
"Ayo pulang ...."
Dhea hanya tersenyum, masih menatap Vean dengan tatapan hangat.
Dhea hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak akan ikut bersama Vean.
"Dhea, aku mohon. Kembalilah."
"Dhea ... Dhea ... Dhea ...." Vean terus saja bergumam.
"Vean, Vean."
Vean tersentak, Juna mengguncang tubuh pria itu yang tertidur di samping brankar Dhea.
"Jangan tidur di sini."
Vean langsung berdiri, membawa buku yang masih ada dalam pegangan tangannya itu. Vean menghempaskan tubuhnya ke sofa, dan heran melihat kedua orang tuanya, Fio dan kedua orang tua Fio yang juga ada di sana.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa.
Di dalam sana, Dhea mulai menggerakkan tangannya. Hanya sebentar saja, dan tangan yang tadi selalu digenggam oleh Vean itu kembali diam.
Di sana, Dhea merasakan kehampaan di dalam tangannya, padahal sebelumnya merasakan hangat, seolah ada yang menggenggamnya dengan erat.
Dhea memandang dua balon yang masih bergerak liar di atasnya, seolah memanggilnya untuk menyentuh salah satunya.
Putih, seperti salju ....
Dia meraih tali balon putih itu ....
Dan ....
Suara alarm dari dalam kamar ICU membuat dokter Bram memasuki kamar itu dengan terburu-buru. Monitor menunjukkan garis diagram yang melemah.
Vean ingin masuk, tapi dicegah oleh Arya. Lagi-lagi mereka harus menunggu di luar, menunggu Dejan rasa cemas. Meski dokter sudah berkali-kali mengatakan kalau Dhea susah untuk bertahan lebih lama lagi.
Vean memegang erat buku di tangannya. Perasaannya kacau. Saat tidur di samping brankar Dhea tadi, dia sangat ingat dirinya bermimpi, tapi bukan mimpi yang menyenangkan.
Sakit, itu yang dia rasakan. Vean memegang dadanya.
Ada perasaan takut.
Perasaan takut seperti dulu. Takut kalau mimpinya akan menjadi kenyataan. Tidak, dirinya tidak siap untuk ditinggalkan dengan cara seperti ini, bahkan tidak pernah siap sampai kapan pun.
Bram memompa jantung Dhea, sambil melirik monitor, berharap semua akan kembali normal.
Tapi tidak ....
Titttt
"Dhea, Dhea!"
Dia gagal, dia telah gagal.
Rasa sakit itu lebih dari apa pun, lebih sakit dari semua pasien yang pernah dia tangani.
Kenapa kamu menyerah?
Vean yang mendengar suara dokter Bram yang berteriak, langsung membuka pintu.
Dilihatnya monitor yang menunjukkan garis putus-putus.
"Dhe! Dhea, bangun. Bangun!"
Vean mengguncang tubuh Dhea dengan kencang, berharap dengan begitu, dia akan membuka matanya.
"Tidak, tidak. Ini pasti mimpi. Sama seperti dulu. Kamu tidak mungkin meninggalkan aku begitu saja kan, Dhe?"
"Bangun, bangun."
Mereka hanya bisa menangis.
Tidak, kali ini Vean tidak bermimpi.
Semua ini memang nyata, Dhea sudah pergi. Pergi meninggalkan raga dan segala kenangan yang pernah tercipta.
Fio membekap mulutnya, mendekati Dhea.
"Dhea, bangun!" teriaknya. Air matanya keluar, memberikan rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan.
Fio ingin memeluk Dhea, tapi tubuhnya langsung didorong oleh Vean.
"Minggir!" teriaknya.
Vean memeluk Dhea dengan erat. Memeluk tubuh yang terasa dingin itu. Hatinya sakit, lebih sakit dari saat dia bermimpi dulu.
Mereka berusaha melepaskan Vean dari Dhea, tapi Vean mendorong mereka. Tidak ada yang boleh memisahkan dirinya dengan Dhea.
Tidak ada yang boleh, meski apa pun yang terjadi.
"Dhea, bangun. Tolong maafkan aku. Aku mohon maafkan aku." Vean memeluk tubuh itu semakin erat, berharap Dhea akan bangun.
"Buka mata kamu. Jangan tinggalkan aku seperti ini. Aku mohon. Bangun, bangunn!" isaknya menjerit.
"Sayang, bangun, Sayang. Aku mencintaimu, aku mencintai kamu. Apa kamu dengar? Aku mencintai kamu, sungguh ...."
Fio menunduk, menangis saat mendengar Vean mengatakan kata-kata itu. Dia mengusap air matanya.
Akhirnya, kata-kata itu terucap juga dari mulut Vean ....