Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
157 Dipelet?


Fio yang diam-diam mengamati Dhea yang sekarang terlihat lebih pendiam, hanya bisa menghela nafas.


Kapan kamu akan mengatakannya padaku? Kapan kamu meminta aku untuk meninggalkan Vean demi kamu?


"Ma, aku gak mau tunangan sama Vean. Aku tuh gak cocok sama dia, Ma. Dia terlalu datar, membosankan!"


"Ya kamu yang seharusnya bisa mengimbangi dia. Lagian mama sudah bujuk-bujuk mamanya Vean biar mau menjodohkan kalian, masa kamu atau mama yang malah membatalkan."


"Hah? Jadi Mama yang ingin menjodohkan aku? Mama ih, malu-maluin, deh. Kaya aku enggak laju saja. Aku ini cantik, kaya, dan pintar, masih banyak cowok yang bakalan suka sama aku."


"Justru itu, karena kamu cantik dan kaya, jangan sampai kamu dapat pria yang asal-asalan."


Ish, salah strategi!


"Kenapa tidak dijodohkan dengan Juna saja?"


"Pokoknya kamu tinggal terima beres saja."


Terima beres apaan? Memangnya lagi ngapain? Ngajuin kontrak kerja sama?


...💦💦💦...


Fio sengaja mendekatkan Dhea dengan Juna. Selain takut nanti dia benar-benar menikah dengan Vean dan Dhea patah hati, juga ingin tahu reaksi Vean.


Tenang saja Dhea, aku akan membantu kamu membaut Vean menyukai kamu. Kalau tidak juga ... ah, pokoknya harus.


Emang nih si Vean. Dasar cowok datar nyebelin. Dikira dia ganteng apa? Sampai berpikir diperebutkan dua sahabat kece badai seperti ini!


Di satu sisi, Fio ingin membuat Vean menyukai Dhea. Di sisi lain, Mila terus memaksa Fio untuk mendekati Vean.


Jika Fio mengeluhkan tentang Vean yang terlalu cuek, agar mereka bisa batal bertunangan. Maka Mila akan cerita tentang sikap Vean pada Friska. Lalu Friska akan mengeluhkan sikap putranya itu pada Vean, membaut Vean semakin senang membuat Fio kesal.


Fio sendiri juga kadang berharap Vena kesal dengan dirinya, lalu pria itu sendiri yang akan membatalkan perjodohan mereka.


Tapi ....


Kekerasan hati dan keinginan Mila yang sangat ambisius membuat semuanya susah.


"Jangan sampai calon suami kamu direbut sama Dhea. Benar apa yang mama katakan, kan? Si Dhea itu pasti suka sama Vean."


Bukan selama ini Mila tidak memperhatikan, kalau Vean dan Dhea diam-diam suka curi pandang. Mungkin sebenarnya yang lain juga—kalau mereka peka, tahu akan hal itu.


Beberapa hari menjelang pertunangan


Bagaimana caranya aku membatalkan ini? Apa kabur dari acara? Apa aku pura-pura hamil anak pria lain saja, ya? Ish, yang ada aku digorok kalau enggak langsung dinikahkan begit saja sama cowok yang aku sendiri tidak tahu, siapa yang bisa diajak kerja sama.


"Vean, ayo ke butik. Aku mau beli gaun dan yang lainnya untuk Dhea."


Lagi-lagi Fio meminta Vean yang memilih untuk Dhea.


"Dhea Haris cantik banget hari itu. Siapa tahu saj akan, dia ketemu dengan jodohnya. Apa jangan-jangan jodohnya, Juna? Mereka cocok ya, Vean?"


"Oya, dulu Dhea sering cerita tentang cowok yang dia suka. Sudah dia sukai sejak SMP. Tapi tuh cowok bego banget, nolak Dhea. Aku sumpahin tuh cowok malah jatuh cinta sama Dhea sampai gagal move on, tapi ditinggal jauh sama Dhea. Mampus kan, tuh!"


Vean mendelik kesal pada Fio.


"Tapi tahu enggak, Dhea udah gak pernah cerita lagi tentang tuh cowok. Mungkin Sidah dapat pengantinnya. Jangan-jangan Juna? Wah, kalau mereka menikah, pasti punya anak yang lucu."


Vean mengepalkan tangannya, hatinya memanas.


"Dhea itu di sekolah, banyak yang suka. Dari yang satu angkatan, kakak kelas, bahkan adik kelas."


"Kali aku jadi Dhea, sudah sejak dulu tuh aku tinggalin cowok gak berguna kaya begitu. Masih banyak kok cowok berkualitas lainnya, kaya enggak ada cowok lain aja."


Vean ingin sekali mengeplak cewek di sebelahnya ini.


Ngeselin!


"Jangan-jangan, Dhea dipelet?"


Njir!