lagi orangnya datang. Kak Vean pesan dulu."
"Tuh tuh, Jeng. Kalian lihat sendiri, kan?"
"Iya, ya. Duh, kalau anak saya yang punya sahabat seperti itu, pasti langsung saya labrak!"
"Kasihan ya, Fio. Padahal cantik, kaya, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga baik-baik, kurang apa lagi, coba?"
"Saya dengar dari mamanya Fio dulu, katanya dia itu anak yatim-piatu, jadi tidak jelas siapa orang tuanya."
"Jangan-jangan anak haram!"
"Atau anak penjahat!"
Dhea meneteskan air matanya, sedangkan Vean mengepalkan tangannya.
"Jangan ikut campur urusan kami, kalau Nyonya sekalian tidak tahu apa-apa. Aku dan Fio membatalkan pertunangan kami atas kesepakatan kedua belah pihak. Tidak ada yang dirugikan sama sekali, Fio pun tidak masalah dengan hubungan saya dengan Dhea yang bahkan sudah terjalin sebelum saya dan Fio bertunangan!"
Mereka bungkam saat mendengar perkataan Vean. Bukan bungkam karena salah, tapi karena tidak menyangka Vean mendengar perkataan mereka.
"Ayo." Vean membawa Dhea keluar dari kafe itu.
"Dhe ...."
"Aku mau pulang saja, Kak."
Vean membawa Dhea pulang, dan gadis itu langsung masuk ke rumahnya.
Sudah malam, Dhea juga tidak keluar rumah. Lampu rumahnya masih belum dinyalakan.
"Dhea kamu apakan, Vean?"
"Bukan aku, tapi teman-teman mamanya Fio."
"Hah, teman mamaku? Teman mamaku kan, teman mama kalian berdua juga," ucap Fio pada Vean dan Juna.
"Iya juga, ya," sahut Juna.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Arya.
Vean lalu menceritakan apa yang terjadi. Mereka yang mendengar tentu saja ikut sakit hati.
"Tenang saja, aku akan melakukan konferensi pers," ucap Fio.
"Heleh, sok ngartis!" ujar Juna mendelik pada Fio.