
Vean kembali menghubungi William.
"Ya, Tuan?"
"Kamu yakin hanya ini? Tidak ada yang terlewat?"
"Itu sudah semua, Tuan."
"Kenapa tidak ada nama Dhea, di sini?"
Ya kenapa harus bertanya? Itu karena jawabannya sudah jelas, Dhea tidak pernah kuliah di Amerika.
Vean kado teringat dulu saat dia ke Amerika, William pernah menawarkan untuk bertemu dengan para mahasiswa yang berasal dari Indonesia. William juga menawarkan untuk memberikan daftar nama apes mahasiswa, hanya saja dirinya yang menolak.
Andai saat itu dia tidak menolaknya.
Anda saat itu dia mau membaca dan bertemu dengan mereka, pasti Vean akan langsung tahu kalau tidak ada Dhea di sana.
Begitu juga dengan Juna. Dia jadi ingat saat ke Amerika dulu, mencari Dhea di berbagai rumah sakit tapi tidak ada.
Langit mulai berubah warna, mereka baru sadar kalau hari telah pagi.
"Sebaiknya kalian semua pulang," ucap Bram.
"Juna, ajak mama kamu pulang."
"Baik, Pa. Ayo, Ma."
Bianca menatap Bram, lalu menatap Juna.
"Mama juga ingin punya anak perempuan seperti Dhea. Kalau bukan sebagai menantu, maka mama akan mengangkatnya sebagai anak."
Wajah Vean kembali terangkat. Dia lalu melihat kedua orang tuanya sendiri. Wajah kedua orang tuanya terlihat masih syok, sama seperti dirinya.
Siapa yang mengira kalau Dhea lah yang telah mendonorkan ginjalnya. Pantas saja selama ini Arya dan Bram tidak suka ada yang menghina gadis itu. Orang yang sudah mengorbankan banyak hal, dihina sedemikian rupa, siapa yang tidak akan sakit hati?
Dhea sudah mengorbankan ginjal dan masa depannya untuk putra mereka satu-satunya. Bagaimana cara mereka membalas budi?
Dhea pun pasti akan menolaknya. Ini sebabnya dia memilih diam dan pergi jauh.
"Pulanglah! Aku akan memberikan kabar kalau dia sudah sadar," ucap Bram sekali lagi.
Candra akhirnya mengajak Friska pulang.
Begitu juga dengan Clara, Aila, Sheila, Felix dan Steve. Bukannya karena tidak mau menunggu, tapi menjaga pasien juga butuh kondisi tubuh yang sehat. Mereka akan membawa baju ganti untuk bergantian menjaga Dhea.
Dhea sudah tidak memiliki keluarga, tapi dia masih memiliki sahabat yang akan menyayangi dia.
Ronald juga mengajak Fio dan Mila. Tetap di sini akan memperkeruh keadaan. Biar mereka bicara nanti, di saat suasana sudah membaik.
Tinggal Bram, Arya dan Vean.
Jogjakarta
Bagaimana bisa Dhea ada di sana? Tempat yang tidak terlalu jauh dari mereka.
Masih banyak yang ingin Vean ketahui tentang Dhea. Dia akan mencari tahunya sendiri. Dia tidak akan lagi bertanya pada mereka, karena merasa dibohongin.
Dia tidak akan bertanya pada dokter Bram. Tidak akan bertanya pada Arya atau Clara. Dia tidak akan lagi mempercayai siap pun.
Tangannya terkepal.
Kenapa mereka tega membohongi dirinya?
Kenapa tidak jujur saja dari awal?
Setidaknya dia berhak tahu. Pada akhirnya, dia pun tahu. Tahu di saat yang tidak terduga, di waktu yang telah lama berlalu.
Wajah pucat itu, apa dia begitu kesakitan? Dia menahannya seorang diri. Bersikap seolah dirinya baik-baik saja.
Bahkan dia tidak pernah cerita pada teman-temannya. Kenapa?
Kenapa aku harus tahu dengan cara seperti ini?
Vean memejamkan matanya. Masih dia ingat dengan jelas bagaimana Dhea yang merintih kesakitan. Bagaimana darah segar itu keluar dari hidungnya.
Dan bagaimana dia berkata sudah tidak kuat lagi untuk bertahan ....