Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
154 Tinggalkan Saja Dia


Hari pertama Fio sekolah di sana, gadis itu sudah menarik perhatian banyak pria. Sebenarnya Dhea biasa saja, tidak iri. Dia hanya khawatir nanti Vean pun akan menyukai gadis itu kalau mereka bertemu.


Terlalu besar rasa tidak percaya diri Dhea.


Padahal, mereka itu belum tentu tertarik dengan Fio. Mereka melihat Fio sampai segitunya, karena dia terlihat akrab dengan Dhea, gadis sederhana terpintar di sekolah ini. Selain itu, penampilan Dhea yang sederhana, sangat kontras dengan penampilan Fio yang modis dan mewah.


Selama beberapa hari bersekolah di sini, Fio sering mendengar obrolan orang-orang yang mengatakan kalau Dhea menyukai mantan murid di sini. Mereka yang dulunya satu angkatan atau menjadi senior Dhea, yang menjadi saksi atas tingkah konyol gadis itu.


"Siapa sih, nama cowok itu?" tanya Fio pada salah teman sekolahnya.


"Namanya ...."


"Fio, kamu aku cari-cari dari tadi."


Fio lalu pergi, lupa dengan nama yang tadi ingin dia tanyakan.


"Dhea, ayo dong cerita, siapa cowok itu?"


"Pokoknya dia ganteng, baik. Cuma dia dingin."


"Kenapa kamu suka sama dia?"


"Hm, kenapa ya? Pokoknya aku suka. Meski dia cuek, aku suka. Dia suka manggil aku bocil."


Melihat Dhea yang selalu berbinar saat membicarakan pria itu, membuat Fio membayangkan bagaimana rupa si cowok.


"Tinggalin saja cowok kaya begitu. Sudah berapa tahun nih, kamu ditolak."


"Ih, Fio. Bukannya mendukung malah nyuruh ninggalin."


"Daripada di-PHP-in terus."


"Itu namanya menantang, Fio."


"Bukannya menantang, tapi bodoh!"


"Kamu belum aja bertemu dengan cowok yang kamu suka. Awas, nanti kamu juga seperti aku, mungkin malah lebih parah. Ngejar-ngejar tuh cowok juga."


Fio tidak sadar, kalau perkataannya itu sedikit melukai hati Dhea.


Apa kau tidak punya harga diri, karena mengejar-ngejar kak Vean?


"Jangan-jangan dia gak normal."


"Sembarang!"


"Coba sini ketemuin sama aku. Kalau dia sampai tidak terpesona dengan aku, berarti benar dia gak normal."


Lagi-lagi Dhea menatap Fio dengan pandangan yang sulit diartikan. Mungkin bagi Fio, itu hanya candaan saja. Tapi bagi Dhea, tentu saja berbeda. Dhea tahu, Fio punya segalanya, bisa mendapatkan apa saja yang dia mau.


Kamu boleh kaya dan memiliki segalanya. Memiliki apa yang tidak aku punya. Tapi jangan rebut kak Vean-ku.


Apa kamu bermaksud ingin menggodanya? Ingin menegaskan padaku, pada orang-orang, kalau kamu bisa memiliki segalanya. Memiliki apa yang tidak aku miliki? Dan apa jika aku meminta Kak Vean padamu, maka kamu akan memberikannya padaku? Memberikan karena rasa kasihan. Memberikan dia seperti kamu memberikan baju-baju, tas dan sepatu mahal dengan begitu mudahnya?


Aku memang miskin Fio, tapi aku bukan pengemis.


Kak Vean bukan barang yang bisa dipindah tangankan begitu saja.


Dhea meremas tangannya. Wajahnya terasa panas, begitu juga dengan hatinya.


Dhea menghela nafas pelan berkali-kali. Rasanya tidak nyaman sekali dengan suasana hatinya saat ini.


"Tahu, gak? Di sana banyak cowok yang suka sama aku, tapi aku enggak suka. Aku punya kriteria khusus untuk cowok yang aku suka."


Dan aku harap, itu bukan kak Vean, batin Dhea penuh harap.


Mata Fio menerawang, dia membayangkan tipe cowok yang akan menjadi pendampingnya nanti.


"Kalau dia masih menolak kamu, lebih baik kamu tinggalkan saja dia. Kaya enggak ada cowok lain saja!"


"Kalau ada seorang pria yang sangat kamu sukai, apa kamu bisa melepaskan dia begitu saja?"


Jangan sok menasehati orang lain, kalau diri sendiri belum tentu bisa melakukannya ....